Entah apa pun genrenya, pasti ada film yang selesai ditonton lalu langsung terlupakan. Ada juga film yang membuat penonton diam beberapa saat setelah kredit penutup muncul, seolah-olah otak masih sibuk mencerna apa yang baru saja terjadi. Nah, Film Decorado termasuk di kategori kedua.
Film animasi ini bukan tontonan banyak tawa ringan atau petualangan hangat khas keluarga. Sebaliknya, ini semacam mimpi yang bercampur dengan kecemasan hidup orang dewasa. Aneh, absurd, kadang lucu, tapi diam-dia meninggalkan rasa sesak.
Di tengah maraknya film yang mempertanyakan realita, mulai dari isu kecerdasan buatan, manipulasi digital, sampai teori ‘manusia mungkin hidup dalam simulasi’, kini Film Decorado muncul membawa pertanyaan yang lebih ganjil: bagaimana jika dunia ini hanyalah panggung sandiwara besar dengan dekorasi? Dan lebih menyeramkan lagi, bagaimana jika kita nggak bisa keluar darinya?
Film animasi berdurasi ±95 menit ini disutradarai sekaligus ditulis Alberto Vazquez bersama F. Xavier Manuel. Nama Vazquez sendiri bukan sosok asing di dunia animasi alternatif. Sebelumnya, dia pernah bikin Film Birdboy: The Forgotten Children dan Film Unicorn Wars, yang sama-sama membawa gaya visual unik dan kritik sosial tajam.
Deretan pengisi suara yang terlibat juga cukup kuat. Ada Asier Hormaza sebagai Arnold, tokoh utama yang perlahan kehilangan keyakinan. Lalu Aintzane Gamiz sebagai Maria, istrinya yang menjadi titik emosi cerita. Selain itu hadir pula Kandido Uranga, Mikel Garmendia, Jose Felipe Auzmendi, hingga Ander Vildosola yang mengisi berbagai karakter dalam dunia absurd film ini.
Penasaran dengan kisahnya? Kepoin bareng, yuk!
Sekilas Kisah Film Decorado
Film tayang perdana di Fantastic Fest pada 21 September 2025 ini mengisahkan Arnold, tikus paruh baya yang hidupnya sedang berantakan. Dia menganggur, kehilangan arah, dan baru saja berhenti mengonsumsi pil kebahagiaan yang selama ini diwajibkan oleh perusahaan tempat dirinya bekerja.
Masalahnya, setelah berhenti minum obat itu, Arnold mulai memandang dunia secara berbeda. Dia mulai percaya tempat tinggalnya bukan dunia sungguhan, melainkan hanya dekorasi panggung. Kota tempat dirinya hidup baginya kayak set raksasa yang diatur kekuatan nggak terlihat.
Sementara itu, Maria (istrinya) menjadi satu-satunya pencari nafkah lewat pekerjaannya sebagai seniman. Namun Maria juga sedang nggak baik-baik saja. Dia dihantui rasa nggak aman, tekanan emosional, dan depresi yang bahkan divisualisasikan dalam bentuk sosok ‘Peri Depresi’ yang terus membayanginya.
Keadaan menjadi semakin aneh ketika dunia di sekitar mereka diperlihatkan sepenuhnya dikendalikan perusahaan besar bernama ALMA (Almighty Limitless Megacorporative Agency). Organisasi raksasa itu mengatur hidup warga, mengawasi setiap gerakan, dan bahkan menentukan standar kebahagiaan.
Konon hanya ada satu jalan keluar dari tempat itu: menembus hutan misterius. Namun masalahnya, siapa pun yang mencoba kabur tampaknya nggak pernah kembali.
Di titik itulah film mulai mengajak penonton masuk lebih dalam. Apakah Arnold kehilangan akal sehatnya, atau dia satu-satunya yang melihat kenyataan sebenarnya?
Review Film Decorado
Saat mulai nonton Decorado, aku sempat mengira film ini akan menjadi kisah misteri berisi banyak teori konspirasi tentang realita palsu. Yup, premisnya memang mengarah ke sana. Tokoh utama merasa dunia hanyalah panggung buatan, ada perusahaan misterius yang mengendalikan semuanya, dan suasana film terus menebarkan rasa paranoia.
Namun semakin lama aku nonton, film ini ternyata berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dekat ketimbang teori simulasi atau dunia palsu.
