M. Reza Sulaiman | Ryan Farizzal
Salah satu adegan di film EPiC: Elvis Presley In Concert (Instagram/epic.themovie)
Ryan Farizzal

Film EPiC: Elvis Presley in Concert merupakan karya terbaru dari sutradara visioner Baz Luhrmann, yang sebelumnya sukses dengan biopic Elvis (2022) yang dibintangi Austin Butler. Dirilis pada tahun 2026, film ini bukan sekadar dokumenter biasa, melainkan pengalaman sinematik yang menggabungkan elemen konser live, restorasi footage arsip, dan narasi otobiografis dari sang Raja Rock 'n' Roll sendiri, Elvis Presley. Judul EPiC adalah akronim dari Elvis Presley in Concert, yang mencerminkan fokus utama pada penampilan panggung Elvis di puncak kariernya pada awal 1970-an. Film ini berdurasi sekitar 96–98 menit dengan rating PG-13, membuatnya cocok untuk penonton remaja ke atas yang menyukai musik, sejarah, dan hiburan visual yang mewah.

Konser Epik 1970–1972 yang Direstorasi

Salah satu adegan di film EPiC: Elvis Presley In Concert (Instagram/epic.themovie)

Cerita film ini dimulai dengan pendekatan dokumenter ringan, di mana Elvis menceritakan perjalanannya sendiri melalui cuplikan wawancara arsip. Ia berbagi pengalaman masa dinas militer, karier Hollywood yang glamor tetapi melelahkan, dan kembalinya ke panggung live setelah absen lama. Bagian ini berfungsi sebagai pengantar yang humanis, menunjukkan sisi rentan Elvis di balik image superstar. Kemudian, film bertransisi ke mode konser penuh, menyajikan footage yang direstorasi dari dua film konser klasik: Elvis: That’s the Way It Is (1970) dan Elvis on Tour (1972). Footage ini ditemukan di gudang bawah tanah Warner Bros. di tambang garam Kansas, sebuah fakta yang menambah nuansa petualangan pada produksi film ini. Baz Luhrmann, bersama editor Jonathan Redmond, menyatukan materi-materi ini dengan mulus, menciptakan ilusi seolah Elvis sedang tampil dalam satu konser epik yang berkelanjutan.

Review Film EPiC: Elvis Presley In Concert

Salah satu adegan di film EPiC: Elvis Presley In Concert (Instagram/epic.themovie)

Secara visual, EPiC adalah pesta mata yang khas gaya Luhrmann. Ia menggunakan teknik editing dinamis, split-screen, dan overlay grafis modern untuk menyegarkan footage lama. Suara direstorasi dengan teknologi canggih, membuat gitar James Burton terdengar tajam dan drum Ronnie Tutt seperti dentuman langsung di telinga penonton. Penampilan Elvis di Las Vegas residency menjadi pusat, di mana ia menyanyikan hits seperti Suspicious Minds, Burning Love, dan Can't Help Falling in Love. Ada momen intim seperti latihan band, di mana Elvis tampak santai dan karismatik, serta interaksi dengan fans yang menunjukkan pesonanya yang tak tertahankan. Film ini merayakan Elvis sebagai ultimate performer yang mampu menggabungkan rock, gospel, dan balada dengan energi yang meledak-ledak. Akan tetapi, ia juga menyentuh sisi tragis: kelelahan tur dan tekanan ketenaran, tanpa terlalu mendalami, sehingga tetap ringan dan menghibur.

Dari segi produksi, Luhrmann berhasil menghidupkan kembali Elvis untuk generasi baru. Ia tidak hanya mengandalkan nostalgia, tetapi juga menjembatani antara image ikonik Elvis dengan manusia di baliknya. Tidak ada aktor baru; semuanya asli dari arsip, termasuk penampilan Elvis yang karismatik di usia 35–37 tahun. Kru seperti Martin Scorsese (yang mengawasi montage di Elvis on Tour asli) disebutkan, menambah kredibilitas. Soundtrack film ini luar biasa, dengan restorasi audio yang membuat lagu-lagu klasik terdengar segar, seolah direkam kemarin. Kritikus memuji bagaimana film ini menghindari gimmick, fokus pada esensi Elvis sebagai entertainer, bukan tragedi hidupnya. Seperti yang dikatakan Roger Ebert, restorasi suara sangat overwhelming dan membuat penonton jatuh cinta lagi pada Elvis. Film ini sangat fun and revealing, dengan footage baru yang membuatku dan penonton yang lain merasa dekat dengan sang Raja.

Kalau dari aku sendiri, sih, kupuji karena pengalaman IMAX-nya, di mana suara dan visual terasa imersif. Oh iya, film ini seperti romantic comedy daripada tragedi, karena fokus pada pesona Elvis yang irresistible. Akan tetapi, ada kritik minor dariku: bagi non-fans, bagian narasi awal mungkin terasa lambat, dan durasi 90 menit dirasa pendek untuk materi sejarah yang kaya. Secara keseluruhan, ini adalah tribut yang sempurna untuk Elvis, terutama di era di mana musik live semakin langka.

Di Indonesia, film ini tayang di bioskop mulai 20 Februari 2026 untuk format IMAX eksklusif, diikuti rilis umum pada 27 Februari 2026. Penayangan ini sinkron dengan jadwal global, memungkinkan kamu bisa menonton dengan pengalaman yang lebih dan kamu bisa mengunjungi beberapa bioskop seperti di Surabaya. Kamu bisa menikmatinya di jaringan seperti CGV atau XXI. Tiket bisa dibeli melalui situs resmi bioskop atau app seperti TIX ID. Mengingat waktu sekarang Maret 2026, film ini sudah tersedia, dan sangat kusarankan ditonton di layar besar untuk memaksimalkan pengalaman audiovisual ya, Sobat Yoursay!

Jadi, bisa kusimpulkan, EPiC: Elvis Presley in Concert adalah mahakarya yang menghidupkan legenda. Ia bukan hanya film, tetapi portal waktu ke era emas rock 'n' roll. Bagi fans Elvis, ini wajib tonton; bagi pemula, ini pintu masuk sempurna ke dunia sang Raja. Dengan campuran emosi, musik, dan inovasi, film ini membuktikan Elvis tetap relevan, bahkan 50 tahun setelah kepergiannya.