Apakah sosok dari karakter fiksi, Tommy Shelby, benar-benar bisa hidup damai? Pertanyaan itu bukan sekadar dialog dramatis, tapi bak benang merah yang menjahit seluruh perjalanan film ini dari awal sampai akhir.
Setelah sukses besar melalui Series Peaky Blinders, kisah keluarga gangster paling stylish dari Birmingham ini akhirnya kembali dalam format film.
Kali ini, ceritanya terasa lebih personal, dan jujur saja, lebih melelahkan secara emosional. Dan dalam Film Peaky Blinders: The Immortal Man yang rilis di Netflix sejak 20 Maret 2026, kisahnya berlatar enam tahun setelah akhir seriesnya.
Tommy Shelby (Cillian Murphy) kini hidup menyendiri di sebuah rumah besar yang perlahan membusuk. Rumah itu ibarat cerminan batinnya yang kosong, dingin, dan menyimpan terlalu banyak kenangan yang nggak bisa benar-benar dihapus.
Namun, seperti yang selalu terjadi dalam hidupnya, masa lalu nggak pernah benar-benar pergi. Kehadiran sang adik, Ada Shelby (Sophie Rundle), menjadi semacam pintu yang kembali terbuka dan memaksa Tommy menoleh ke belakang. Di saat yang sama, ada kabar tentang putranya, Duke Shelby (Barry Keoghan), yang kini mengambil alih bisnis keluarga.
Dari situ, segalanya mulai terasa seperti lingkaran yang berulang. Duke terlibat dalam skema berbahaya yang berkaitan dengan peredaran uang palsu dan jaringan Nazi. Konflik yang bukan hanya soal kekuasaan, tapi juga tentang konsekuensi yang nggak pernah benar-benar bisa dipilih.
Ada dosa yang diturunkan, ada luka yang terasa sekian tahun lamanya. Di titik itu, film ini berhenti jadi sebatas cerita gangster dan berubah jadi renungan tentang ayah dan anak, tentang pilihan yang mungkin sebenarnya sudah ditentukan sejak awal.
Menarik banget, deh. Lalu bagaimana impresi selepas nonton filmnya? Lanjut kepoin, yuk!
Review Film Peaky Blinders: The Immortal Man
Aku nonton dengan ekspektasi tinggi dan sedikit rasa takut kalau film ini cuma akan jadi pengulangan dari apa yang sudah aku lihat sebelumnya. Dan di satu sisi, kekhawatiran itu memang ada benarnya. Beberapa konflik terasa familier, bahkan beberapa emosi kayak mengulang pola lama yang sudah kutonton sejak seriesnya.
Namun, di sisi lain, Cillian Murphy membawakan Tommy dengan cara yang jauh lebih sunyi. Nggak banyak ledakan emosi, nggak banyak dialog panjang. Dan dari diamnya itu, kita bisa merasakan betapa lelahnya dia.
Ada momen-momen di mana dia hanya berdiri, menatap kosong, dan rasanya seperti aku lagi nonton seseorang yang sudah terlalu lama hidup dalam perang hingga akhirnya lupa bagaimana rasanya hidup.
Masuknya karakter Duke bikin dinamika tambah menarik kok. Termasuk Barry Keoghan, berhasil menghadirkan sosok yang terasa seperti bayangan muda Tommy yang ambisius, keras kepala, tapi juga menyimpan retakan yang sama.
Ada ironi yang pelan-pelan terasa. Bahwa sejarah, sekeras apa pun kita mencoba menghindarinya, sering kali tetap menemukan jalannya sendiri untuk terulang.
Sayangnya, ketika cerita mulai bergerak ke konflik besar, terutama yang melibatkan Nazi, film ini terasa sedikit kehilangan kompleksitas moral yang dulu jadi daya pikat utama Peaky Blinders. Abu-abu yang biasanya mendominasi, di sini berubah jadi lebih hitam-putih.
Meski begitu, film ini tetap punya banyak momen yang kuat. Ada adegan hujan yang terasa hampir puitis, ada percakapan yang sederhana tapi menghantam dalam. Musiknya pun masih jadi elemen yang nggak pernah gagal mengikat emosi, memperkuat suasana, dan kadang berhasil mengatakan hal-hal yang nggak diucapkan para karakter.
Memang, Film Peaky Blinders: The Immortal Man bukan penutup yang sempurna. Namun mungkin, memang nggak pernah dimaksudkan untuk jadi sempurna.
Bila Sobat Yoursay penasaran, tontonlah di Netflix! Selamat nonton, ya.
Baca Juga
-
Review The Stunt Driver: Kisah Nyata Luar Biasa, tapi Filmnya Biasa Saja
-
Harumkah Bunga di Surga?
-
Review Best of the Best: Film Tari yang Lupa Memberi Ruang pada Tariannya
-
Antara Fiksi dan Sejarah, Problematika Netflix di Serial Monster: The Lizzie Borden Story
-
Bawa Teror dari Indonesia Timur ke Layar Lebar, Ini Review Jujur Film Suanggi: Ilmu Kutukan
Artikel Terkait
-
Khusus Dewasa! Serial Vladimir Sajikan Fantasi Erotis Profesor Sastra yang Tak Terkendali
-
Sinopsis Project Hail Mary, Misi Ryan Gosling Selamatkan Bumi dari Kepunahan
-
Film India Dhurandhar: The Revenge Cetak Sejarah di Box Office AS, Ini Sinopsis dan Daftar Pemainnya
-
Siapa Sadie Sink? Aktris yang Curi Perhatian di Trailer Spider-Man: Brand New Day
-
5 Film Sci-Fi dari Masa ke Masa yang Bikin Optimis Sambut Masa Depan
Ulasan
-
Review Neagley: Drama Aksi Khas Reacher dengan Sentuhan Lebih Emosional
-
Review Buku This Book Is Seriously Silly!: Belajar Interaktif Lewat Ubur-Ubur Konyol
-
Diary of a Bee: Mengintip Kehidupan Lebah dari Sudut Pandang Matilda
-
Review Film Brave Citizen: Berani Melawan saat Semua Orang Memilih Diam
-
Ulasan Lie After Lie: Saat Kebohongan Menjadi Satu-satunya Jalan Keluar
Terkini
-
5 Sneakers Empuk yang Cocok untuk Jalan Kaki, Ada Skechers hingga ASICS
-
Dari Viral Culture ke Real-Life Culture: Eranya Gen Z Cari Pengalaman Nyata
-
Seperti Pelukan Hangat! 5 Pilihan Parfum Warm Vanilla yang Lembut di Hidung
-
Bebas Bruntusan! 4 Acne Cleansing Balm Angkat Makeup Waterproof hingga Pori
-
Mengapa Bahasa Pakar Bikin Politisi Meradang? Menjembatani Sains-Populisme