Hayuning Ratri Hapsari | Fathorrozi 🖊️
Masjid Al Akbar Surabaya tampak dari depan (Dok. Pribadi/Fathorrozi)
Fathorrozi 🖊️

Setelah menyelesaikan tugas sebagai Ketua Media Pondok Pesantren Nurul Qarnain Jember untuk upgrade alat-alat media dengan belanja ke beberapa toko resmi di Kota Pahlawan, Jumat (3/4/2026), saya sempatkan tunaikan salat di masjid terbesar di wilayah Surabaya.

Bukan sekadar kunjungan biasa, tapi terdapat pengalaman batin. Itulah yang saya rasakan saat pertama kali menginjakkan kaki di Masjid Al Akbar Surabaya, sebuah masjid yang bukan hanya megah secara fisik, tapi juga menyentuh secara emosional.

Dari kejauhan, kubah biru kehijauan yang menjadi ciri khasnya langsung menarik perhatian. Berdiri kokoh sebagai salah satu ikon religi di Surabaya, masjid ini memang dirancang untuk menjadi kebanggaan warga sekaligus simbol kemegahan Islam di kota pahlawan.

Dibangun sejak era kepemimpinan Soenarto Soemoprawiro dan diresmikan oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Masjid ini menyimpan nilai sejarah yang kuat, bukan hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga sebagai penanda perkembangan kota.

Begitu memasuki area masjid, saya langsung merasakan suasana yang berbeda. Halamannya luas, tertata rapi, dan memberi kesan lapang yang menenangkan. Tidak ada kesan sumpek atau penuh sesak. Justru, ruang terbuka ini seperti mengajak siapa pun untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan.

Saat masuk ke dalam ruang utama, perasaan haru itu muncul tanpa disadari. Interiornya sederhana namun elegan. Pilar-pilar besar berdiri kokoh, menopang struktur bangunan dengan sentuhan arsitektur modern yang tetap kental nuansa Islami. Kaligrafi menghiasi dinding, menambah kesan sakral tanpa terasa berlebihan. Di sinilah saya benar-benar merasa kecil, bukan dalam arti negatif, tapi sebagai pengingat bahwa ada kebesaran yang jauh melampaui diri kita.

Salah satu hal yang paling berkesan adalah kenyamanan saat beribadah. Lantainya bersih, karpetnya empuk, dan sirkulasi udaranya terasa sejuk meski tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pendingin ruangan. Masjid ini mampu menampung puluhan ribu jamaah, namun tetap terasa tertib dan terorganisir. Bahkan saat ramai sekalipun, suasananya tetap khusyuk.

Fasilitasnya juga sangat lengkap. Mulai dari area parkir yang luas, tempat wudu yang bersih dan terpisah dengan baik, hingga ruang serbaguna yang sering digunakan untuk kegiatan keagamaan. Ada juga menara setinggi lebih dari 90 meter.

Yang menarik, masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tapi juga ruang publik yang inklusif. Banyak orang datang bukan hanya untuk salat, tetapi juga untuk belajar, berwisata religi, bahkan sekadar mencari ketenangan. Ada semacam energi positif yang terasa, perpaduan antara spiritualitas dan keterbukaan.

Bagi saya pribadi, berkunjung ke masjid ini bukan sekadar perjalanan biasa. Ada rasa senang yang sulit dijelaskan, bercampur dengan haru yang datang tiba-tiba. Seolah-olah tempat ini mengajarkan bahwa ketenangan itu tidak selalu harus dicari jauh-jauh, kadang ia hadir di tempat yang kita datangi dengan hati yang terbuka.

Masjid Al Akbar Surabaya bukan hanya tentang bangunan megah atau sejarah panjangnya. Ia adalah pengalaman. Tentang bagaimana sebuah ruang bisa membuat kita berhenti, merenung, dan kembali pulang dengan hati yang lebih ringan. Mungkin, itu alasan mengapa saya ingin kembali lagi.