Bagaimana jika iblis tidak datang dengan tanduk dan wajah menyeramkan, melainkan berwujud remaja lugu, ibu rumah tangga, ayah yang tampak bijak, kekasih posesif, atau sahabat yang setia? Pertanyaan itulah yang dijawab dengan tajam dalam antologi Iblis di Pekarangan, karya Akiyoshi Rikako bersama 13 penulis Indonesia.
Buku ini memuat 14 cerita yang menggali satu tema besar: iblis dalam diri manusia. Bukan makhluk supranatural, melainkan sisi gelap yang tumbuh dari ambisi, trauma, iri hati, dendam, cinta buta, hingga obsesi akan kesempurnaan.
Penampakannya beragam, motifnya kompleks, dan dampaknya mengerikan. Membaca buku ini seperti diajak menyusuri lorong batin manusia. Kadang membuat bulu kuduk berdiri, kadang membuat kita terdiam miris.
Isu-isu yang diangkat pun tidak main-main. Penyalahgunaan narkoba, terorisme, human trafficking, patriarki, KDRT, pinjaman online, pandemi, hingga gerakan separatisme hadir sebagai latar sosial yang memperkaya konflik.
Setiap cerita menawarkan sudut pandang berbeda tentang bagaimana kejahatan bisa tumbuh dari luka yang tak sembuh atau dari keserakahan yang dipelihara. Salah satu insight paling kuat dari buku ini adalah: suatu kejahatan dapat menjadi benih bagi kejahatan lainnya. Rantai itu terus berputar jika tidak diputus.
Cerpen pembuka, Nan karya Lia Nurida, langsung memberi efek kejut. Tanpa basa-basi, pembaca disuguhi tindakan ekstrem yang memancing tanya: apa motifnya? Nuansa teenlit yang sempat terasa ringan justru menjadi jebakan sebelum ending yang mindblowing. Obsesi dan cinta yang membabi buta digambarkan begitu nyata. Hingga orang lain seolah hanya penghalang yang harus disingkirkan.
Beranjak ke 60 Menit Bersama Audi karya Dina Pandan, ketegangan meningkat drastis. Dengan simbol jam pasir, cerita ini bergerak cepat bak adegan kejar-kejaran film aksi. Seorang ibu nekat merampas mobil demi memeluk kembali anaknya. Dinamika konflik masa lalu dan masa kini disajikan filmis, ditutup dengan plot twist serta open ending yang menampar. Simpati, panik, dan adrenalin bercampur jadi satu.
Kengerian semakin terasa dalam The Worst Roommate karya Daras Resviandira. Dengan simbol pisau, cerita ini menghadirkan tensi mencekam yang mengingatkan pada atmosfer horor klasik: dingin, senyap, dan penuh prasangka. Perspektif dua tokoh perempuan urban dengan obsesi karier menuntun pembaca pada konklusi berdarah yang tragis.
Sementara itu, The Lady Out of Prison karya Yoseph Setiawan bermain dengan timeline yang meloncat-loncat. Ada kejar-kejaran, wasiat misterius, hingga peti mati yang menyimpan rahasia. Cerita ini terasa seperti skrip serial yang padat, menyisakan kesan absurd sekaligus mengundang diskusi.
Kontribusi Akiyoshi Rikako lewat cerpen Backyard menjadi salah satu yang paling berkesan. Dengan simbol sekop, cerita ini padat dan pekat. Gaya lugas khas “Ratu Iyamisu” menghadirkan teror psikologis yang efektif tanpa perlu banyak ornamen. Sensasinya ganjil: ngeri, kesal, tetapi juga puas saat plot ditutup rapi.
Cerita lain seperti Galojo (M. Fadli) dengan nuansa deduktif ala misteri klasik, Pembersih Tidak Membunuh (Ayu Welirang) yang ekspresif dan sadis, hingga Metode Gelap (Yudo Nugroho) yang sarat intrik politik dan spionase, menunjukkan keberagaman teknik dan gaya. Zugzwang: The Endgame karya Vie Asano bahkan menampilkan empat POV dalam satu cerpen dengan rapi, menghadirkan puzzle naratif yang cerdas dan penuh twist.
Menariknya, hampir tidak ada tokoh yang hadir sia-sia. Setiap karakter seperti kepingan puzzle yang diperhitungkan. Hint tersebar halus, mengajak pembaca aktif menebak sebelum akhirnya dikejutkan oleh konklusi.
Secara keseluruhan, Iblis di Pekarangan bukan sekadar kumpulan cerita thriller. Ia adalah refleksi sosial tentang rapuhnya batas antara kebaikan dan kejahatan. Buku ini membuat kita bertanya: apakah iblis benar-benar berada di luar sana, atau justru bersemayam di dalam diri kita, menunggu momen untuk bangkit?
Antologi ini cocok bagi pembaca yang menyukai cerita gelap, penuh teka-teki, dan kaya lapisan psikologis.
Identitas Buku
- Judul: Iblis di Pekarangan
- Penulis: Akiyoshi Rikako & 13 Penulis Indonesia
- Penerbit: Penerbit Haru
- Tahun Terbit: 2024
- ISBN: 978-623-546-73-3-7
- Tebal: 308 halaman
- Genre: Misteri-Thriller, Antologi Cerpen
Baca Juga
-
Pemerintah Gemar Solusi Instan, Siapa yang Menyelesaikan Akar Masalah?
-
Protein Hewani Mahal: Ketika Negara Maritim Gagal Memenuhi Gizi Rakyatnya
-
Berhenti Meromantisasi Kemiskinan! Rakyat Bukan Peserta Lomba Bertahan Hidup
-
Syarat Kerja Selangit, Gaji UMR: Ekspektasi yang Tak Masuk Akal?
-
Sekolah Kekurangan Guru, Honorer Dibiarkan: Siapa yang Bertanggungjawab?
Artikel Terkait
-
Terjebak Utang Demi Story Estetik? Pelajaran Hidup dari Buku Yang Mahal Gengsi Kita
-
Pergulatan Moral Kolonial dalam Kumpulan Cerpen Teh dan Pengkhianat
-
Lika-Liku Hidup Santri di Buku Setegar Batu Karang, Seindah Senja Sore
-
Rumah Kertas: Ketika Cinta Buku Kelewat Batas Sampai Jadi Tembok Rumah
-
Retak Keluarga oleh Harta, Pantaskah? Membaca Novel Alpha Girls
Ulasan
-
Room No. 7: Saat Persoalan Finansial Mengikis Moral dan Empati Seseorang
-
Review The Mongoose: Ketika Veteran Tangguh Menghadapi Fitnah dan Maut!
-
Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar
-
Insidious: Out of the Further, Petualangan Baru Melintasi Dua Dimensi
-
Beautiful Pain: Kisah Nyata Perjuangan Perempuan Bangkit dari Luka KDRT
Terkini
-
Tecno Megabook K15S Resmi di Indonesia, Laptop Ryzen 5 dengan Baterai 70 Wh Seharga Rp8,5 Juta
-
Bingung Mulai Investasi? New BIONS by BNI Sekuritas Bikin Semua Jadi Mudah
-
Mencegah Kriminalisasi Kebijakan Tanpa Meloloskan Korupsi
-
Romantis! Alpha Drive One Bahas Koneksi Emosional di Lagu Baru, Talk To Me
-
Pemerintah Gemar Solusi Instan, Siapa yang Menyelesaikan Akar Masalah?