Novel Matahari karya Tere Liye adalah buku ketiga dalam seri petualangan Raib, Seli, dan Ali, setelah Bumi dan Bulan. Kalau Bulan meninggalkan jejak kehilangan yang cukup dalam, maka Matahari terasa seperti fase setelahnya: lebih hening, lebih reflektif, tapi tetap menyimpan bara petualangan yang siap menyala kapan saja.
Aura sedih dari buku sebelumnya masih terasa. Ada semacam kekosongan yang belum sepenuhnya pulih. Hal ini juga terlihat dari perubahan kecil pada karakter di novel ini, terutama Ali. Biasanya tengil dan sulit diatur, di buku ini ia sempat menunjukkan sisi yang lebih “dewasa”.
Tidak terlalu merepotkan Raib dan Seli, bahkan urusan sekolah pun tidak lagi jadi sumber masalah besar. Absennya sosok Miss Selena juga memperkuat suasana sepi ini.
Sinopsis Novel
Tapi tentu saja, Ali tetaplah Ali.
Dalam keheningan itu, justru muncul kegelisahan. Ia tidak betah jika tidak membuat sesuatu atau lebih tepatnya, kekacauan kecil yang berujung petualangan besar. Setelah mempelajari teknologi dari Klan Bulan dan Matahari, rasa penasarannya memuncak. Lahirlah “Ily versi 2.0” lebih canggih, lebih nekat, dan tentu saja lebih berbahaya.
Dari sinilah cerita bergerak. Tanpa menggunakan Buku Kehidupan milik Raib yang kini dilarang digunakan, mereka memulai perjalanan fisik menuju Klan Bintang. Ini menjadi pembeda utama dibanding dua buku sebelumnya. Tidak ada portal instan, tidak ada jalan pintas. Mereka harus benar-benar mencari “pintu masuk”, menjelajah lorong kuno, dan menghadapi bahaya secara langsung.
Dan di sinilah nuansa remaja terasa sangat kuat.
Keputusan-keputusan impulsif, rasa penasaran yang besar, dan keberanian yang kadang nyaris sembrono. Semuanya terasa sangat “remaja banget”. Ali menjadi representasi paling jelas dari semangat ini. Ia cerdas, tapi juga nekat. Visioner, tapi seringkali terlalu cepat bertindak.
Namun, di balik itu semua, Matahari sebenarnya lebih terasa seperti jembatan cerita. Konfliknya tidak meledak-ledak seperti Bulan, tapi lebih fokus membangun dunia baru: Klan Bintang.
Salah satu hal paling menarik dari novel ini adalah konsep dunianya. Berbeda dari bayangan banyak orang, Klan Bintang ternyata tidak berada di galaksi jauh atau planet lain. Justru sebaliknya mereka hidup di Bumi, tersembunyi jauh di dalam perut Bumi. Sebuah ide yang sederhana, tapi terasa mengejutkan. Seolah mengingatkan bahwa dunia ini mungkin lebih luas dari yang kita lihat.
Kelebihan dan Kekurangan
Ali menjadi tokoh kunci dalam mengungkap hipotesis ini. Dengan kecerdasannya, ia menghubungkan berbagai pengetahuan dari Klan Bulan dan Matahari hingga akhirnya menyimpulkan lokasi Klan Bintang. Di sinilah sisi jenius Ali benar-benar ditonjolkan. Novel ini, pada banyak bagian, memang terasa seperti “buku tentang Ali”.
Perjalanan menuju Klan Bintang juga tidak mudah. Mereka harus menghadapi berbagai makhluk buas. Ular raksasa, kelelawar sebesar sapi, hingga medan berbahaya seperti lorong bawah tanah dan padang kristal. Petualangan kali ini terasa lebih “fisik” dan menegangkan karena mereka benar-benar mengandalkan usaha sendiri, tanpa bantuan orang dewasa.
Klan ini digambarkan sebagai peradaban paling maju secara teknologi, tetapi uniknya tidak memiliki kekuatan super seperti klan lain. Di sinilah muncul tokoh-tokoh baru seperti Faar, Kaar, dan Meer, serta sosok antagonis utama: Sekretaris Dewan Kota, figur ambisius yang haus kekuasaan dan melihat kehadiran tiga sahabat ini sebagai ancaman.
Intrik politik mulai terasa, meskipun belum sepenuhnya mencapai klimaks besar. Lagi-lagi, ini menegaskan bahwa Matahari memang sedang membangun sesuatu yang lebih besar untuk buku selanjutnya.
Matahari adalah kombinasi antara petualangan, eksplorasi dunia baru, dan dinamika remaja yang kuat. Mungkin tidak seintens buku sebelumnya dari segi konflik, tapi justru terasa penting sebagai fondasi cerita ke depan.
Identitas Buku
- Judul: Matahari
- Penulis: Tere Liye
- Penerbit: Sabak Grip Nusantara
- Tahun Terbit: Desember 2024
- Tebal: 392 halaman
- Genre: Fantasi/Petualangan
- Seri: Bumi #3
Baca Juga
-
Perebutan Kuasa Tertinggi Asia Pasifik, Membaca Kisah Bujang di Novel Pergi
-
Menanam Mindset Baru, Setiap Luka Bisa Jadi Peluang di From Zero to Survive
-
Mengurai Makna Hidup dalam Rembulan Tenggelam di Wajahmu
-
Berlayarnya Blitar Holland, Kisah Perjalanan Haji 1938 di Novel Rindu
-
Pengejaran Si Tanpa Mahkota di Novel Komet Karya Tere Liye
Artikel Terkait
Ulasan
-
Film Tunggu Aku Sukses Nanti: Cerminan Pilu Anak Pertama saat Lebaran
-
Review Film Senin Harga Naik: Emosi Mengalir Alami Tanpa Drama Berlebih
-
Haru Tanpa Drama Berlebih di Film Senin Harga Naik: Bikin Kamu Nangis Saat Ingat Ibu
-
Review Film Sugar: Perjuangan Ibu Melawan Birokrasi Demi Obat untuk Anaknya
-
Perebutan Kuasa Tertinggi Asia Pasifik, Membaca Kisah Bujang di Novel Pergi
Terkini
-
Anti Telat! 6 Tips agar Tidak Kesiangan Sholat Ied yang Bisa Kamu Terapkan
-
Tunjukkan Performa Memukau, Ezra Walian Layak Comeback ke Timnas Indonesia!
-
Gaji Ratusan Ribu, Tanggung Jawab Selangit: Ironi Guru Honorer sang "Iron Man" Pendidikan
-
Tayang Paruh Kedua, Ini Jajaran Pemain Drakor Komedi New Recruit 4
-
5 Drakor Nostalgia yang Wajib Ditonton saat Libur Lebaran, Ada Reply 1988