Sekar Anindyah Lamase | Chairun Nisa
Buku Menolak Sejarah Penguasa (Dok. Pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Menolak Sejarah Penguasa merupakan salah satu buku dengan tema sejarah politik. Ditulis oleh Hesri Setiawan, seorang yang terlibat dalam dinamika sosial, politik, dan budaya sejarah Indonesia.

Mantan Ketua Lekra Jawa Tengah sekaligus tahanan politik Pulau Buru bersama Pramoedya Ananta Toer pada tahun 1969-1979. B

erisi kumpulan esai yang cukup berat karena pembahasannya berisi politik sejarah sekaligus bahasa akademik. Bisa dibilang buku kiri yang berisi pelurusan sejarah.

Sinopsis

Dibuka dengan kata pengantar oleh Baskara R. Wardaya SJ, pengajar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, tentang menarasikan kembali sejarah Indonesia di mana kaum kiri dianggap sebagai penanggung jawab tragedi berdarah 1965.

Menjadikan tuduhan ini sebagai dalih menghancurkan kaum kiri atau kaum yang pro-rakyat; penghancuran atas pendukung Sukarno dan ajaran-ajarannya.

Salah satu cara melawan penggelapan sejarah hendaknya pelajaran sejarah bukan cuma menghafal tahun dan kejadian peristiwa, melainkan jalinan satu peristiwa dengan peristiwa yang lain.

Pelopor inti dari buku ini adalah tentang Soekarno dan Soeharto, di mana keduanya adalah tokoh besar yang berjasa kepada Republik Indonesia dengan narasi yang berbeda-beda.

Dalam sejarah versi Orde Baru, Soekarno dinarasikan sebagai pencetus Pancasila, pemimpin yang tidak mampu mengatur ekonomi, tokoh kunci gerakan G30S PKI. Kita diajak melihat berbagai fakta agar tidak mudah percaya.

Sedangkan menurut Hesri sendiri, Soeharto adalah tokoh yang paling bertanggung jawab atas penggelapan sejarah untuk melanggengkan kekuasaannya sehingga melakukan berbagai cara, termasuk mengacaukan narasi sejarah Indonesia. Termasuk pengubahan makna Pancasila pada masa Sukarno dan Soeharto sebagai asas tunggal sebagai sarana membunuh kebinekaan dan menggantinya dengan penyeragaman.

Terbukti dengan terbitnya buku-buku pada tahun 2000-an yang isinya muncul tanda-tanda Soehartoisasi, mendukung narasi Orde Baru yang disebut Hesri sebagai re-Soehartoisasi atau menampilkan citra positif Soeharto.

Berbagai pokok sisi berbagai esai dalam buku ini di antaranya dengan judul Dari Bung Karno Aku Belajar Sejarah, memperkenalkan masalah situasi dan kondisi sejarah Indonesia yang dikenal sebagai babad yang ditulis dengan penuh sanjungan dan puja-puji.

Intinya ada Wahrheit yang diselimuti Dichtung, harus menyingkap selubung ini. Tentang sumbangan penggunaan kata "Bung", kata "Pancasila", serta "Rakyat" dan "Kawan" dengan huruf kapital atau huruf kecil yang beda maknanya. Atau kata "Ganyang" yang dalam panggung wacana politik artinya jadi menghancurkan.

Pancasila Bung Karno menurut Hesri harus diperkenalkan kepada generasi muda yang meski sudah 30 tahun lebih dicekoki dengan Pancasila Orde Baru.

Dalam tulisan berjudul Merebut Ruang Negosiasi, isinya membahas kondisi kebudayaan Indonesia pasca G30S PKI: kondisi pertanian, penyusutan lahan di Bali, fenomena timbulnya rakyat miskin karena penindasan HAM, bidang seni juga selera film horor yang banyak peminat tapi rendah makna seperti Kuntilanak di Kamar Mayat juga menjadi sorotan. Masih besarnya kepercayaan rakyat terhadap sesuatu yang berbau takhayul, pelarangan berbagai buku serta film. Sejarah tidak berhenti sebagai ingatan publik, ingatan tersusun untuk melestarikan masa lalu.

