Genre science fiction atau sci-fi masih terbilang jarang muncul dalam perfilman Indonesia. Selama ini, layar lebar Tanah Air lebih sering diisi film horor, drama keluarga, atau komedi yang sudah punya pasar besar di bioskop.
Padahal, di industri film global, sci-fi menjadi salah satu genre yang populer lewat film seperti Interstellar, WALL-E, hingga The Martian. Film-film tersebut menghadirkan cerita futuristik dengan teknologi masa depan dan eksplorasi luar angkasa yang memicu imajinasi penonton.
Di tengah kondisi itu, hadir film Pelangi di Mars, sebuah proyek ambisius yang digarap selama sekitar lima tahun. Film ini menjadi salah satu karya sci-fi lokal yang cukup dinanti karena mencoba menghadirkan cerita luar angkasa dengan skala produksi yang lebih besar dibanding kebanyakan film Indonesia.
Film ini disutradarai oleh Upie Guava dan diproduksi oleh Mahakarya Pictures. Pengembangan proyeknya sendiri disebut sudah dimulai sejak sekitar tahun 2020, sehingga membutuhkan waktu panjang untuk mempersiapkan cerita, teknologi visual, hingga proses produksinya.
Secara cerita, Pelangi di Mars mengambil latar akhir abad ke-21 ketika Bumi mengalami krisis air. Kisahnya mengikuti seorang anak Indonesia bernama Pelangi yang lahir dan tumbuh di planet Mars.
Dalam petualangannya, Pelangi ditemani sejumlah robot yang menjadi sahabatnya. Bersama-sama mereka menjalani misi mencari mineral bernama Zulit Omega yang diyakini dapat membantu memulihkan atmosfer dan sumber air di Bumi.
Film ini juga menghadirkan sejumlah aktor seperti Rio Dewanto, Lutesha, hingga Livy Renata. Kehadiran para pemain ini semakin menambah daya tarik film yang memadukan unsur petualangan keluarga dengan cerita fiksi ilmiah.
Dari sisi produksi, Pelangi di Mars menggunakan konsep hybrid yang menggabungkan live action dengan animasi 3D serta teknologi Extended Reality (XR). Teknologi ini memungkinkan aktor berinteraksi dengan lingkungan digital dan karakter animasi secara lebih realistis.
Pendekatan tersebut membuat film ini terlihat lebih futuristik dibanding banyak produksi lokal sebelumnya. Tidak heran jika proyek ini dianggap sebagai salah satu eksperimen besar dalam perfilman Indonesia.
Film Pelangi di Mars dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 18 Maret 2026, bertepatan dengan momen libur Lebaran. Kehadirannya diharapkan bisa menjadi alternatif tontonan keluarga sekaligus membuka peluang lebih besar bagi genre sci-fi berkembang di industri film Indonesia.
Baca Juga
-
Triumph Rocket 3 Storm R, Motor dengan Mesin Lebih Besar dari Innova Zenix
-
Hindia dan Dipha Barus Bicara Soal Generational Trauma di Lagu Baru "Nafas"
-
Cari Smartwatch G-Shock Termurah? GBD-200SM Punya Warna Unik dan Fitur Lari
-
Cuma Laptop ADVAN yang Berani Tempel Intel Core Ultra di Harga Rp7 Jutaan?
-
Cincin Bentuk Jam Tangan? G-Shock DWN-5600 Hadir dengan Konsep Tak Biasa
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Film Kupilih Jalur Langit: Kisah Nyata Viral yang Menguras Air Mata
-
Ruang Tenang: Validasi untuk Jiwa yang Lelah dan Hati yang Ingin Rehat
-
Kuroko no Basket: Persahabatan, Persaingan Sehat, Pengakuan, & Bola Basket
-
Sedang Kehilangan Arah? Novel 'Rumah' Karya J.S. Khairen Akan Menemanimu
-
The Manipulated: Saat Korban Terpaksa Menjadi Pelaku untuk Bertahan Hidup
Terkini
-
Perempuan Bermata Kelam yang Menjanjikan Kemakmuran
-
Sinopsis We Are Worse at Love than Pandas, Drama yang Dibintangi Ikuta Toma
-
Mau Kulit Cerah Merata? 5 Rekomendasi Sabun Batang untuk Atasi Kulit Kusam
-
Setelah 5 Tahun Hiatus, Manga GANGSTA. Lanjutkan Serialisasi Mulai 3 Juli
-
Kerja Iya, Urus Rumah Jalan Terus: Mengapa Beban Perempuan Masih Timpang?