Lintang Siltya Utami | Chairun Nisa
Novel Pukat Karya Tere LIye. (Dok. Pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Membaca ulang novel Pukat karya Tere Liye cetakan 2014 ini terasa seperti melakukan perjalanan pulang ke masa lalu yang penuh kehangatan. Sebagai pembaca yang sudah jatuh cinta dengan serial ini sejak kelas 7 SMP pada tahun 2017, menemukan kembali buku dengan cover lama di perpustakaan memicu gelombang nostalgia yang luar biasa.

Buku ini bukan sekadar cerita anak, melainkan perwujudan dari keinginan besar penulisnya untuk menghadirkan bacaan dengan standar moralitas tinggi, namun tetap dibungkus secara apik melalui kepolosan, kenakalan, dan keterbatasan anak-anak.

Melalui narasi yang mengalir, kita diperkenalkan pada keluarga Bapak Syahdan dan Mamak Nur dengan empat anak hebat mereka: Eliana, Pukat, Burlian, dan Amelia. Kali ini, fokus cerita ada pada Pukat, bocah sembilan tahun yang dijuluki "si anak pintar" karena kecerdasannya yang logis serta kejujurannya yang patut diacungi jempol.

Karakter Pukat digambarkan sangat kuat, tidak hanya sebagai anak laki-laki tertua yang bisa diandalkan keluarga, tetapi juga sebagai sosok penunai janji yang luar biasa. Ceritanya terasa sangat nyata dan jauh dari kesan dongeng karena nilai-nilai moral yang disampaikan melalui nasihat Mamak, Bapak, Pak Bin, hingga Wak Yati terasa sangat membumi.

Saya merasa buku ini adalah gudang ilmu kehidupan yang wajib ada di setiap rumah; mulai dari cara membuat puisi hingga nilai-nilai agama dan martabat diri yang kental. Terlebih lagi, penggambaran dunia sekolah dalam buku ini memberikan kerinduan tersendiri terhadap sosok guru seperti Pak Bin yang begitu perhatian, bahkan menganggap dua bulan tanpa absen bagi murid seperti Raju adalah sebuah prestasi yang layak dirayakan. Guru yang menakjubkan seperti itu rasanya sudah sangat jarang ditemui di zaman sekarang. Sayang sekali nasib Pak Bin masih menjadi guru honorer.

Secara pribadi, ada banyak bagian dalam buku ini yang benar-benar "ngena" dan membuat emosi saya naik turun. Saya sangat menyukai bagian di halaman 159, dan sejujurnya sempat kaget sekaligus lega saat karakter Raju muncul di bagian akhir, padahal sebelumnya saya sudah menduga dia akan meninggal.

Selain itu, sosok Bapak yang lebih suka memberi contoh nyata ketimbang menceramahi benar-benar menjadi figur panutan, sementara karakter Mamak Nur yang tegas namun penuh cinta terasa sangat familiar karena mirip dengan karakter Mamak saya sendiri. Rasanya ingin sekali memeluk Mamak setiap kali membaca perjuangan Mamak Nur di buku ini. Bagian tentang pelajaran menghargai sebutir nasi, di mana Pukat dan Burlian harus merasakan payahnya membantu Bapak membuka lahan baru, menjadi tamparan sekaligus pelajaran berharga tentang kerja keras.

Novel Pukat ini meninggalkan kesan mendalam tentang arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Salah satu kutipan favorit yang selalu saya ingat adalah bahwa orang yang bersungguh-sungguh jujur dan menjaga kehormatannya, meskipun hidupnya terlihat biasa-biasa saja, sebenarnya ia telah menggenggam seluruh kebahagiaan dunia.

Terpesona oleh segala ilmu kehidupan yang melekat kuat di ingatan sejak SMP, saya merasa Pukat telah mengajarkan saya bahwa kejujuran adalah mahkota tertinggi dalam hati. Dengan segala warna khas kanak-kanak, mulai dari cinta monyet hingga duka kehilangan, buku ini sukses membuat saya meneteskan air mata sekaligus tertawa. Kini, setelah menuntaskan Pukat, saya benar-benar tidak sabar untuk melanjutkan nostalgia ini ke kisah Eliana dan Amelia.

Identitas Buku

Judul: Pukat (Serial Anak-Anak Mamak)
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika Penerbit
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 9789791102735
Ketebalan: 344 Halaman