Sebagai seorang yang pernah masuk dalam dunia konservasi lingkungan dan belajar dengan ekolog tropis, saya sering mendengar pertanyaan yang menyimpan kekeliruan besar. Kalau hutan gambut rusak, kan bisa ditanami lagi?
Pertanyaan ini tampak logis di permukaan. Namun, justru di situlah letak masalahnya. Kita menyamakan hutan gambut dengan hutan biasa, seolah-olah keduanya bisa dipulihkan dengan cara yang sama.
Faktanya, hutan gambut bukan sekadar kumpulan pohon. Ia adalah arsip waktu.
Lahan gambut terbentuk dari akumulasi bahan organik. Baik daun, akar, dan sisa tumbuhan yang membusuk secara sangat lambat dalam kondisi tergenang air dan minim oksigen. Proses ini tidak berlangsung dalam hitungan tahun atau dekade, melainkan ribuan hingga jutaan tahun. Artinya, setiap lapisan gambut adalah catatan sejarah panjang ekosistem yang tidak tergantikan.
Ketika hutan gambut rusak. Entah karena pembakaran, pengeringan, atau alih fungsi lahan yang hilang bukan hanya vegetasi di permukaan. Yang hilang adalah sistem ekologis yang terbentuk selama ribuan generasi. Menggantinya dengan perkebunan, misalnya, bukanlah “pemulihan”, melainkan perubahan total identitas lanskap.
Di sinilah kita perlu jujur bahwa tidak ada yang sebanding dengan hutan gambut.
Sering kali, narasi pembangunan mencoba menyeimbangkan kerusakan dengan kompensasi. Satu hektare hutan ditebang, lalu diganti dengan satu hektare tanaman baru. Secara angka terlihat adil. Namun dalam konteks gambut, logika ini runtuh. Kita tidak sedang menukar sesuatu yang setara. Kita sedang menukar sesuatu yang terbentuk dalam jutaan tahun dengan sesuatu yang baru berumur beberapa bulan.
Lebih jauh lagi, kerusakan gambut bukan hanya soal kehilangan keanekaragaman hayati. Ia juga menyangkut stabilitas iklim global. Gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar. Bahkan jauh lebih besar dibanding hutan mineral biasa. Ketika dikeringkan atau terbakar, karbon itu dilepaskan ke atmosfer dalam skala masif, mempercepat krisis iklim yang dampaknya kita rasakan hari ini.
Ironisnya, kerusakan ini sering terjadi karena alasan yang tampak “rasional”. Kebutuhan ekonomi, ekspansi industri, atau pembangunan infrastruktur. Namun rasionalitas ini kerap bersifat jangka pendek. Kita menghitung keuntungan dalam hitungan tahun, tetapi mengabaikan kerugian yang akan berlangsung selama ratusan bahkan ribuan tahun ke depan.
Ada pula anggapan bahwa teknologi bisa memperbaiki segalanya. Bahwa dengan restorasi, reklamasi, atau rekayasa lingkungan, kita bisa mengembalikan gambut seperti semula. Ini adalah optimisme yang perlu dikritisi. Restorasi memang penting, tetapi harus dipahami sebagai upaya memperbaiki fungsi, bukan mengembalikan kondisi asli. Gambut yang sudah rusak tidak akan pernah benar-benar sama lagi.
Di titik ini, pendekatan kita harus berubah, dari memperbaiki menjadi mencegah.
Melindungi hutan gambut bukan sekadar pilihan ekologis, tetapi keharusan logis. Kita tidak bisa terus mengandalkan pola pikir “rusak dulu, perbaiki nanti” untuk ekosistem yang tidak bisa diperbaiki sepenuhnya. Dalam kasus gambut, kerusakan adalah kehilangan permanen.
Yang juga perlu disadari adalah bahwa nilai hutan gambut tidak selalu terlihat secara langsung. Ia tidak selalu menghasilkan keuntungan instan seperti komoditas ekonomi. Namun justru di situlah nilainya sebagai penyangga kehidupan, penyimpan karbon, pengatur air, dan rumah bagi biodiversitas unik.
Kita hidup di zaman yang cenderung mengukur segala sesuatu dengan angka dan manfaat cepat. Tetapi hutan gambut mengajarkan sesuatu yang berbeda: bahwa ada hal-hal yang nilainya melampaui hitungan ekonomi.
Karena sekali ia hilang, yang hilang bukan hanya hutan. Yang hilang adalah waktu, sesuatu yang bahkan peradaban paling maju pun tidak bisa menciptakannya kembali.
Baca Juga
-
Bertahan di Tempat yang Menyakitkan: Kisah Lela dan Anak-Anak Terlupakan
-
Antara Adab dan Inferioritas: Membaca Ulang Warisan Mentalitas Kolonial
-
Seni Mengenal Diri Lewat Teman: Membaca Kita Adalah Siapa yang Kita Temui
-
Buku Waras di Zaman Edan: Seni Bertahan Tanpa Ikut Gila
-
Sekolah Mahal vs Sekolah Biasa: Kita Sebenarnya Tahu Bedanya
Artikel Terkait
-
Tak Sekadar Wisata, Bagaimana Edukasi dan Restorasi Sains Menjaga Terumbu Karang?
-
Menjaga yang Tersisa: Peran Rahayu Oktaviani dan KIARA dalam Konservasi Owa Jawa
-
4 Jenis Ikan Belida yang Nyaris Punah Berhasil Dikonservasi di Sungai Musi
-
Naga Purba ke Jepang: Diplomasi Hijau dan Misi Penyelamatan Komodo
-
Suara dari Sungai Ciliwung: Ketika Warga Menggantikan Peran Negara
Kolom
-
Hardiknas dan Jurang UMR: Mengapa Tidak Semua Anak Berani Bermimpi?
-
Ketika Anak Menjadi Korban Daycare, Ibu Sudah Cukup Hancur Tanpa Perlu Dihakimi
-
May Day Vibes: Kerja Jalan, Harga Naik, Pekerja Perempuan Makin Overthinking
-
Antara Adab dan Inferioritas: Membaca Ulang Warisan Mentalitas Kolonial
-
Perempuan dalam Dunia Pendidikan: Dari Murid hingga Penggerak Perubahan
Terkini
-
Potret Hidup yang Perih dan Berisik dalam Novel Jakarta Selintas Aram
-
Bukan Lagi Dilan yang Kita Kenal: Mengapa 'Dilan ITB 1997' Lebih Sunyi dan Penuh Luka?
-
4 Clay Mask Centella untuk Pori Bersih Tanpa Bikin Kulit Kering
-
Bertahan di Tempat yang Menyakitkan: Kisah Lela dan Anak-Anak Terlupakan
-
Wild Eyes Diadaptasi Jadi Drama Pendek, Angkat Romansa dan Konflik Istana