Novel Kami (Bukan) Fakir Asmara karya J.S. Khairen bisa dibilang menjadi angin segar sekaligus penutup yang unik dari seri Kami (Bukan).
Kalau di tiga buku sebelumnya kita diajak mengikuti perjalanan Ogi dan kawan-kawan dari masa kuliah sampai dunia kerja dan pernikahan, kali ini spotlight-nya pindah ke sosok yang diam-diam selalu mencuri perhatian: Bu Lira.
Betul! Dosen paling nyentrik tetapi cerdas dan inovatif inilah yang menjadi pemeran utama di buku ini. Enggak cuma cantik, dosen ini juga kelewat kreatif hingga kadang terkesan seperti makhluk anomali.
Sinopsis Novel
Lira Estrini. Dosen muda, jenius, lulusan luar negeri, spesialis genetika hewan. Pokoknya paket lengkap. Kalau di kampus, tipe dosen yang “aduhai sekali”. Tetapi lucunya, di balik semua pencapaian itu, Lira justru sering kalah di satu hal: urusan cinta. Dan di sinilah cerita mulai terasa dekat, hangat, sekaligus nyelekit.
Novel ini membawa kita menyusuri perjalanan hidup Lira dari masa mahasiswa baru sampai menjadi dosen. Kita melihat bagaimana orang-orang di sekitarnya satu per satu “naik level”: lulus, kerja, menikah, bahkan berkeluarga.
Sementara Lira? Masih berkutat dengan pertanyaan klasik yang mungkin juga sering muncul di kepala banyak orang: kapan menikah, sama siapa, dan… memang harus, ya?
Bagian paling seru tentu ada pada dinamika hubungan Lira dengan beberapa laki-laki. Salah satunya Tomi, tipe yang datang-pergi tanpa kejelasan. Dikasih perhatian sedikit, bikin baper berhari-hari. Hilang tiba-tiba, bikin overthinking seminggu. Rasanya familier? Nah, di situ letak “racunnya” cerita ini. Banyak momen yang bikin pembaca merasa, “Loh, ini gue banget.”
Belum lagi karakter seperti Arko dan Ogi yang terasa seperti representasi sebagian pria: baik, tetapi sering kali enggak peka. Interaksi mereka dengan Lira kadang bikin gemas, kadang bikin ingin menyolek, “Peka dikit napa!” Tetapi justru itu yang bikin ceritanya hidup dan tidak kaku.
Kelebihan dan Kekurangan
Yang menarik, novel ini bukan cuma soal cinta-cintaan. Ada tekanan sosial yang terasa nyata tentang standar hidup, ekspektasi menikah di usia tertentu, sampai rasa tertinggal ketika melihat orang lain melangkah lebih dulu. Lira, dengan segala kepintarannya, tetap manusia biasa yang bisa ragu, lelah, dan patah hati.
Memang, ada beberapa bagian yang terasa sedikit berulang, apalagi buat pembaca yang sudah mengikuti seri sebelumnya. Beberapa segmen seperti “Monster Ketawa” juga mungkin terasa kurang nyambung bagi sebagian orang. Tetapi di luar itu, alur ceritanya tetap mengalir ringan dan mudah dinikmati.
Hal yang paling bikin geregetan? Ending-nya. Alih-alih memberikan jawaban jelas, penulis justru “menggantung” satu pertanyaan besar: sebenarnya Lira menikah dengan siapa?
Buat sebagian pembaca, ini mungkin menyebalkan. Tetapi di sisi lain, ini juga menjadi cara cerdas untuk menegaskan bahwa hidup dan cinta enggak selalu harus punya jawaban pasti.
Secara keseluruhan, novel ini terasa sangat relate, terutama bagi perempuan yang pernah (atau sedang) ada pada fase mencari pasangan. Fase di mana senyum kecil bisa menjadi bahan memikir semalaman, perhatian sederhana terasa spesial, dan kehilangan kecil bisa terasa besar.
Kami (Bukan) Fakir Asmara seolah ingin bilang: patah hati itu biasa. Jadi badut dalam hubungan? Pernah. Ditinggal pas lagi sayang-sayangnya? Banyak yang mengalami. Tetapi semua itu bukan akhir. Akan ada waktunya hati yang retak kembali utuh di tangan yang tepat.
Dan mungkin, jawaban dari pertanyaan besar di novel ini sederhana saja. Kalau fakir miskin dipelihara negara, maka fakir asmara… ya dipelihara harapan. Harapan bahwa suatu hari nanti, cinta akan datang. Enggak telat, enggak salah alamat, tetapi pas.
Identitas Buku
- Judul: Kami (Bukan) Fakir Asmara
- Penulis: J.S. Khairen
- Penerbit: Bukuné
- Tahun Terbit: 2022
- Tebal Halaman: 356 halaman
- ISBN: 9786022204138
- Genre: Fiksi / Roman
Baca Juga
-
Dari Fort Du Bus hingga Trikora: Membaca Papua dari Arsip Kolonial
-
Nuku: Sultan Pemberontak yang Mengguncang Imperium VOC di Nusantara Timur
-
Membaca Indonesia dari Kacamata Orde Baru: Menelusuri Indonesia 1979
-
Berdemokrasi dengan Sehat: Bicara Politik itu Hak Warga Negara
-
Menelusuri Kehidupan Sosial Batavia di Buku Jean Gelman Taylor
Artikel Terkait
-
Ustaz Idaman, Murid Kebingungan: Memberi Hormat atau Mengutarakan Perasaan?
-
Devils' Crest, Anime Baru Kreator Sword Art Online Dijadwalkan Tayang 2026
-
Ulasan Novel Kerumunan Terakhir, Pudarnya Batas Realitas Kehidupan
-
Ulasan Novel Lalita, Menelusuri Jejak Sejarah 1965 di Balik Candi Borobudur
-
Alur Serius, Tokoh Misterius: Kontradiktif di Novel Melangkah J.S. Khairen
Ulasan
-
Saat Sampul Manis Menyembunyikan Thriller Psikologis: Ulasan The Arson Project
-
Dari Fort Du Bus hingga Trikora: Membaca Papua dari Arsip Kolonial
-
Sisi Gelap Sirkus Media di Serial Dokumenter Michael Jackson: The Verdict
-
Memoar Getir Vabyo: Ketika Eksploitasi Kerja Dibungkus Ironi Komedi
-
Demi Krypto dan Cinta: Pengorbanan yang Menjadi Jantung Film Supergirl
Terkini
-
Menggugat Orkestrasi Dukungan MBG: Gerakan Murni atau Pertunjukan Politik?
-
Anime THE ONE PIECE Rilis Teaser Perdana, Mayumi Tanaka Kembali jadi Luffy
-
Masih Hangat!Honor X80 Pro Max Resmi Debut 22 Juni:Usung Baterai 11.000 mAh dan Layar 10.000 Nits
-
Nonton Pee Nak 5: Siap-siap Ketawa di Antara Jump Scare yang Bikin Jantungan!
-
Marco Bezzecchi vs Marshal: Valentino Rossi Tak Menyangka Muridnya Diskors