Penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari, Jember, bukan sekadar kabar tentang berhentinya sebuah lokasi pembuangan sampah. Lebih dari itu, peristiwa ini adalah alarm paling keras yang pernah dibunyikan bagi masyarakat Jember. Alarm yang selama bertahun-tahun mungkin kita abaikan ketika setiap pagi petugas kebersihan datang mengangkut sampah dari depan rumah, lalu kita merasa urusan telah selesai. Padahal sesungguhnya tidak pernah selesai.
Sampah yang kita buang hanya berpindah tempat. Dari dapur ke tempat sampah. Dari tempat sampah ke gerobak. Dari gerobak ke truk. Dari truk ke TPA Pakusari. Setelah itu, kita tidak lagi melihatnya. Kita merasa bersih, padahal gunungan sampah terus bertambah setiap hari. Kini kenyataan itu datang menagih.
TPA Pakusari yang selama ini menjadi tempat pelarian terakhir sampah bagi warga Jember telah mengalami overload. Dengan luas sekitar 6,8 hektare dan timbunan sampah mencapai puluhan meter, lahan itu tidak lagi sanggup menanggung beban yang terus membesar. Sementara produksi sampah di Kabupaten Jember diperkirakan mencapai sekitar 1.300 ton per hari, sedangkan kapasitas yang mampu ditangani jauh di bawah angka tersebut.
Sengkarut pengelolaan sampah di TPA Pakusari sebenarnya bukan persoalan baru. Bertahun-tahun sistem pembuangan terbuka atau open dumping menjadi sorotan berbagai pihak. Surat pembinaan dari Kementerian Lingkungan Hidup bahkan menjadi sinyal bahwa kondisi Jember sudah berada dalam situasi kabupaten padat sampah.
Anggota Komisi A DPRD Jember, Tabroni, menilai posisi Jember saat ini berada di ambang kategori darurat sampah. Pernyataan tersebut bukan sekadar kritik politik, melainkan peringatan serius bahwa persoalan sampah telah berubah menjadi ancaman nyata bagi masa depan lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Namun ironisnya, ketika pemerintah mulai melakukan pembatasan dan penutupan TPA sebagai bagian dari transisi menuju pengelolaan sampah yang lebih modern, sebagian masyarakat justru merespons dengan cara yang salah.
Tumpukan sampah liar mulai bermunculan di berbagai sudut kota. Salah satunya di kawasan Jalan M. Yamin, Kelurahan Tegal Besar. Lokasi yang sebelumnya telah dibersihkan kini kembali dipenuhi sampah yang menggunung. Bau menyengat mulai mengganggu warga. Pemandangan yang semestinya menjadi ruang publik berubah menjadi tempat pembuangan liar.
Inilah yang paling saya khawatirkan. Ketika TPA ditutup atau dibatasi, sementara kesadaran masyarakat belum tumbuh, maka sampah akan mencari jalannya sendiri. Sungai bisa menjadi korban pertama. Lahan kosong menjadi sasaran berikutnya. Selokan akan tersumbat. Pembakaran sampah liar meningkat. Akibatnya bukan hanya pencemaran lingkungan, tetapi juga ancaman penyakit yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kita tentu tidak ingin Jember berubah menjadi kabupaten yang dikelilingi titik-titik sampah liar. Oleh karena itu, menurut saya, perdebatan mengenai siap atau tidak siapnya pemerintah tidak boleh membuat masyarakat lupa pada satu hal penting, yaitu sampah sesungguhnya lahir dari rumah kita sendiri.
Kita terlalu lama menggantungkan solusi kepada TPA. Seolah-olah selama ada tempat pembuangan akhir, kita bebas membeli apa saja, mengonsumsi apa saja, dan membuang apa saja. Pola pikir inilah yang harus berubah.
Saat ini, langkah paling realistis bukan sekadar memilah sampah, melainkan mengurangi sampah sejak awal. Mulailah dari hal-hal sederhana.
Kurangi membeli minuman kemasan sekali pakai. Bawa botol minum sendiri saat bepergian. Kurangi penggunaan kantong plastik saat berbelanja. Pilih produk isi ulang dibanding kemasan baru. Hindari membeli makanan dengan lapisan kemasan berlebihan. Bawalah wadah sendiri ketika membeli makanan.
Mungkin terdengar sepele, tetapi mari kita bayangkan! Jika satu rumah tangga mampu mengurangi satu kilogram sampah per hari, lalu ada seratus ribu rumah tangga melakukan hal yang sama, maka ratusan ton sampah bisa dicegah sebelum mencapai tempat pembuangan.
Masalahnya memang bukan pada sampah yang sudah ada. Masalah terbesar adalah sampah yang terus kita produksi setiap hari.
