Ilmu akhlak merupakan salah satu ilmu dasar yang wajib diajarkan di pondok pesantren, mulai dari kelas bawah hingga kelas atas. Dalam mengajarkan akhlak, selain melalui praktik langsung, tentu juga perlu didukung dengan kitab klasik yang mudah dipahami, terutama bagi pemula yang baru mengenal bahasa Arab.
Salah satu kitab yang sering digunakan adalah Taisirul Khallaq, yang secara sederhana bisa diartikan sebagai “memudahkan dalam berakhlak.” Dalam bahasa Jawa, sering dipahami sebagai “gampang-gampange akhlak.” Kitab ini ditulis oleh Hafizh Hasan al-Mas’udi, seorang ulama dari Darul Ulum, Al-Azhar, Mesir.
Meski ditulis dalam bahasa Arab klasik atau fusha, isi Taisirul Khallaq sebenarnya tidak hanya bicara soal moral, tapi juga tentang kesehatan mental dan perilaku, sehingga sering dibahas dalam berbagai riset seperti skirpsi, jurnal maupun disertasi.
Kalau dilihat sekarang, banyak pembelajaran itu terlalu fokus ke teori—penjelasannya panjang, tapi kadang malah kurang kena ke inti. Termasuk dalam belajar akhlak, sering kali isinya terasa penuh basa-basi, muter-muter, dan kurang jelas sebenarnya sikap yang dimaksud itu seperti apa.
Padahal, yang dibutuhkan justru yang to the point: penjelasan yang langsung, mudah dipahami, gampang diingat, dan bisa langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak cuma definisi yang formal, tapi benar-benar ngajarin bagaimana bersikap dengan baik secara nyata.
Nah, kitab ini hadir menjawab kebutuhan itu. Dalam konteks pendidikan, pembelajaran akhlak seharusnya tidak hanya berhenti pada pengetahuan (kognitif) atau keterampilan (psikomotorik), tapi juga menyentuh sisi sikap dan kebiasaan (afektif). Idealnya, ketiganya berjalan seimbang dalam diri setiap peserta didik.
Kitab ini terdiri dari 47 bab, dimulai dari muqaddimah (pembukaan). Dalam muqaddimahnya dijelaskan bahwa kitab ini merupakan ringkasan ilmu akhlak yang disusun khusus untuk pelajar tahun pertama di Al-Azhar, dengan harapan bisa memudahkan mereka dalam memahami dan mengamalkan akhlak.
Pembahasan dalam kitab ini berfokus pada dua hal utama: menghiasi diri dengan akhlak terpuji dan menjauhi akhlak tercela. Tujuannya agar manusia memiliki hati yang baik, mampu menjaga perilakunya dalam kehidupan sehari-hari, serta mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Keunikan kitab ini terletak pada pembahasannya yang praktis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari adab bertetangga, adab makan, minum, tidur, hingga cara bersosial dan bergaul dalam masyarakat. Hal-hal yang sering dianggap sepele justru dijelaskan dengan jelas.
Selain itu, kitab ini juga membahas akhlak tercela yang sering dilakukan tanpa disadari, seperti namimah (adu domba atau memindahkan omongan dari satu orang ke orang lain), hasad (iri dengki), ghibah (membicarakan keburukan orang lain), hingga sikap zalim kepada diri sendiri maupun orang lain. Bahkan kebiasaan seperti mengeluh atau berkata kasar juga termasuk yang perlu diperhatikan.
Di sisi lain, kitab ini juga mengajarkan akhlak terpuji seperti menjaga muru’ah (harga diri), menghindari hal-hal yang syubhat (tidak jelas halal haramnya), serta berhati-hati dalam hal kecil yang sering dianggap sepele—misalnya mengambil barang yang bukan milik kita walaupun terlihat tidak ada pemiliknya walu sebuah mangga jatuh dijalan.
Menariknya, pembahasannya cukup moderat. Tidak menuntut manusia untuk menghilangkan emosi seperti marah atau sedih, tetapi mengarahkan agar emosi tersebut tetap dalam batas yang wajar dan sesuai dengan nilai-nilai yang baik. Di banyak pesantren, kitab ini sering diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa Pegon atau bahasa Indonesia agar lebih mudah dipahami oleh para santri.
Identitas Kitab
- Penulis: Hafizh Hasan al-Mas’udi
- Penerbit: Al-Miftah Surabaya
- Varian: Makna Pesantren
- Jenis Cover: Soft Cover (SC)
- Dimensi: 14 x 20 cm
- Jenis Kertas: HVS
- Jumlah Halaman: 46 halaman
Baca Juga
-
Buku Skulduggery Pleasant: Gerbang Kiamat di Tangan Detektif Tengkorak
-
Pria Punya Hak untuk Menangis: Belajar Mengolah Duka dari Mencuci Piring
-
Bukan Anak Bungsu Biasa: Menilik Rahasia Kekuatan Amelia di Si Anak Kuat
-
Dusta Indah dan Doa yang Nyata: Mengenal Sosok Ibu dalam Karya Kang Maman
-
Cinta Suci Nadia: Saat Kesalehan Diuji oleh Masa Lalu yang Kelam
Artikel Terkait
-
Review Jujur: Apa Kata Buku 'Muslim Milenial' Tentang Tren Hijrah dan Startup Islami?
-
Pria Punya Hak untuk Menangis: Belajar Mengolah Duka dari Mencuci Piring
-
Gentayangan karya Intan Paramaditha: Menjadi "Cewek Bandel" di Balik Pilihan Sulit
-
Review Rumah Kaca: Akhir Tragis Perjuangan Minke di Tangan Pangemanann
-
Soal Perbedaan 1 Syawal 1447 H, MUI Sebut Penetapan Idulfitri Adalah Kewenangan Pemerintah
Ulasan
-
Ukuran Monster di Troll 2 Tambah Gede, tapi Ceritanya Kok Jadi Jinak?
-
Novel Man Tiger, Misteri Pembunuhan Anwar Sadat dan Labirin Pengkhianatan
-
Tommy Shelby Kembali! Film Peaky Blinders: The Immortal Man Sajikan Fan Service yang Tajam
-
Bukan Tips Diet: Membedah Stigma dan Kebebasan dalam Novel Amalia Yunus
-
Review Jujur: Apa Kata Buku 'Muslim Milenial' Tentang Tren Hijrah dan Startup Islami?
Terkini
-
MotoGP Brasil 2026: Marco Bezzecchi Menang 4 Kali, Aprilia Makin Dipuji
-
Jujutsu Kaisen Rilis PV Sendai Colony, 3 Pemeran Baru Turut Diperkenalkan
-
Review Hambalang 6,5 Jam: Ketika Najwa Shihab dan Chatib Basri Diskusi Maraton Bareng Presiden
-
Gak Harus Putar Balik! Ini 4 Solusi Jitu Jika Kartu e-Toll Ketinggalan saat Mudik
-
THR-ku Sayang, Tabungan-ku Layu: 5 Strategi Jitu Amankan Kondisi Dompet Pasca Lebaran