Hayuning Ratri Hapsari | Ryan Farizzal
Poster film Hamnet (IMDb)
Ryan Farizzal

Film Hamnet, disutradarai oleh Chloé Zhao, adalah adaptasi dari novel bestseller Maggie O'Farrell yang dirilis pada 2020. Film ini membawa penonton ke abad ke-16 di Inggris, mengeksplorasi kehidupan keluarga William Shakespeare setelah kematian tragis putra mereka, Hamnet.

Dengan durasi 126 menit, Hamnet bukan sekadar drama sejarah biasa; ia adalah potret mendalam tentang duka, cinta, dan inspirasi di balik karya masterpiece Shakespeare, Hamlet.

Sebagai pemenang People's Choice Award di Toronto International Film Festival 2025, film ini telah menjadi sorotan utama di musim penghargaan, dengan prediksi kuat untuk Oscar, terutama berkat penampilan luar biasa dari para pemeran utamanya.

Sinopsis: Duka Agnes dan Bayang-Bayang Wabah

Salah satu adegan di film Hamnet (IMDb)

Cerita dimulai dengan prolog yang menarik, menjelaskan bahwa Hamnet dan Hamlet dianggap nama yang sama di Stratford, Inggris saat itu. Fokus utama adalah pada Agnes (Anne Hathaway, istri Shakespeare, yang diganti namanya untuk menghindari kebingungan dengan aktris modern).

Dimainkan oleh Jessie Buckley, Agnes digambarkan sebagai wanita kuat dengan kemampuan herbal dan intuisi mistis, yang hidup di pedesaan sambil merawat keluarga.

Paul Mescal memerankan William Shakespeare sebagai pria ambisius yang berjuang antara karir teater di London dan tanggung jawab keluarga di Stratford.

Plot berputar pada pernikahan mereka yang penuh gairah, kelahiran anak-anak, dan tragedi yang mengubah segalanya ketika Hamnet, putra kembar mereka yang berusia 11 tahun, meninggal karena wabah pes.

Film ini mengeksplorasi bagaimana duka ini memengaruhi hubungan mereka dan menjadi katalisator bagi penciptaan Hamlet. Tanpa spoiler berlebih, narasi berpindah antara masa lalu dan sekarang, menunjukkan bagaimana kenangan dan visi Agnes membentuk pemahaman tentang kehilangan.

Review Film Hamnet

Salah satu adegan di film Hamnet (IMDb)

Penampilan aktor menjadi kekuatan utama film ini. Jessie Buckley memberikan performa yang kusebut revelatory dan astonishing. Ia membawa kedalaman emosional yang mentah, membuat Agnes terasa seperti pahlawan primordial yang berjuang melawan norma masyarakat patriarkal.

Buckley berhasil menyampaikan duka yang mendalam melalui tatapan mata dan gerak tubuh halus, membuatku ikut merasakan sakit hatinya.

Paul Mescal, di sisi lain, menampilkan Shakespeare sebagai figur rapuh yang cathartically transcendent, terutama dalam adegan monolog To be, or not to be di tepi Sungai Thames.

Pendukung seperti Emily Watson sebagai Mary Shakespeare (ibu William) dan Joe Alwyn sebagai Bartholomew Hathaway (saudara Agnes) menambah lapisan keluarga yang kompleks.

Anak-anak pemeran, seperti Jacobi Jupe sebagai Hamnet dan Olivia Lynes sebagai Judith, juga luar biasa, membawa kepolosan yang mengharukan ke layar.

Chloé Zhao, sutradara pemenang Oscar untuk Nomadland, membawa gaya sinematiknya yang khas ke Hamnet. Ia berkolaborasi dengan O'Farrell untuk skenario, menghasilkan adaptasi yang setia namun inovatif.

Sinematografi oleh ukasz al menangkap keindahan alam pedesaan Inggris dengan cahaya alami yang lembut, kontras dengan kegelapan wabah di London.

Musik oleh Max Richter, termasuk lagu ikonik On the Nature of Daylight, memperkuat emosi, membuat adegan duka terasa seperti puisi visual.

Zhao subverts genre biopic sejarah dengan memusatkan cerita pada perspektif Agnes, bukan William, sehingga film ini menjadi tribut bagi perempuan yang sering terlupakan dalam sejarah.

Tema utama—cinta, kehilangan, dan ruang di antara keduanya—dieksekusi dengan sensitivitas, meski begitu film ini sangat manipulative karena terlalu menargetkan air mata penonton tanpa subtilitas.

Produksi film ini melibatkan perusahaan bergengsi seperti Amblin Entertainment milik Steven Spielberg dan Neal Street Productions milik Sam Mendes. Syuting dilakukan di Wales dan Herefordshire, Inggris, dengan replika Globe Theatre dibangun khusus di Elstree Studios.

Anggaran sekitar $30-35 juta, dan film ini berhasil meraup $88 juta di box office global. Film ini terasa menyentuh dengan penutup yang mengguncang, menghancurkan hati sekaligus memilukan. Disebut umpan Oscar karena ada kekeliruan intelektual zaman.

Secara keseluruhan, BBC memuji Hamnet sebagai film terbaik 2025 berkat karakter kuat, tema mendalam, dan visual memukau.

Bagi penonton Indonesia, Hamnet tayang di bioskop mulai 27 Februari 2026, didistribusikan oleh Universal Pictures Indonesia. Ini bertepatan dengan gelombang rilis internasional setelah premiere dunia di Telluride Film Festival pada 29 Agustus 2025, rilis terbatas di AS pada 26 November 2025, dan UK pada 9 Januari 2026.

Di Indonesia, film ini tersedia di jaringan bioskop seperti CGV, Cinepolis, dan XXI, dengan rating UA16+ yang menandakan konten dewasa ringan.

Penggemar drama sejarah dan Shakespeare pasti akan terpukau, terutama dengan buzz Oscar yang kuat. Kalau kamu mencari film yang menyentuh hati dan memprovokasi pikiran, Hamnet adalah pilihan sempurna—sebuah karya yang mengingatkan kita bahwa seni lahir dari duka mendalam.

Jadi bisa kusimpulkan, Hamnet adalah mahakarya emosional yang menggabungkan sejarah, mitos, dan humanitas dengan brilian. Ia tidak hanya menghibur tapi juga mengajak refleksi tentang kehilangan dan penciptaan.

Dengan penampilan stellar dan arahan Zhao yang visionary, film ini layak ditonton di layar lebar. Rating pribadi dariku: 8.5/10.