Film ini berbicara tentang kelelahan hidup. Itulah yang tergambarkan Arnold dan Maria. Mereka memang hanya tikus dalam dunia animasi, tapi hubungan mereka terasa sangat related. Mereka tuh dua karakter yang sedang berusaha bertahan di tengah hidup yang perlahan menguras tenaga mereka.
Aku suka dengan bagaimana film ini nggak terburu-buru menjadikan Arnold sebagai sosok ‘orang gila’ atau pahlawan yang menemukan kebenaran tersembunyi. Sebaliknya, film ini membiarkan kita ikut tenggelam dalam kebingungannya.
Dan visualnya itu lho, cantik banget. Dunia ciptaan Alberto Vazquez ibarat kartun masa kecil yang dipelintir menjadi mimpi buruk eksistensial orang dewasa. Warnanya cerah, karakternya lucu, tapi suasananya suram. Ada burung hantu raksasa yang mengawasi warga. Ada polisi anjing brutal. Ada makhluk aneh di setiap sudut kota. Dan semuanya absurd dengan cara yang anehnya tetap masuk akal.
Aku juga suka bagaimana animasinya sangat ekspresif. Gerakan kecil, tatapan kosong, hingga ekspresi lelah karakter mampu menyampaikan emosi tanpa banyak dialog berlebihan.
Meski begitu, film ini nggak sempurna kok. Beberapa 'pesan yang mau disampaikan' terlalu terang-terangan. Beberapa adegan menjelang akhir yang memecahkan dinding keempat juga agak mengganggu. Saat film sudah berhasil membangun rasa takut dan paranoia secara perlahan, elemen semacam itu agaknya mengurangi daya pikatnya deh.
Begitulah, Sobat Yoursay. Intinya, nggak ada yang sempurna di dunia ini, termasuk dengan film. Soll bagus atau nggak pada dasarnya tergantung selera. Jadi, selamat nonton dan nikmati kisahnya tanpa terdistraksi ulasan ini.
Baca Juga
-
Review Lingsir Wengi: Tembang Jawa, Mitos, dan Teror di Motel Tua Malioboro
-
Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar
-
Review Film Siti Si Vampir: Satir Kelas Sosial yang Kurang Menggigit?
-
Review Paralyzed by Hope: The Maria Bamford Story, Tawa dan Luka Mental
-
Review The Disciple: A Wu-Tang Fable dan Ironi Album Eksklusif Wu-Tang Clan
Artikel Terkait
-
Sinopsis Film Supergirl yang Siap Tayang di Bioskop: Saat Sepupu Superman Menemukan Jati Dirinya
-
Bukan Sekadar Game, Bima Azriel Ceritakan Pesan Mendalam di Film Nobody Loves Kay
-
Nobody Loves Kay Tampilkan Konflik Keluarga dan Sahabat, Angkat Kisah Sukses Pro Player Kairi Onic
-
Sinopsis Elysium di Bioskop Trans TV Malam Ini: Gambaran Bumi Masa Depan yang Hancur dan Sekarat
-
Bullet Head: Ketika Penjahat Kelas Kakap Terjebak dalam Labirin Maut, Malam Ini di Trans TV
Ulasan
-
Review Laut Bercerita: Kisah Pilu Perjuangan Aktivis Melawan Orde Baru
-
The Lament of Autumn: Drama Republik dalam Vibes Love Hate yang Bikin Baper
-
Review Burning: Tentang Misteri yang Mungkin Hanya Ada di Kepala Kita
-
Review Buku Hidden Figures: Saat Kecerdasan Tidak Mengenal Ras dan Gender
-
Refleksi Mariposa 2: Belajar Mengerti Komitmen & Kedewasaan dalam Asmara
Terkini
-
Bias Dunia Kerja Modern: Menyoroti Gengsi CV Bahasa Inggris di Mata Gen Z
-
Ruang Publik Bebas Rokok Adalah Hak Kita Semua
-
Sinopsis Coming to Myself, Dracin Jing Tian dan Zhang Xin Cheng di WeTV
-
Segarkan Kulit Kusam! 4 Pilihan Masker Semangka untuk Wajah Cerah Berseri
-
Tayang 4 November, Intip Sinopsis Drakor Fantasi The Remarried Empress