Maggie Gyllenhaal mungkin lebih sering kita dengar sebagai aktris, tapi beberapa tahun terakhir dia mulai menunjukkan kemampuan menarik sebagai sutradara lho.
Lewat Film The Bride! Yang rilis di bioskop Indonesia sejak 4 Maret 2026 (dua hari lebih awal dari rilis global) Maggie Gyllenhaal mencoba menyuguhkan tafsir baru pada mitos klasik Frankenstein, khususnya sosok ‘pengantin monster’ yang sebelumnya hanya figuran singkat dalam Film Bride of Frankenstein (1935).
Film klasik tersebut diadaptasi dari novel karya Mary Shelley, Frankenstein; or, The Modern Prometheus. Namun, berbeda dari versi lamanya, ‘The Bride!’ nggak cuma menghidupkan kembali kisah monster yang mencari pasangan lho. Yup, film ini mencoba menghidupkan dan menyoroti lebih dalam sang ‘pengantin’, sesuatu yang nyaris nggak dimiliki karakter tersebut dalam versi lama.
Penasaran kisahnya seperti apa? Sini deh kepoin bareng!
Sinopsis Film The Bride!
Diproduksi Warner Bros. Pictures, film ini berlatar Chicago tahun 1930-an, era gangster dan krisis ekonomi. Dikisahkan Ida (Jessie Buckley). Hidupnya berubah secara misterius ketika arwah Mary Shelley seakan-akan merasuki dirinya.
Sejak saat itu, sikap Ida yang sebelumnya patuh dan sopan berubah drastis. Dia mulai berbicara tajam, berani melawan, dan menolak diperlakukan sebagai objek oleh para pria di sekitarnya.
Pemberontakan kecil tersebut berujung fatal. Ida terbunuh setelah membuat marah seorang bos mafia bernama Lupino (Zlatko Buric). Namun, kematian Ida bukanlah akhir. Tubuhnya kemudian digali kembali oleh ilmuwan, Dr. Euphronius (Annette Bening), yang bekerja sama dengan monster ciptaan, Victor Frankenstein.
Monster tersebut, yang menyebut dirinya Frank (Christian Bale), telah hidup selama lebih dari satu abad dan merasakan kesepian mendalam. Dia meminta diciptakan ‘teman hidup’. Dari sinilah Ida dihidupkan kembali sebagai sosok yang dikenal sebagai The Bride.
Kebangkitan Ida bukan sekadar eksperimen ilmiah. Kebangkitannya memicu rangkaian kekacauan, pemberontakan, dan hubungan aneh antara dua makhluk yang sama-sama dianggap monster sama dunia.
Kisahnya sangat menggelitik dan merangsang minat kita buat nonton kan? Buat Sobat Yoursay yang masih mempertimbangkan banyak hal terkait film ini, sini deh kepoin impresi selepas nonton filmnya.
Review Film The Bride!
Ketika nonton ‘The Bride!’, aku langsung merasakan film ini nggak berusaha menjadi adaptasi klasik yang rapi. Sebaliknya, ini pun semacam eksperimen liar dalam genre gothic romance yang dibalut unsur horor dan drama. Termasuk dalam gaya bercerita, maupun karakternya.
Interpretasi Christian Bale sebagai Frank cukup menarik sih. Jika dalam film klasik monster Frankenstein digambarkan tragis dan menyeramkan, di sini aku melihat sosok yang lebih canggung, hampir seperti seseorang yang mengalami kecemasan sosial. Dia sudah hidup ratusan tahun, tapi masih kesulitan menemukan tempatnya di dunia.
Di sisi lain, Jessie Buckley benar, penampilannya sebagai The Bride terasa ekstrem dan teatrikal. Gesturnya, ekspresi dramatis, serta dialog yang mengalir seperti ledakan kata-kata deh. Buat sebagian penonton mungkin terasa berlebihan, tapi menurutku itu daya tariknya.
Film ini juga mencoba membawa semangat feminisme melalui sosok Mary Shelley yang digambarkan bukan sekadar penulis, melainkan gambaran dari gagasan kebebasan perempuan. Jelas ‘The Bride!’ menjadi representasi perempuan yang akhirnya bisa bersuara setelah lama dibungkam.
Hubungan antara The Bride dan Frank pun terasa unik. Mereka bukan pasangan romantis ala-ala gitu. Keduanya cenderung kayak dua makhluk yang sama-sama tersisih dari masyarakat, lalu menemukan kebebasan dalam kekacauan yang mereka ciptakan bersama.
Namun harus aku akui, dari segi penceritaan film ini cukup berantakan. Alurnya terasa melebar ke banyak arah. Kemunculan dua karakter detektif, Jake Wiles (Peter Sarsgaard) dan Myrna Mallow (Penelope Cruz), membuat fokus cerita semakin terpecah.
Ada juga ide menarik tentang gerakan perempuan. Sayangnya gagasan ini hanya muncul sekilas, seperti bumbu tambahan yang nggak benar-benar digarap lebih dalam.
Meski begitu, film ini memiliki beberapa momen visual yang sangat kuat. Salah satu yang paling berkesan bagiku ada pada adegan dansa antara The Bride dan Frank di sebuah pesta. Tiba-tiba seluruh ruangan ikut menari seperti kerasukan emosi yang sama. Nggak ada logika yang menjelaskan kejadian itu memang.
Memang betul, alurnya sering terasa kacau dan ide-idenya terlalu banyak untuk satu cerita.
Namun di balik kekacauan itu, ada visi yang sangat jelas dari Maggie Gyllenhaal, yakni merayakan kebebasan, pemberontakan terhadap norma lama, dan memberi suara bagi karakter yang selama puluhan tahun hanya menjadi pelengkap dalam kisah Frankenstein.
Film ini memang nggak sempurna. Namun, keberaniannya untuk tampil liar dan berbeda membuatnya tetap menarik untuk ditonton. Mumpung masih ada bioskop yang menayangkan film ini, buruan tonton deh!
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Film Sirat: Meniti Jalan Sunyi yang Mengaduk-aduk Emosi Lewat Visual
-
Film War Machine: Latihan Militer Mendadak Berubah Jadi Teror Robot
-
Menelisik Satir Horor yang Unik meski Nggak Sempurna dalam Film Setan Alas!
-
Empat Nasi Box Menjelang Puasa
-
Keseruan Film Hoppers yang Bereksperimen Melalui Cerita dan Perpaduan Genre
Artikel Terkait
Ulasan
-
Bersenandung dengan Puisi di Buku Syair-Syair Cinta Karya Kahlil Gibran
-
Pelajaran Berharga tentang Waktu dari Buku Seni Mengelola Waktu
-
Makin Bijak di Bulan Ramadan: Bedah Kitab Luqman al Hakim yang Namanya Diabadikan di Al Quran
-
Memutus Rantai Toxic di Novel Hi Berlin 1998 Karya Wahyuni Albiy
-
Tiba Sebelum Berangkat: Menjahit Luka Sejarah Kaum Bissu di Wajo
Terkini
-
Tak Seperti Kamu
-
Lebaran Sebentar Lagi! dr. Tirta Bagikan Tips agar THR Tak Boncos
-
Hoppers Debut Box Office Pekan Ini, Salip The Bride yang Mulai Merugi
-
Sering Dianggap Sepele, 6 Barang Ini Sebaiknya Tidak Dibawa saat Mudik
-
4 Rekomendasi HP Snapdragon Murah Maret 2026: Performa Stabil Harga Mulai Rp1 Jutaan