Buku ini dibuka dengan potret kehidupan Wiji Thukul di Solo. Ia tumbuh di tengah kemiskinan, namun memiliki kekayaan intelektual dan kepekaan sosial yang luar biasa. Tim TEMPO dengan apik menggambarkan bagaimana Thukul menggunakan kata-kata sebagai alat perlawanan. Bagi Thukul, puisi bukan sekadar rima yang indah, melainkan peluru yang siap ditembakkan ke arah ketidakadilan.
Salah satu fokus utama novel ini adalah analisis terhadap puisi-puisinya yang fenomenal, seperti "Peringatan" yang memuat baris legendaris, "Hanya ada satu kata: lawan!". Tim penulis berhasil menunjukkan bahwa kekuatan Thukul terletak pada kesederhanaan bahasanya. Ia bicara tentang nasi yang mahal, tentang upah buruh yang rendah, dan tentang sepatu yang rusak, hal-hal yang sangat dekat dengan rakyat jelata. Justru karena kesederhanaannya itulah, puisi-puisinya dianggap sangat berbahaya oleh rezim Orde Baru.
Narasi buku ini membawa pembaca ke dalam momen-momen paling mencekam dalam hidup Thukul, terutama pasca-peristiwa 27 Juli 1996 (Kudatuli). Thukul dituduh terlibat dalam Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang saat itu dicap sebagai dalang kerusuhan oleh pemerintah. Sejak saat itu, dimulailah babak paling gelap, pelarian.
Tim TEMPO memberikan detail-detail yang jarang diketahui publik mengenai masa persembunyian Thukul. Dari satu kota ke kota lain, dari satu kawan ke kawan lain, Thukul hidup dalam ketakutan namun tetap terus menulis. Buku ini menggambarkan sisi manusiawi Thukul yang merindukan istri dan anak-anaknya, Sipon, Fajar Merah, dan Fitri Nganti Wani. Di sini, pembaca tidak hanya melihat Thukul sebagai pahlawan tanpa celah, tetapi sebagai seorang ayah dan suami yang hancur hatinya karena harus terpisah dari keluarga demi keselamatan nyawa.
Inti dari buku ini, sesuai judulnya, adalah investigasi mengenai hilangnya Thukul. Tim TEMPO melakukan kerja jurnalistik yang luar biasa dengan menelusuri jejak terakhir Thukul sebelum ia benar-benar raib dari muka Bumi pada awal tahun 1998. Melalui kesaksian para aktivis yang juga menjadi korban penculikan Tim Mawar, buku ini mencoba membangun hipotesis mengenai nasib Thukul.
Membaca bagian ini memberikan rasa sesak di dada. Ada banyak spekulasi, mulai dari Thukul yang dieksekusi di tempat rahasia hingga kemungkinan-kemungkinan lain yang belum terbukti. Namun, satu hal yang pasti, negara memiliki utang sejarah yang besar untuk mengungkap kebenaran ini. Buku ini secara halus namun tegas menuntut pertanggungjawaban dari mereka yang berada di lingkaran kekuasaan saat itu.
Kelebihan utama dari buku ini adalah gaya penulisannya yang sangat khas TEMPO, lugas, faktual, namun tetap mengalir seperti novel. Tim penulis tidak terjebak dalam romantisme berlebihan atau glorifikasi buta. Mereka menyajikan fakta-fakta mentah, hasil investigasi lapangan, dan membiarkan pembaca menarik kesimpulan sendiri.
Penggunaan foto-foto dokumentasi, lampiran puisi, serta testimoni dari rekan-rekan seperjuangan membuat buku ini terasa sangat hidup. Pembaca seolah-olah diajak untuk ikut bersembunyi di balik pintu-pintu rahasia bersama Thukul, atau merasakan kecemasan Sipon saat menanti kabar yang tak kunjung datang.
Meski buku ini sangat komprehensif, bagi pembaca yang mengharapkan jawaban pasti mengenai keberadaan Thukul hari ini, mungkin akan merasa sedikit kecewa karena buku ini berakhir pada sebuah "teka-teki". Namun, justru itulah poin utamanya. Hilangnya Thukul adalah sebuah misteri terbuka yang harus terus disuarakan agar tidak terlupakan oleh zaman.
Relevansi buku ini di masa kini sangatlah besar. Di tengah hiruk-pikuk politik modern, Wiji Thukul: Teka-teki Orang Hilang mengingatkan kita bahwa kebebasan berbicara yang kita nikmati hari ini dibayar dengan darah dan air mata oleh orang-orang seperti Thukul. Ia juga menjadi peringatan agar kekuasaan tidak lagi bertindak sewenang-wenang terhadap warganya sendiri.
Buku Wiji Thukul: Teka-teki Orang Hilang bukan hanya sebuah karya jurnalistik, melainkan sebuah monumen tertulis bagi mereka yang dihilangkan paksa. Ia adalah upaya melawan lupa (amnesia sejarah). Melalui buku ini, Wiji Thukul tetap hidup, bukan sebagai raga, melainkan sebagai ide, semangat, dan suara yang tak bisa dibungkam.
Bagi mahasiswa, aktivis, atau siapapun yang peduli pada isu kemanusiaan dan sejarah Indonesia, buku ini adalah bacaan yang esensial. Ia mengajarkan kita bahwa meski seseorang bisa dihilangkan, kata-katanya akan terus bergema, menembus tembok penjara dan melampaui masa jabatan para penguasa.
Identitas Buku
- Judul: Wiji Thukul
- Penulis: Tim Buku Tempo
- Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
- Tanggal Terbit: 1 Juni 2013
- Tebal: 160 Halaman
Baca Juga
-
Kembali Jadi Anak Kecil Lewat Na Willa: Serial Catatan Kemarin
-
Ulasan Novel Kerumunan Terakhir, Pudarnya Batas Realitas Kehidupan
-
Ulasan Novel Lalita, Menelusuri Jejak Sejarah 1965 di Balik Candi Borobudur
-
Ulasan Buku Broken, Seni Bertahan Hidup di Tengah Badai Kecemasan
-
Ulasan Novel 86, Membedah Akar Budaya Korupsi dalam Birokrasi
Artikel Terkait
Ulasan
-
Novel The Hidden Reality: Saat Penelitian Membuka Dunia Paralel
-
Al-Ahkam as-Sulthaniyyah: Kitab Klasik yang Mengajari Cara Mengelola Negara
-
Menelanjangi Gengsi Penjajah dan Derita Si Miskin dalam Esai George Orwell
-
Kembali Jadi Anak Kecil Lewat Na Willa: Serial Catatan Kemarin
-
Review Novel Mustika Zakar Celeng: Satire Tajam tentang Obsesi Manusia
Terkini
-
4 Padu Padan Outfit Chic ala Jimin BTS, dari Casual ke Mid-Formal Look!
-
Novel Laut Bercerita: Kekerasan Fisik yang Terus Berulang dan Belum Usai
-
Tampil Feminin dengan 5 Style Mini Dress ala Kim Min Ju, Manis dan Trendi!
-
Ryo Saeba Is Back! Netflix Konfirmasi Film Sekuel Live Action City Hunter 2
-
BTS Pecahkan Rekor, Album ARIRANG Terjual 4,17 Juta Kopi di Minggu Pertama