Setelah kesuksesan yang berhasil menghidupkan kembali nostalgia sekaligus menarik generasi baru ke dunia Mario dalam Film The Super Mario Bros. Movie (2023), Nintendo dan Illumination kembali melanjutkan petualangan Mario lewat sekuelnya, ‘The Super Mario Galaxy Movie’. Kali ini, duo tukang ledeng itu dibawa keluar dari Kerajaan Jamur menuju petualangan kosmik yang lebih luas (terinspirasi dari game Super Mario Galaxy).
Disutradarai Aaron Horvath dan Michael Jelenic, serta skrip ditulis Matthew Fogel, film ini kembali menghadirkan deretan pengisi suara ternama: Chris Pratt (Mario), Anya Taylor-Joy (Princess Peach), Charlie Day (Luigi), Jack Black (Bowser), Brie Larson (Rosalina), hingga Keegan-Michael Key (Toad).
Secara premis, film yang tayang di bioskop Indonesia sejak 1 April 2026 ini sebenarnya punya potensi besar.
Cerita terkait Bowser Jr. yang berusaha membebaskan ayahnya, Bowser, dari penjara mini yang dibuat di film sebelumnya.
Dalam prosesnya, dia menculik Rosalina (sosok misterius penguasa kosmik) dan membangun armada luar angkasa demi ambisi menguasai semesta.
Ancaman ini memaksa Peach dan Toad untuk bergerak lebih dulu, sementara Mario dan Luigi yang awalnya tertinggal akhirnya ikut terseret ke dalam petualangan galaksi yang jauh lebih besar dari yang pernah mereka bayangkan.
Menarik, ya? Sayangnya ….
Departemen naskahnya, terasa seperti eskalasi yang lebih luas, lebih besar, dan lebih epik. Namun, ketika aku benar-benar menontonnya, ada satu perasaan yang terus muncul. Yakni, film ini indah, tapi kosong!
Secara visual, nggak bisa dipungkiri, film ini memanjakan mata. Planet-planet kecil dengan gravitasi unik, langit berwarna, hingga desain dunia kosmik yang kelihatan hidup. Semuanya terasa dibuat dengan cinta terhadap materi aslinya.
Ada momen-momen di mana aku terpaku hanya karena keindahan visualnya. Ini tipe film yang jelas dirancang untuk layar lebar, dengan sensasi ‘wow’ yang instan dan mudah dinikmati.
Hanya saja keindahan itu hanya jadi permukaannya.
Masalah utama film ini mulai terasa ketika aku mencoba mengikuti alurnya. Ceritanya bergerak terlalu cepat, seperti dikejar sesuatu yang bahkan nggak jelas apa.
Satu adegan belum sempat terasa emosinya, sudah dipotong ke adegan lain dengan tone yang berbeda.
Transisinya terasa loncat-loncat, dan alurnya jadi kehilangan napas. Aku nggak diberi cukup waktu untuk peduli. Baik pada konflik, maupun pada karakter yang mengalaminya.
Padahal, dengan skala cerita sebesar ini, film seharusnya punya ruang dan waktu untuk membangun kedalaman. Namun yang terjadi sebaliknya. Film ini lebih sibuk mengejar momen seru daripada membangun fondasi cerita yang kuat.
Karakter-karakternya pun jadi korban dari ritme yang terburu-buru ini. Rosalina, terasa seperti tempelan. Kehadirannya penting secara plot, tapi minim secara emosi. Aku nggak diajak mengenalnya, apalagi memahami.
Hal yang sama juga terjadi pada dinamika antar karakter. Ada potensi konflik kecil seperti kecemburuan Toad terhadap Yoshi, yang sebenarnya bisa jadi elemen menarik dan segar.
Cuma ya gitu, konflik itu hanya muncul sekilas, lalu hilang begitu saja tanpa eksplorasi berarti. Rasanya seperti film ini punya banyak ide, tapi nggak benar mengolahnya.
Untuk pengisi suara, performanya terasa campur aduk. Chris Pratt sebagai Mario masih terasa kurang nempel. Nggak buruk, tapi juga nggak cukup kuat untuk jadi pusat emosional cerita.
Sementara Jack Black sebagai Bowser, yang di film pertama begitu mencuri perhatian, di sini terasa meredup karena porsinya yang jauh lebih sedikit.
Yang justru cukup menyenangkan adalah sisi fan service-nya. Film ini banyak referensi dari game. Mulai dari elemen visual, musik, hingga detail kecil yang pasti bikin penggemar game-nya.
Sayangnya, di sini pula lah letak masalah lainnya: film ini terasa jadi kayak kumpulan referensi, bukan cerita yang utuh. Easter egg memang menyenangkan, tapi ketika terlalu mendominasi, malah bakal menggerus esensi naratif itu sendiri.
Berani kubilang, Film The Super Mario Galaxy Movie adalah film yang menghibur di permukaan, tapi kurang meninggalkan kesan mendalam.
Akhir kata, tontonlah film ini bila Sobat Yoursay penggemar film atau game-nya. Selamat nonton, ya.
Baca Juga
-
Review A Toxic Love Story: Manipulasi Lebih Mematikan dari Kekerasan Fisik?
-
Doraemon: New Nobita and the Castle of the Undersea Devil, Remake Cerdas!
-
Review Cek Khodam: Komedi Horor yang Telat Menunggangi Momentum Tren Viral
-
Review Ghost Buzzer: Horor Keluarga yang Nyaris Punah di Indonesia
-
Review The Hawk: Saat Will Ferrell Nggak Lagi Cukup Mengundang Tawa
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Film Smile: Drama Horor Psikologis dengan Kejutan Maut yang Nyata!
-
The Black Lizard: Duel Kecerdasan Detektif dan Ratu Kriminal yang Menegangkan
-
Ulasan Novel Lara Rasa, Menata Ulang Masa Depan Sebelum Usia Tiga Puluh
-
Buku Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?: Teman Anak-Anak yang Kehilangan Ayah
-
Review Rebecca: Misteri Psikologis Klasik dengan Plot Twist Mengejutkan
Terkini
-
Derita Selisih Stock Opname Toko, saat Karyawan Jadi Samsak Omelan Bos
-
Ketika Institusi Publik Menjadi Arena Eksperimen Kebijakan
-
Harga Kebutuhan Naik, Gaji Tetap: Realitas Daya Beli yang Kian Menurun
-
Ulasan Novel Kado Terbaik: Potret Haru Perjuangan Anak Jalanan
-
The Da Vinci Code: Misteri, Simbol, dan Sejarah yang Memancing Rasa Penasaran