Sekar Anindyah Lamase | Ardina Praf
Novel Oi Abang Oi (gramedia.com)
Ardina Praf

"Gimana, sih, rasanya punya adik?” Pertanyaan sederhana itu pernah menjadi harapan terbesar Dirfan.

Sejak kecil, ia iri melihat teman-temannya memiliki adik untuk diajak bertengkar, bercanda, dan berbagi cerita.

Namun, impian itu terasa mustahil karena keluarganya sendiri sedang tidak baik-baik saja. Hubungan orang tuanya retak, rumahnya jauh dari kata hangat.

Takdir justru menghadirkan “adik” dalam bentuk yang paling menyakitkan. Perselingkuhan sang ayah menjadi pukulan telak bagi Dirfan dan bundanya.

Luka itu semakin dalam ketika ayahnya datang tanpa rasa bersalah, membawa seorang anak laki-laki bernama Asta—hasil hubungannya dengan perempuan lain—untuk dititipkan kepada Dirfan dan bunda.

Alih-alih menolak, bunda menerima Asta dengan hati lapang. Bahkan, ia meminta Dirfan menyayangi Asta sebagai adik kandungnya sendiri.

Bagi Dirfan, ini terasa seperti ironi. Anak yang menjadi simbol kehancuran keluarganya kini harus ia panggil “adik”. Penolakan Dirfan tergambar jelas lewat dialog kasar dan emosionalnya pada Asta.

Namun, di balik amarah itu, tersimpan luka dan kekecewaan yang belum sembuh. Novel ini kemudian bergerak mengikuti perjalanan batin Dirfan: antara membenci, menerima, atau perlahan belajar memahami bahwa Asta pun hanyalah korban keadaan.

Salah satu keunikan Oi Abang Oi terletak pada sudut pandangnya. Alih-alih berfokus pada drama perselingkuhan orang tua, Armaraher justru menyoroti dampaknya pada anak.

Konflik tidak berhenti pada pengkhianatan, melainkan berkembang menjadi pergulatan emosional tentang menerima “darah daging” yang lahir dari luka.

Hubungan kakak-adik yang tidak biasa menjadi inti cerita. Asta bukan sekadar tokoh pelengkap, melainkan representasi kepolosan yang kontras dengan kemarahan Dirfan.

Dinamika mereka terasa hidup: dari penolakan, ejekan, hingga kemungkinan tumbuhnya rasa sayang. Dialog-dialognya lugas, bahkan kasar, namun realistis—membuat pembaca merasakan ketegangan yang autentik.

Keunikan lainnya adalah karakter bunda. Ia digambarkan memiliki hati seluas samudra—mampu menerima anak hasil perselingkuhan suaminya.

Sikap bunda menjadi titik refleksi moral dalam cerita: tentang memaafkan, tentang kasih yang tidak bersyarat.

Armaraher menggunakan gaya bahasa yang ringan, komunikatif, dan dekat dengan keseharian remaja. Dialognya dominan, mengalir cepat, dan penuh emosi.

Pilihan kata yang santai—bahkan cenderung kasar dalam percakapan Dirfan—justru memperkuat karakter dan membuat konflik terasa nyata.

Narasinya tidak bertele-tele. Penulis mampu menyampaikan kemarahan, kecemburuan, dan rasa kehilangan Dirfan dengan kalimat sederhana namun mengena.

Ada keseimbangan antara adegan emosional dan percakapan ringan yang memberi jeda, sehingga pembaca tidak merasa terlalu berat mengikuti ceritanya.

Gaya ini membuat novel cocok dibaca oleh remaja hingga dewasa muda yang menyukai cerita keluarga dengan konflik realistis dan penuh emosi.

Di balik amarah dan luka, Oi Abang Oi menyampaikan pesan kuat tentang penerimaan. Tidak semua hal dalam hidup datang sesuai keinginan.

Kadang, doa dikabulkan dalam bentuk yang tak terduga—bahkan menyakitkan.

Novel ini juga mengajarkan bahwa anak bukanlah pihak yang patut disalahkan atas kesalahan orang tua. Asta hanyalah korban dari keputusan orang dewasa.

Kebencian Dirfan perlahan diuji: apakah ia akan terus memelihara dendam, atau belajar memisahkan kesalahan ayahnya dari keberadaan Asta?

Pesan lain yang terasa kuat adalah tentang memaafkan. Sosok bunda menunjukkan bahwa memaafkan bukan berarti melupakan luka, melainkan memilih untuk tidak membiarkan luka itu menguasai hidup.

Dalam konteks keluarga, kasih sayang sering kali menjadi satu-satunya jembatan untuk bertahan.

Secara keseluruhan, Oi Abang Oi adalah kisah tentang keluarga yang retak, tentang amarah yang manusiawi, dan tentang kemungkinan tumbuhnya cinta di tempat yang awalnya penuh kebencian.