Buku ini pernah menarik atensiku saat mengunjungi Gramedia. Tentu saja karena covernya yang cantik dan memukau ini. Butterflies: A Little Love Story karya Ale, kukira adalah kumpulan cerpen atau puisi. Maka dari itu aku tidak jadi membawanya ke kasir saat itu.
Nah, belakangan aku mengunjungi kafe buku di kotaku, dan ada buku ini di deretan rak yang dipajang rapi. Dan ceritanya ternyata begitu unik. Tentang kisah penulis muda dan si pemilik kafe buku.
Berawal dari cerita Alternative Universe (AU) di Twitter, novel ini membuktikan bahwa ruang digital bukan sekadar tempat berbagi cerita singkat, tetapi juga bisa menjadi ladang lahirnya karya populer yang dekat dengan generasi muda.
Sinopsis Novel
Amara Nibiru, seorang remaja pecinta buku, dan Abel Khaizure, pemilik kafe buku yang hangat sekaligus penuh misteri emosional. Dari pertemuan sederhana di Kafe K, hubungan mereka berkembang menjadi perjalanan batin yang tidak hanya berbicara tentang cinta, tetapi juga tentang penyembuhan luka dan penerimaan diri.
Amara digambarkan sebagai sosok pembaca yang tenggelam dalam dunia literasi. Sesuatu yang sangat dekat dengan banyak pembaca muda. Sementara Abel hadir sebagai figur “nyaris sempurna”: cerdas, tenang, dan penuh empati. Dinamika keduanya menciptakan ruang cerita yang hangat, ringan, dan mudah diikuti.
Elemen menarik lainnya adalah kehadiran tokoh Lail Khaizure, seorang penulis yang menjadi penghubung emosional antara Amara dan Abel. Surat-surat yang ditulis Amara kepada Lail sejak kecil menjadi benang merah yang mengikat keseluruhan cerita. Dari sini, pembaca diajak memahami bahwa hubungan manusia sering kali terjalin secara tak terduga melalui kata, kenangan, dan waktu.
Namun, seperti banyak karya adaptasi dari AU, novel ini juga menghadapi tantangan dalam konsistensi alur. Paruh pertama cerita terasa cukup kuat dalam membangun suasana dan karakter. Akan tetapi, memasuki bagian tengah hingga akhir, alurnya cenderung terburu-buru.
Perkembangan hubungan Amara dan Abel terasa instan, sehingga chemistry yang seharusnya menjadi inti cerita justru tidak sepenuhnya tergali.
Meski demikian, hal tersebut tidak sepenuhnya mengurangi daya tarik novel ini. Justru, bagi pembaca yang mencari bacaan ringan dengan nuansa fluff yang penuh kehangatan dan minim konflik berat. Butterflies tetap menjadi pilihan yang menyenangkan. Sensasi “kupu-kupu di perut” yang menjadi metafora utama cerita masih bisa dirasakan, meskipun tidak terlalu intens.
Kelebihan dan Kekurangan
Dari segi gaya penulisan, Ale menghadirkan narasi yang sederhana dan mudah dicerna. Ini menjadi nilai plus, terutama bagi pembaca remaja atau mereka yang baru mulai kembali membaca.
Dengan pengolahan yang lebih matang, sebenarnya novel ini memiliki potensi untuk menjadi karya yang jauh lebih kuat.
Secara tematik, Butterflies berbicara tentang luka masa lalu, pencarian jati diri, dan keberanian untuk membuka hati kembali. Novel ini juga menyiratkan bahwa proses penyembuhan tidak selalu dramatis. Kadang justru hadir dalam hal-hal kecil, seperti percakapan, buku, atau tempat yang terasa aman.
Selain itu, latar kafe buku menjadi daya tarik tersendiri. Ia bukan sekadar setting, tetapi simbol ruang aman. Tempat di mana karakter bisa menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi. Tak heran jika banyak pembaca merasa terinspirasi, bahkan memimpikan memiliki ruang serupa dalam kehidupan nyata.
Butterflies: A Little Love Story adalah novel yang sederhana namun punya pesona. Ia mungkin tidak sempurna dari segi struktur cerita, tetapi berhasil menghadirkan pengalaman membaca yang hangat dan personal. Buku ini mengingatkan kita bahwa dalam hidup, seperti dalam cinta, tidak semua hal harus kompleks untuk bisa terasa berarti.
Dan mungkin, seperti kupu-kupu yang menjadi simbolnya, cerita ini mengajarkan satu hal penting. Bahwa perubahan, sekecil apa pun, tetap layak dirayakan.
Identitas Buku
- Judul: Butterflies (A Little Love Story)
- Penulis: Ale (Alesacakes)
- Penerbit: Nexterday Publisher
- Tahun Terbit: 2021
- ISBN: 978-623-98605-0-9
- Tebal: 268 Halaman
- Genre: Romance, Fiction
Baca Juga
-
Berita Buruk Bukan Sekadar Kabar: Di Balik Layar Ada Orang yang Menderita
-
Tugas Guru Itu Mengajar, Bukan Menjadi Petugas Pemeriksa MBG
-
BPS vs Bank Dunia: Mengapa Angka Kemiskinan Indonesia Bisa Berbeda Jauh?
-
Subsidi Besar, Biaya Hidup Naik, Daya Beli Tergerus: Apa yang Keliru?
-
Tall Poppy Syndrome: Ketika Orang Berhasil Justru Dicari Kekurangannya
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Can This Love Be Translated?: Cinta Tak Semudah Menerjemahkan Kata
-
Ulasan Novel Inestable: Belajar Pentingnya Komunikasi dalam Hubungan
-
The Taming of the Shrew: Ketika Cinta, Kekuasaan, dan Gender Saling Berhadapan
-
Berawal Dikejar Deadline, Review Novel Progresnya Berapa Persen?
-
Novel Sabtu Bersama Bapak: Hangatnya Pesan Seorang Ayah
Terkini
-
Ketika Pemimpin Tak Percaya Pakar, Bagaimana Negara Menentukan Arah?
-
5 Cara Bersosialisasi Tanpa Kehabisan Energi untuk Kaum Introvert
-
5 Sepatu Lari Lokal yang Cocok untuk Maraton, Ada di Bawah Rp1 Juta
-
Sinopsis Revenge, Drama China Terbaru Lu Yu Xiao dan Zhang Ling He di WeTV
-
Manfaat Ekosistem Gambut dan Peran Karbon untuk Satwa dan Manusia