Kita juga perlu mengubah cara pandang terhadap barang konsumsi. Selama ini kita lebih sering bertanya, "Apa yang ingin saya beli?" daripada "Sampah apa yang akan saya hasilkan setelah membeli barang ini?" Padahal kedua pertanyaan itu seharusnya berjalan beriringan.
Kesadaran semacam ini jauh lebih penting daripada sekadar menambah armada pengangkut atau memperluas lahan TPA. Sebab seberapa luas pun tempat pembuangan yang disediakan, pada akhirnya akan penuh jika pola konsumsi masyarakat tidak berubah.
Di sisi lain, pemerintah tentu tetap memiliki pekerjaan besar. Sosialisasi harus diperkuat. Bank sampah perlu diperbanyak. Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) harus dipercepat pembangunannya. Dukungan kepada RT, RW, sekolah, pesantren, dan pelaku usaha harus nyata, bukan hanya melalui surat edaran. Tetapi semua kebijakan itu tidak akan berarti banyak jika masyarakat tetap memandang sampah sebagai urusan orang lain.
Penutupan TPA Pakusari sesungguhnya bukan akhir dari pengelolaan sampah. Ini adalah awal dari perubahan cara berpikir kita. Bahwa sampah bukan masalah pemerintah semata, bukan masalah petugas kebersihan, dan bukan pula masalah TPA.
Sampah adalah cermin gaya hidup kita sendiri. Mungkin selama ini kita terbiasa melihat truk datang lalu membawa pergi seluruh persoalan. Kini kenyataan berkata lain. Tidak ada lagi tempat yang mampu menelan semua sampah tanpa batas.
Karena itu, jika kita benar-benar mencintai Jember, mulailah dari tempat paling dekat. Di mana? Ya, rumah kita sendiri. Dari dapur sendiri. Dari kantong belanja sendiri. Dari keputusan kecil setiap kali membeli sesuatu.
Sebab kelak, masa depan Jember tidak akan ditentukan oleh seberapa besar TPA yang kita miliki, melainkan oleh seberapa kecil sampah yang kita hasilkan.
Barangkali juga, warisan lingkungan terbaik untuk anak-anak kita bukanlah kota yang memiliki gunung sampah terbesar, melainkan kota yang warganya belajar bertanggung jawab atas setiap bungkus yang mereka buka dan setiap sisa yang mereka tinggalkan.
Baca Juga
-
Asus ProArt P16 Resmi Meluncur: Laptop Kreator Konten di Era AI dengan Superchip Nvidia RTX Spark
-
Asus ROG Swift OLED PG32UCWM: Monitor Gaming 4K Generasi Baru dengan Teknologi Tandem RGB OLED
-
Hikayat Suara-Suara: Estetika Melayu, Kritik Sosial, dan Pencarian Makna
-
Samsung Perkenalkan Panel OLED Laptop Ultra Slim Tertipis di Dunia, Sasar Industri Gaming
-
Asus ProArt OLED PA27USD Meluncur: Monitor Impian Editor Video dan Colorist
Artikel Terkait
-
Menerapkan 'No Buy Day' Bisa Jadi Langkah Awal Kurangi Sampah, Berani Coba?
-
Bersih-bersih Pulau Sampah yang Muncul di Laut Jakarta
-
Mindful Consumption: Prinsip Mahal di Era Digital, Kamu Bisa Terapkan?
-
Dipakai 5 Menit, Dibuang Selamanya: Mengapa Kamu Harus Mulai Bawa Alat Makan Sendiri
-
Belajar Less Waste dari Selembar Tisu, Kenapa Perlu Stop Ambil Berlebihan?
Kolom
-
Menerapkan 'No Buy Day' Bisa Jadi Langkah Awal Kurangi Sampah, Berani Coba?
-
Birokrasi di Era Digital: Lebih Mudah atau Sekadar Berubah Bentuk?
-
Bimbel Bukan Jaminan Sukses, Lalu Untuk Apa Semua Lelahmu Selama Ini?
-
Saat Impian ke Tanah Suci Berujung Nestapa: Di Mana Letak Tanggung Jawab Influencer?
-
Mindful Consumption: Prinsip Mahal di Era Digital, Kamu Bisa Terapkan?
Terkini
-
Mengejar Nilai di Tengah Kepungan Berandalan: Pesona Unik Drama Study Group
-
Webtoon Overgeared Resmi Dapat Adaptasi Anime TV, Tayang Oktober 2026
-
Rayakan 25 Tahun, Good Smile Company Rilis Anime Robot Orisinal Dandivine
-
Drama Excitatio Tayang 2027, Lee Jun Hyuk Jadi Pendeta Pengusir Setan
-
Ulasan Film Colony: Sajikan Konsep Zombie Kolektif yang Segar dan Baru!