Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Setegar Batu Karang, Seindah Senja Sore (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Saat membaca judulnya puitis, Setegar Batu Karang, Seindah Senja Sore. Saya yakin seratus persen jika pengusul judul buku ini habis baca buku Sunset with Rosie karya Tere Liye. Karena dalam buku itu terulang berkali-kali kalimat ini. 

Buku yang diterbitkan oleh Phoenix Publisher ini pertama kali terbit pada September 2023. Buku ini adalah kumpulan kisah inspiratif yang ditulis oleh sejumlah penulis seperti Syarifuddin, Nurul Qibtiyah, Ahmad Farhan, Muhammad Hamdani Fauzi, Nurul Maghfiroh, Firda Maulidatul Rizkiyah, Anis Rahmawati, Fufut Indasari, dan Nikmatus Sa’adah.

Setiap nama membawa sudut pandang yang unik, tetapi memiliki benang merah yang sama: pengalaman menjadi santri dan belajar hidup mandiri.

Isi Buku

Buku ini menjadi wadah bagi suara-suara yang pernah merasakan kehidupan jauh dari keluarga demi menuntut ilmu. Membaca buku ini terasa seperti menyusuri lorong kenangan. Ada getir rindu kepada keluarga, ada perjuangan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, ada air mata karena tekanan dan ketidaknyamanan.

Namun justru dari situlah kekuatan lahir. Seperti batu karang yang tetap kokoh dihantam ombak, para penulis menggambarkan bagaimana tempaan hidup membentuk karakter yang tangguh.

Salah satu kekuatan buku ini terletak pada kesederhanaan bahasanya. Cerita-cerita yang disajikan ringan, mengalir, dan dekat dengan keseharian. Tidak ada kesan menggurui. Justru pembaca diajak menyelami pengalaman itu secara personal. Kita diajak berprasangka baik bahwa setiap masalah menyimpan potensi hikmah dan berkah.

Hikmah dan motivasi memang berbeda secara definisi, tetapi dalam buku ini keduanya saling bersinergi. Orang yang mendapatkan hikmah akan tergerak hatinya, dan orang yang termotivasi berarti telah menangkap hikmah tersebut. Buku ini menghadirkan dua sisi itu sekaligus. Ia tidak hanya menyentuh akal, tetapi juga hati.

Dalam banyak kisah, terlihat jelas bahwa prestasi sering kali lahir dari tekanan. Ketidaknyamanan bukan musuh, melainkan proses. Kehidupan pesantren, dengan jadwal padat dan aturan disiplin, menjadi laboratorium pembentukan mental.

Jauh dari orang tua mengajarkan kemandirian. Hidup bersama teman-teman dari latar belakang berbeda melatih toleransi dan empati. Semua itu menjadi bekal berharga untuk menghadapi kehidupan yang lebih luas.

Kelebihan dan Kekurangan

Buku ini juga membuka cakrawala pembaca tentang pernak-pernik dunia pendidikan, khususnya pendidikan berbasis pesantren. Ia menunjukkan bahwa menjadi santri bukan hanya soal belajar kitab atau mengejar nilai akademik, tetapi juga belajar sabar, belajar ikhlas, dan belajar bertanggung jawab. Nilai-nilai itulah yang menjadikan seseorang kuat dalam menghadapi badai kehidupan.

Menjadi santri, sebagaimana tergambar dalam buku ini, adalah perjalanan panjang yang membentuk karakter. Ada rasa bangga yang tumbuh karena pernah melalui proses tersebut. Banggalah kalian yang pernah mengenyam kehidupan sebagai santri, karena di sanalah mental baja ditempa. Di sana pula seseorang belajar bahwa hidup bukan tentang kenyamanan semata, tetapi tentang keteguhan hati.

Secara fisik, buku setebal 520 halaman ini memang cukup tebal. Namun isi yang variatif membuat pembaca tidak mudah jenuh. Setiap cerita memiliki warna tersendiri, menghadirkan refleksi yang berbeda-beda. Justru ketebalan buku ini menjadi bukti betapa kayanya pengalaman yang dibagikan.

Pada akhirnya, Setegar Batu Karang, Seindah Senja Sore adalah buku yang layak direkomendasikan bagi siapa pun yang ingin menjadi pribadi lebih kuat, lebih tegar, dan lebih bijak dalam memaknai ujian hidup.

Kehadiran buku ini bisa menjadi wasilah perubahan sikap ke arah yang lebih baik. Membuat kita setegar batu karang dalam menghadapi masalah, dan tetap seindah senja sore dalam memancarkan ketenangan hati.

Identitas Buku

  • Judul: Setegar Batu Karang, Seindah Senja Sore
  • Penulis: Syarifuddin, dkk.
  • Penerbit: Phoenix Publisher
  • Tahun Terbit: 2023
  • ISBN: 978-623-5283-73-9
  • Tebal: xviii + 520 Halaman
  • Genre: Kisah Inspiratif, Fiksi