Buku Jakarta: A Dining History karya Kevindra Prianto Soemantri menghadirkan sebuah perjalanan panjang yang tidak hanya membahas makanan, tetapi juga sejarah, budaya, dan identitas kota Jakarta melalui sudut pandang kuliner.
Sejak halaman pertama, pembaca diajak memahami bahwa keberagaman kuliner Jakarta yang kita nikmati hari ini merupakan hasil dari proses panjang selama lebih dari dua abad.
Secara garis besar, buku ini membedah perkembangan dunia kuliner Jakarta berdasarkan era. Dimulai dari masa Batavia pada abad ke-19, ketika pengaruh kolonial sangat kuat, terutama dari Eropa seperti Prancis dan Belanda.
Pada masa ini, restoran dan kafe bergaya Eropa mulai bermunculan, menjadi simbol status sosial sekaligus tempat berkumpul kaum elite. Kevindra menuliskan bagaimana makanan bukan sekadar kebutuhan, tetapi juga alat representasi kelas dan gaya hidup.
Memasuki dekade 1970–1980-an, buku ini menunjukkan pergeseran besar dalam dunia kuliner Jakarta. Restoran hotel berbintang mulai menjamur, memperkenalkan konsep fine dining yang lebih modern.
Pada masa ini pula, budaya makan di luar rumah mulai berkembang pesat, seiring meningkatnya kelas menengah perkotaan. Tak ketinggalan, masuknya restoran cepat saji (fast food) menjadi salah satu tonggak penting yang mengubah kebiasaan makan masyarakat Jakarta menjadi lebih praktis dan cepat.
Kemudian, di era 1990-an, pembaca diajak melihat bagaimana pusat perbelanjaan menjadi pusat gaya hidup baru, termasuk dalam hal kuliner. Kehadiran food court menjadi fenomena tersendiri—tempat di mana berbagai jenis makanan dari beragam daerah dan negara bisa dinikmati dalam satu ruang.
Ini menjadi simbol nyata dari Jakarta sebagai kota yang inklusif terhadap berbagai budaya.
Salah satu kelebihan utama buku ini adalah cara Kevindra menyajikan informasi dengan gaya bahasa yang ringan namun tetap informatif. Ia tidak hanya menuliskan fakta sejarah, tetapi juga menghidupkannya melalui cerita-cerita menarik, anekdot, dan detail yang membuat pembaca seolah ikut berada di masa tersebut.
Buku ini terasa seperti perpaduan antara buku sejarah dan esai kuliner yang personal.
Selain itu, riset yang dilakukan penulis terlihat sangat mendalam. Ia tidak hanya mengandalkan sumber tertulis, tetapi juga menelusuri jejak kuliner melalui perubahan sosial masyarakat Jakarta.
Hal ini membuat buku ini memiliki nilai dokumentasi yang kuat sekaligus relevan untuk pembaca masa kini.
Namun, buku ini juga memiliki beberapa kekurangan. Bagi pembaca yang mengharapkan ulasan makanan secara detail atau rekomendasi tempat makan, buku ini mungkin terasa kurang “praktis”.
Fokusnya memang lebih kepada sejarah dan perkembangan, bukan panduan kuliner. Selain itu, beberapa bagian terasa cukup padat dengan informasi, sehingga membutuhkan konsentrasi lebih untuk memahami konteks sejarah yang disampaikan.
Dari segi gaya bahasa, Kevindra menggunakan pendekatan naratif yang santai namun tetap cerdas. Ia mampu menjembatani pembaca umum dengan topik sejarah yang sebenarnya cukup kompleks.
Tidak ada kesan menggurui, justru terasa seperti sedang mendengarkan cerita dari seorang ahli yang passionate di bidangnya.
Keunikan buku ini terletak pada sudut pandangnya. Jarang ada buku yang mengangkat sejarah kota melalui makanan secara mendalam seperti ini.
Jakarta: A Dining History bukan hanya tentang apa yang dimakan orang Jakarta, tetapi juga mengapa mereka makan seperti itu, dan bagaimana kebiasaan tersebut terbentuk dari waktu ke waktu.
Buku ini sangat cocok dibaca oleh pecinta kuliner, penikmat sejarah, hingga pembaca umum yang ingin memahami Jakarta dari perspektif berbeda. Cocok pula dibaca saat santai, seperti di akhir pekan, atau ketika ingin mendapatkan bacaan ringan namun tetap berbobot.
Secara keseluruhan, Jakarta: A Dining History adalah buku yang memperkaya wawasan sekaligus membuka perspektif baru tentang hubungan antara makanan dan kehidupan sosial.
Buku ini berhasil menunjukkan bahwa kuliner bukan sekadar soal rasa, tetapi juga cerminan perjalanan sebuah kota dan masyarakatnya.
Baca Juga
-
Dawuk: Ketika Cinta dan Gosip Berubah Jadi Tragedi
-
Cak Dlahom: Sosok "Nyeleneh" yang Bikin Kamu Malu karena Sok Tahu
-
Dari Keraton ke Kolonialisme: Nasib Perempuan Jawadi Era Politik
-
Diponegoro Versi Peter Carey: Belajar Sejarah Sambil "Nyelam" ke Pikiran Masyarakat Jawa Kuno
-
Novel Titipan Kilat Penyihir: Kisah Penyihir Muda yang Mencari Jati Diri
Artikel Terkait
-
8 Promo Makanan Spesial Hari Paskah 2026, dari Ramen hingga All You Can Eat
-
Proliga 2026: Bhayangkara Presisi Tinggal Selangkah Lagi Juara Putaran Pertama
-
Jenguk 72 Siswa di Jaktim yang Keracunan Makanan, Pramono: Kondisinya Mulai Stabil
-
Kecelakaan Maut di Kalideres: Ani Maryati Meninggal Dunia Usai Tersenggol Iring-iring Truk TNI
-
Setelah Air Mata Kering: Bab Tionghoa yang Hilang dari Buku Sejarah Sekolah
Ulasan
-
Tarian Bumi: Kisah Pedih Perempuan Bali di Tengah Belenggu Tradisi
-
Dawuk: Ketika Cinta dan Gosip Berubah Jadi Tragedi
-
Review Film They Will Kill You: Pertarungan Epik Melawan Penganut Satanis!
-
Novel Pasung Jiwa, Jeritan Sunyi di Balik Penjara Moralitas Masyarakat
-
Kesan Haru dari Pelataran dan Kubah Raksasa Masjid Al Akbar Surabaya Jatim
Terkini
-
5 Rekomendasi Masker Rambut untuk Hasil Rambut Selembut Sutra
-
Apatisme yang Dipupuk: Ketika Rakyat Melepas Nasibnya Sendiri
-
Teori Tawa dan Cara-Cara Melucu Lainnya: Belajar Tertawa di Tengah Luka
-
Habis THR Terbitlah Undangan: Menghadapi 'Musim Kawin' Syawal yang Brutal
-
Drama Korea Spring Fever: Menemukan Keberanian di Kota Kecil