M. Reza Sulaiman | Taufiq Hidayat
Rumah Kertas. Sebuah novela tentang kegilaan seorang kolektor buku dan peringatan halus agar tidak membiarkan obsesi literasi menguasai hidup. (Dok.Pribadi/Taufiq)
Taufiq Hidayat

"Sastra sanggup merenggut nyawa seseorang dari dunia ini." Pernyataan provokatif Profesor Robert Laurel dalam novel Rumah Kertas karya Carlos Maria Dominguez ini seketika membuat saya merenung. Ia merujuk pada Bluma Lennon, seorang pengajar di Universitas Cambridge yang tewas tertabrak mobil justru saat ia sedang asyik membenamkan diri dalam kumpulan puisi Emily Dickinson. Kematian Bluma menjadi gerbang pembuka bagi tokoh "Aku" untuk menelusuri misteri sebuah buku berkerak semen Portland yang dikirim dari Uruguay oleh sosok misterius bernama Carlos Brauer.

Sinopsis: Perjalanan Melacak Sang Pencinta Buku

Setelah kematian Bluma, tokoh "Aku" mengambil alih tugas mengajarnya dan memutuskan untuk melacak pengirim buku Joseph Conrad yang aneh tersebut ke Uruguay. Melalui informasi dari Jorge Dinarli dan Agustin Delgado, dimulailah perjalanan menguak kehidupan Carlos Brauer—seorang pencinta buku yang kegilaannya melampaui logika.

Judul Rumah Kertas sendiri merujuk pada tindakan ekstrem Carlos yang menjadikan ribuan koleksi bukunya sebagai material bangunan untuk tempat tinggalnya. Sebuah tindakan yang mungkin dianggap gila oleh orang awam, namun memiliki alasan mendalam bagi seorang Brauer.

Dikotomi Pencinta Buku dan Bahaya Obsesi

Melalui novela tipis yang tak sampai 100 halaman ini, Dominguez membedah dunia para bibliomania menjadi dua kategori. Pertama adalah kolektor; mereka yang menghimpun buku tanpa mempedulikan biaya, meski buku tersebut hanya untuk dipajang dan disentuh tanpa tahu kapan akan dibaca. Kedua adalah kutu buku; mereka yang membangun perpustakaan pribadi berdasarkan buku-buku yang telah tuntas dilahap.

Menariknya, buku ini juga memotret kebiasaan unik para pembaca. Ada yang membaca sambil mencatat di kertas terpisah seperti Delgado, ada pula yang senang "mengotori" pinggiran halaman buku dengan pemikiran pribadinya seperti Carlos. Perbedaan kebiasaan ini menciptakan variasi karakter yang unik, sekaligus memperlihatkan betapa personalnya hubungan manusia dengan buku.

Alur yang Datar dan Kendala Terjemahan

Meskipun banyak mendapat ulasan positif dari berbagai pihak, saya harus jujur bahwa pengaruh buku ini tidak sekuat yang saya bayangkan. Ceritanya terasa cukup datar karena alurnya lebih berfokus pada proses pencarian tanpa banyak peristiwa dramatis. Saya juga merasakan kendala pada struktur kalimat terjemahannya yang terasa kaku, sehingga membaca buku tipis ini memakan waktu yang sama dengan membaca novel setebal 200 halaman.

Selain itu, dominasi karakter Carlos Brauer dalam cerita sering kali menenggelamkan peran tokoh "Aku". Sebagai pembaca, saya sebenarnya lebih berharap bisa mengenal Carlos secara langsung melalui suaranya sendiri, bukan sekadar lewat penuturan orang lain.

Batas Antara Kecintaan dan Kegilaan

Nilai terpenting yang saya petik dari Rumah Kertas adalah kewaspadaan terhadap pesona buku. Buku memang sumber pengetahuan, namun obsesi yang berlebihan justru bisa menenggelamkan kehidupan pemiliknya. Saya mencintai kegiatan membaca, namun saya tidak ingin buku mengendalikan hidup saya, apalagi sampai menyulap ruang tinggal saya menjadi labirin kertas yang menyesakkan.

Buku ini adalah pengingat yang baik untuk memiliki batasan yang jelas dalam rasa kepemilikan. Buku bisa rusak atau hilang, dan kita tidak boleh membiarkan kegelisahan menguasai diri hanya karena kecintaan yang melampaui batas terhadap benda mati. Bacalah buku, tapi jangan biarkan ia memenjarakanmu. Jika menyenangkan sebarkan, jika tidak, beri tahu!

Identitas Buku:

  • Judul: Rumah Kertas
  • Penulis: Carlos Maria Dominguez
  • Penerjemah: Ronny Agustinus
  • Ilustrasi: Melia P. Khoo
  • Penerbit: Marjin Kiri Publisher
  • Terbit: Oktober 2016, cetakan kedua
  • Tebal buku: vi + 76 halaman
  • ISBN: 9789791260626