Hayuning Ratri Hapsari | Chairun Nisa
Buku Laki-Laki Tanpa Tanya (Dok. Pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Pernahkah kamu bertanya-tanya, seperti apa rasanya dipeluk oleh sosok laki-laki yang dunianya adalah diam, namun tindakannya adalah doa? Bagi saya, pertanyaan itu selalu menggantung di udara, tak pernah benar-benar terjawab.

Bapak sudah berpulang sejak saya masih kecil, meninggalkan memori yang samar tentang aroma kopi di pagi hari dan suara motor tua yang menjemput sore.

Menjadi yatim sejak dini membuat saya tumbuh dengan imajinasi yang haus tentang sosok "Bapak ideal" seseorang yang kaku, namun selalu ada di saat dunia sedang tidak baik-baik saja.

Rasa rindu yang tak berujung itulah yang membuat mata saya tertuju pada sebuah judul yang cukup mencolok: Laki-Laki Tanpa Tanya karya Isma’ul Ahmad.

Tanpa perlu melahap seluruh isinya dari awal sampai akhir, hanya dengan menyelami jiwa dan bedah karya dari buku ini, saya merasa seperti sedang diajak bicara. Buku ini seolah menjawab teka-teki tentang apa yang sebenarnya bergejolak di dalam hati seorang laki-laki pendiam seperti almarhum Bapak saya dulu.

Melalui tokoh utamanya, Sobari, buku ini memotret realitas yang sangat dekat dengan banyak ayah di Indonesia. Sobari adalah personifikasi dari ribuan laki-laki yang mungkin tidak akan pernah bertanya "Kamu sudah makan?" atau "Gimana sekolahmu hari ini?", tapi dialah orang yang paling cemas memastikan piring anaknya selalu penuh.

Di masyarakat kita, kasih sayang ayah sering kali "dibisu-tuliskan" lewat kerja keras, bukan lewat kata-kata manis. Kita sering lupa bahwa di balik punggung yang semakin membungkuk itu, ada cinta yang luar biasa besar yang tidak tahu bagaimana cara keluar lewat lisan.

Namun, yang paling menarik dari analisis karakter Sobari adalah bagaimana ia mendobrak standar maskulinitas yang selama ini kita anggap normal. Masyarakat kita sering menuntut laki-laki untuk jadi batu; tidak boleh menangis, tidak boleh mengeluh, dan harus selalu tampil tangguh.

Padahal, Sobari menunjukkan sisi yang berbeda. Ia adalah sosok yang tidak ragu menunjukkan emosinya—ia bisa menangis di depan Putri, anaknya, dan tidak merasa harga dirinya jatuh karena hal itu.

Lebih jauh lagi, Sobari memperlihatkan bahwa menjadi laki-laki tidak melulu soal otot dan ketegasan. Ia digambarkan sebagai sosok yang tidak gengsi melakukan pekerjaan domestik. Ia mau mencuci piring dan belajar memasak demi kebahagiaan putrinya.

Ini adalah sebuah tamparan bagi konsep toxic masculinity yang menganggap pekerjaan rumah tangga hanya milik perempuan. Sobari membuktikan bahwa maskulinitas sejati justru hadir saat seorang laki-laki berani merangkul kelembutan, kasih sayang, dan tanggung jawab rumah tangga dengan tulus.

Tekanan untuk selalu tampil "maskulin" memang bisa menjadi beban mental yang luar biasa. Saat seorang laki-laki merasa harga dirinya hanya sebatas kemampuannya mencari nafkah, ia akan merasa hancur saat kegagalan datang.

Melalui Sobari, kita belajar bahwa laki-laki pun berhak untuk "tidak baik-baik saja". Tangisan laki-laki bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti keberanian untuk menjadi jujur pada diri sendiri.

Bagi saya yang tumbuh tanpa bimbingan langsung dari seorang ayah, memahami esensi buku ini adalah sebuah pelukan hangat yang menenangkan.

Ia mengajarkan bahwa meski Bapak saya sudah tidak ada, kasih sayangnya mungkin tertinggal dalam bentuk-bentuk yang tak terduga—dalam diamnya, dalam doa-doanya yang tak terdengar, atau dalam warisan ketangguhannya yang kini mengalir dalam darah saya.

Sosok Sobari membantu saya berdamai dengan kenyataan bahwa cinta tidak selalu butuh tanya; kehadiran dan pengorbanan yang nyata sudah lebih dari cukup.

Jika kamu masih punya kesempatan untuk melihat ayahmu menyeruput kopi di teras rumah sore ini, cobalah duduk di sampingnya. Kamu tidak perlu bertanya banyak hal, cukup hargai kehadirannya. Karena bagi sebagian orang, kehadiran yang diam itu adalah kemewahan yang sangat dirindukan.

Akhirnya, Laki-Laki Tanpa Tanya bukan sekadar judul buku, melainkan pengingat bagi kita semua untuk lebih peka membaca "bahasa cinta" yang sering kali tersembunyi di balik keheningan laki-laki.

Identitas Buku:

Judul: Laki-Laki Tanpa Tanya
Penulis: Isma’ul Ahmad
Penerbit: Syab Publishing Depok, 2024
Tebal: 267 hlm; 19,5 cm
ISBN: 978-623-10-2703-0