Setelah menyelesaikan tugas sebagai Ketua Media Pondok Pesantren Nurul Qarnain Jember untuk upgrade alat-alat media dengan belanja ke beberapa toko resmi di Kota Pahlawan, Jumat (3/4/2026), saya sempatkan tunaikan salat di masjid terbesar di wilayah Surabaya.
Bukan sekadar kunjungan biasa, tapi terdapat pengalaman batin. Itulah yang saya rasakan saat pertama kali menginjakkan kaki di Masjid Al Akbar Surabaya, sebuah masjid yang bukan hanya megah secara fisik, tapi juga menyentuh secara emosional.
Dari kejauhan, kubah biru kehijauan yang menjadi ciri khasnya langsung menarik perhatian. Berdiri kokoh sebagai salah satu ikon religi di Surabaya, masjid ini memang dirancang untuk menjadi kebanggaan warga sekaligus simbol kemegahan Islam di kota pahlawan.
Dibangun sejak era kepemimpinan Soenarto Soemoprawiro dan diresmikan oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Masjid ini menyimpan nilai sejarah yang kuat, bukan hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga sebagai penanda perkembangan kota.
Begitu memasuki area masjid, saya langsung merasakan suasana yang berbeda. Halamannya luas, tertata rapi, dan memberi kesan lapang yang menenangkan. Tidak ada kesan sumpek atau penuh sesak. Justru, ruang terbuka ini seperti mengajak siapa pun untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan.
Saat masuk ke dalam ruang utama, perasaan haru itu muncul tanpa disadari. Interiornya sederhana namun elegan. Pilar-pilar besar berdiri kokoh, menopang struktur bangunan dengan sentuhan arsitektur modern yang tetap kental nuansa Islami. Kaligrafi menghiasi dinding, menambah kesan sakral tanpa terasa berlebihan. Di sinilah saya benar-benar merasa kecil, bukan dalam arti negatif, tapi sebagai pengingat bahwa ada kebesaran yang jauh melampaui diri kita.
Salah satu hal yang paling berkesan adalah kenyamanan saat beribadah. Lantainya bersih, karpetnya empuk, dan sirkulasi udaranya terasa sejuk meski tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pendingin ruangan. Masjid ini mampu menampung puluhan ribu jamaah, namun tetap terasa tertib dan terorganisir. Bahkan saat ramai sekalipun, suasananya tetap khusyuk.
Fasilitasnya juga sangat lengkap. Mulai dari area parkir yang luas, tempat wudu yang bersih dan terpisah dengan baik, hingga ruang serbaguna yang sering digunakan untuk kegiatan keagamaan. Ada juga menara setinggi lebih dari 90 meter.
Yang menarik, masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tapi juga ruang publik yang inklusif. Banyak orang datang bukan hanya untuk salat, tetapi juga untuk belajar, berwisata religi, bahkan sekadar mencari ketenangan. Ada semacam energi positif yang terasa, perpaduan antara spiritualitas dan keterbukaan.
Bagi saya pribadi, berkunjung ke masjid ini bukan sekadar perjalanan biasa. Ada rasa senang yang sulit dijelaskan, bercampur dengan haru yang datang tiba-tiba. Seolah-olah tempat ini mengajarkan bahwa ketenangan itu tidak selalu harus dicari jauh-jauh, kadang ia hadir di tempat yang kita datangi dengan hati yang terbuka.
Masjid Al Akbar Surabaya bukan hanya tentang bangunan megah atau sejarah panjangnya. Ia adalah pengalaman. Tentang bagaimana sebuah ruang bisa membuat kita berhenti, merenung, dan kembali pulang dengan hati yang lebih ringan. Mungkin, itu alasan mengapa saya ingin kembali lagi.
Baca Juga
-
Review Jujur Novel Resi Durna: Sang Guru yang Membiarkan Dirinya Dibenci
-
Maya: Menyibak Ilusi, Menyelami Luka Sejarah dan Cinta yang Tak Pernah Usai
-
Membaca Kelakar Madura Buat Gus Dur: Sebuah Buku Tentang Indonesia yang Menggelitik
-
Kentut Kosmopolitan: Catatan Nakal tentang Jakarta ala Seno Gumira Ajidarma
-
iQOO 16: Monster Performa dengan Kamera Periskop 50MP dan Chip 2nm Terbaru
Artikel Terkait
-
Final Four Proliga 2026: Jakarta Bhayangkara Presisi Petik Kemenangan di Laga Pembuka
-
Masjid Al-Aqsa Ditutup Total 34 Hari, Zionis Israel Nekat Pakai Dalih Perang Iran demi Keamanan
-
Gerakan Wangikan Masjid, Enesis Gandeng Baznas Sasar 100 Titik
-
Pulih dari Cedera, Catur Pamungkas Siap Kembali Bela Persebaya Surabaya
-
DPR: Larangan Salat Idulfitri di Masjid Al-Aqsa Bentuk Nyata Pelanggaran Hukum Internasional
Ulasan
-
Review Serial The Boroughs: Refleksi Filosofis tentang Waktu dan Kematian!
-
Keluarga Suami Adalah Hama: Sebuah Potret Realistis Tekanan Keluarga Besar
-
Ulasan Film A Family: Hadirkan Drama Psikologis tentang Trauma Anak-Anak
-
Filter (2025): Komedi Fantasi yang Diam-Diam Menyentil Standar Kecantikan
-
Einstein Aja Gak Tau! Buku Sains yang Bikin Hal Sepele Jadi Sangat Menarik
Terkini
-
Akhiri Kontrak dengan Agensi, Kwon Eun-bin Pilih Tinggalkan Dunia Hiburan
-
Agensi Umumkan Seungmin Stray Kids Absen di Festival Musik Governors Ball
-
Tayang Juni, Gong Myoung dan Jin Sun Kyu Bintangi Film Husbands in Action
-
Lee Do Hyun dan Kim Min Ha Dipasangkan di Remake Film Viva La Vida
-
4 Rekomendasi Hotel Dekat GBK untuk Konser BTS ARIRANG, Bisa Jalan Kaki!