Bagi saya, novel Burlian bukan sekadar bacaan masa kecil, melainkan sebuah mahakarya tentang keluarga yang menyentuh jiwa. Saking larisnya dipinjam, buku fisik yang saya miliki sampai copot cover aslinya hingga saya harus menggantinya dengan kertas tebal agar tetap awet. Novel Burlian sudah berkali- kali ganti cover dan juga ganti judul menjadi Si Anak Spesial.
Ulasan
Melalui kacamata Burlian, anak ketiga dari empat bersaudara, kita diajak menyelami masa kecil yang sangat nakal namun dalam taraf yang wajar dan jenaka. Salah satu momen tak terlupakan adalah saat Burlian nekat menggepengkan paku di rel kereta api. Saat tertangkap petugas, Mamak Nur memarahinya habis-habisan karena risiko kecelakaan yang fatal.
Menariknya, di sinilah peran Bapak menjadi penyeimbang yang hangat. Saat Mamak meledak, Bapak tidak ikut menambah api, melainkan menjadi tempat bernaung. Lucunya, Bapak ternyata menyimpan pisau kecil hasil menggepengkan paku di rel juga—bedanya, Bapak tidak ketahuan. Ada-ada saja kelakuan bapak-bapak ini.
Kekuatan utama buku ini terletak pada dinamika pola asuh yang kontras dengan tren parenting masa kini. Di era sekarang, kesalahan anak sering kali hanya dibalas dengan teguran ringan "no, no, ya Adek," tanpa konsekuensi nyata. Namun, Mamak Nur tidak demikian.
Saat Burlian bolos sekolah demi mencari belalang karena tergiur uang, Mamak memberikan hukuman logis yang jenius. Keesokan harinya, Burlian diizinkan tidak sekolah dan diajak ke ladang. Awalnya ia senang bukan kepalang, namun kesenangan itu berubah menjadi pelajaran pahit saat ia dipaksa memikul kayu bakar naik-turun bukit hingga petang tanpa istirahat, bahkan hanya diberi makan nasi putih. Barulah saat Burlian lemas, Mamak menceramahinya dengan lembut tentang betapa beratnya menjadi petani dan mengapa pendidikan itu mutlak.
Namun, seperti hampir semua anak, Burlian pun pernah berada di titik sangat membenci Mamaknya. Salah satu pemicunya adalah kekecewaan mendalam saat Mamak tidak jadi membelikannya sepeda impian. Uang yang seharusnya untuk sepeda dialihkan Mamak untuk biaya pendidikan Ayuk Eli di kota kecamatan. Burlian marah besar, ia merasa tidak adil dan tidak dipedulikan. Kita sering kali merasa jengkel karena aturan yang tidak kita pahami, hingga butuh sudut pandang orang lain untuk menyadarkannya.
Pada bab "Seberapa Besar Cinta Mamak", Tere Liye menyajikan hidangan emosional yang luar biasa. Terungkaplah pengorbanan Mamak yang pernah disengat ratusan lebah demi melindungi Burlian di bawah tubuhnya saat di ladang. Mamak sakit berhari-hari, sementara Burlian kecil saat itu tidak tahu apa-apa.
Membaca bagian ini selalu membuat saya menangis sesenggukan karena teringat Mamak saya sendiri. Pengorbanan yang dulu kami anggap biasa, ternyata adalah bentuk cinta yang paling murni. Di sini terlihat ilmu parenting yang hebat: bagaimana Bapak dan Mamak bahu-membahu menjaga mental anak. Saat anak sedang down dan merasa dibenci, sosok lain hadir menghibur dan membuka tabir pengorbanan yang selama ini disembunyikan.
Menariknya, novel ini ditutup dengan lompatan waktu yang sangat tinggi. Kita tidak diajak mengikuti detail membosankan saat Burlian SMP, SMA, atau kuliah. Tere Liye langsung membawa kita pada sosok Burlian dewasa yang telah menjadi orang sukses namun tetap bersahaja. Pilihan lintas waktu ini sangat cerdas; karena jika diceritakan per episode, mungkin esensi "Anak Spesial"-nya akan memudar.
Keberhasilan Burlian di masa depan adalah bukti nyata bahwa didikan "tangan besi" berbalut kasih sayang visioner dari pedalaman Sumatera mampu melahirkan manusia tangguh. Novel ini adalah pengingat bahwa meski dunia luar sangat keras, pelukan keluarga dan disiplin yang tepat akan selalu menjadi kompas terbaik untuk tumbuh.
Identitas Buku
Judul: Burlian (Serial Anak-Anak Mamak)
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Tebal: vi + 339 halaman
Tahun Terbit: 2015 (Cetakan XII)
Baca Juga
-
Lika-Liku Kejar Mimpi di Usia Kepala Empat, 'Timun Jelita' Hadirkan Konflik Sahabat dan Ambisi
-
Lima Sekawan Terjebak di Mercusuar Tua, Ada Apa dengan Karang Setan?
-
Ombudsman Sidak Mendadak, Lapas Cibinong Bikin Publik Terbelalak
-
Semakin Diteguk, Semakin Haus: Mengejar Dunia dalam Pareidolia
-
Big Mouth: Drakor tentang Penjara yang Mirip Berita di Indonesia
Artikel Terkait
Ulasan
-
Lika-Liku Kejar Mimpi di Usia Kepala Empat, 'Timun Jelita' Hadirkan Konflik Sahabat dan Ambisi
-
Di Tanah Lada: Apakah Mati Jadi Jalan Keluar Terbaik untuk Ava?
-
Review 'Lucky Strike': Saat Taktik Pura-Pura Mati Jadi Satu-Satunya Jalan Selamat dari Pasukan SS
-
Review Forgotten Island: Emosinya Kuat, tapi Konfliknya Terlalu Main Aman
-
Ribuan Followers tapi Kesepian? Buku Klasik Tahun 1936 Ini Punya Jawaban Menohok Buat Gen Z!
Terkini
-
Nasib Tragis The Transporter: Ditinggal Jason Statham, 2 Aktor Penggantinya Gagal Total!
-
Rangkul Kekurangan! KickFlip Ungkap Indahnya Masa Muda di Lagu Puzzle Piece
-
Salah Kaprah Filosofi Teras: Menggugat Apatisme Gen Z Berkedok Stoikisme
-
Fenomena Sunday Scaries: Membedah Horor Hari Senin Bagi Para Pekerja
-
Profesi Unik 'Ghostwriter' Aplikasi Kencan: Dibayar Mahal Cuma Buat Balas Chat Cari Jodoh!