Ruang negosiasi perlu diciptakan tanpa menunggu kemudahan dari atas. Harus dibuka sendiri untuk memerangi kebodohan rakyat. Tulisan selanjutnya adalah tentang Konferensi Pengarang Asia-Afrika 1965 dengan judul Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah tentang sebutan korban atau penyintas, historiografinya dulu dan sekarang bedanya.

Selanjutnya tentang luka 1965 yang tidak dibatasi pada pagi 1 Oktober 1965 yaitu terbunuhnya 6 perwira tinggi dan satu perwira menengah, namun lebih meluas ke buntut-buntutnya sampai penangkapan asal orang yang tidak berhubungan dengan PKI sekalipun. Aslinya ini bisa dianggap riak kecil revolusi, tapi ya karena ujungnya yang begitu panjang inilah menjadi luka sejarah dunia menurut Hesri, bukan hanya nasional.

Perang sejarah selanjutnya adalah tentang faktor penulisan yang berkutat pada rekayasa legitimasi, tak ada dalang peristiwa itu selain PKI. Selanjutnya adalah tentang sejarah itu sendiri dengan judul Sejarah Reservoir Peradaban. Dari asal katanya sendiri Syajaratun; mulai dari akar, cabang, batang, ranting, daun, bahkan daun kuning gugur pun bagian sejarah. Orang-orang yang gugur hilang dalam peristiwa ini dianggap sebagai daun kuning yang akan menyuburkan tanah kelak.

Soeharto pahlawan penumpasan gerakan G30S PKI? Ahh, ini tulisan yang cukup panas berisi berbagai macam ketidakadilan bidang politik, bidang ekonomi, bidang sosial, hingga HAM.

Penulis sendiri menyebut Soeharto koruptor kelas kakap dunia. Slogan "palsu" pemerataan kesejahteraan Soeharto sendiri dan keluarganya yang kaya raya gilang-gemilang adalah simbol palsu pemerataan ekonomi ini.

Bedanya dengan kasus Hitler, dalam bagian akhir buku ini, Jerman mengakui kejahatan semasa Perang Dunia II kepada Yahudi dan memberikan kembali hak-hak korban. Kalau Indonesia, jangankan memberikan kompensasi, mengakuinya pun enggan. Selesai, cukup ngos-ngosan membaca buku dengan topik yang cukup panas ini. Apalagi 17 Agustus kemarin Soeharto diangkat sebagai pahlawan nasional oleh menantunya, Presiden Prabowo. Sebesar apa pun penolakan dari rakyat ya tetap akan diangkat.

Untuk kelebihan, tulisan sangat trengginas, mencerahkan pandangan sejarah anak muda khususnya Gen Z. Generasi awal sendiri yang dalam buku pelajarannya dulu masih berbau rezim Orde Baru. Kekurangan, buku ini hanya menampilkan hitam dan putih. Padahal Gus Dur sendiri mengatakan Soekarno tidak sebaik yang kau kira, Soeharto tidak seburuk yang kau kira.

Kesimpulan

Buku Menolak Sejarah Penguasa ini pada akhirnya adalah sebuah upaya intelektual untuk menggugat hegemoni narasi tunggal.

Penguasa yang dimaksud di sini secara spesifik adalah rezim Soeharto; buku ini dengan tegas menolak sejarah yang dibuat versi Orde Baru yang selama puluhan tahun telah dianggap sebagai kebenaran mutlak.

Hesri Setiawan mengajak kita untuk tidak sekadar menelan mentah-mentah sejarah versi pemenang, melainkan berani melihat sisi-sisi gelap yang selama ini disembunyikan demi melanggengkan kekuasaan satu pihak.

Identitas Buku

Judul: Menolak Sejarah Penguasa
Penulis: Hesri Setiawan
Penerbit: Best Publisher
Tahun terbit: 2018
ISBN: 978-602-8620-54-3

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS