M. Reza Sulaiman | Rahel Sembiring
The Gospel of Matthew (Dok.Pribadi)
Rahel Sembiring

Dalam The Gospel of Matthew, R. T. France menolong pembaca melihat bahwa Injil Matius bukan sekadar rangkaian kisah, melainkan narasi teologis yang bergerak menuju salib. Jumat Agung, dalam terang Matius, adalah klimaks dari perjalanan Mesias yang taat sampai akhir.

Dalam pembahasannya tentang Matius 5:45–48, France menulis, “Nothing is said to warrant, of course, a belief in universal salvation.” Kalimat ini penting. Kasih Allah memang dinyatakan tanpa diskriminasi—matahari terbit bagi yang jahat dan yang baik—namun keselamatan tidak otomatis dimiliki semua orang tanpa respons iman. Ada panggilan untuk hidup sebagai anak-anak Bapa.

Ketika narasi bergerak ke pasal 26–27, kita melihat bagaimana Yesus menghadapi pengkhianatan, pengadilan yang tidak adil, dan akhirnya penyaliban. Semua ini bukan kecelakaan sejarah. Dalam kerangka Matius, penderitaan Kristus adalah bagian dari rencana Allah yang berdaulat. Ia adalah Mesias yang memilih jalan ketaatan, bukan jalan kuasa dunia.

Ironinya begitu tajam: Raja dimahkotai duri, Sang Anak Allah diejek, dan Yang Tak Bersalah dihukum mati. Namun, justru di sanalah makna salib bersinar. Kematian Kristus bukan akhir, melainkan pembukaan jalan, seperti tabir Bait Suci yang terbelah, simbol bahwa akses kepada Allah kini terbuka.

Dalam The Gospel of Matthew, R. T. France menawarkan pembacaan yang kuat secara teologis dan kontekstual. Salah satu kelebihannya terletak pada kemampuannya menjelaskan Injil Matius bukan hanya sebagai kumpulan perikop, tetapi sebagai satu kesatuan narasi yang bergerak menuju klimaks salib.

Namun, sebagai bagian dari seri komentar akademik, buku ini lebih menekankan analisis daripada refleksi praktis. Pembaca yang mencari aplikasi langsung untuk kehidupan sehari-hari mungkin merasa uraian France terasa padat dan intelektual. Beberapa bagian juga cukup teknis, terutama ketika membahas isu historis dan linguistik, sehingga membutuhkan konsentrasi ekstra bagi pembaca pemula.

Meski demikian, kekuatan analitis inilah yang justru menjadikan buku ini bernilai tinggi. Ia tidak menawarkan jawaban instan, melainkan mengajak pembaca menggali teks secara serius dan bertanggung jawab.

Jumat Agung, karena itu, bukan hanya tentang kesedihan. Ia adalah undangan untuk memahami kedalaman kasih Allah yang kudus; itulah kasih yang memberi, tetapi juga menuntut respons.

Dalam terang Injil Matius, salib bukan sekadar simbol religius yang dikenang setahun sekali. Ia adalah titik balik sejarah, tempat dosa dan kasih bertemu, tempat keadilan dan anugerah berpelukan.

Dan pertanyaannya kini bukan lagi apa yang terjadi di Golgota, melainkan: bagaimana kita meresponsnya?

Identitas Buku

  • Judul: The Gospel of Matthew
  • Penulis: R. T. France
  • Seri: Tyndale New Testament Commentaries
  • Penerbit: Inter-Varsity Press
  • Tahun Terbit (edisi revisi): 2007
  • Bahasa: Inggris
  • Genre: Komentar Alkitab / Teologi Perjanjian Baru