Hayuning Ratri Hapsari | Fairus Farizki
Kebakaran hutan yang dipenuhi asap, diabadikan di tengah alam liar, memperlihatkan pepohonan yang terbakar dan kepulan asap tebal. (Pexels/Pixabay)
Fairus Farizki

Kalimantan kembali menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjelang puncak musim kemarau 2026. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sekitar 32 ribu hektare lahan telah terbakar di tiga provinsi Kalimantan hingga 9 Agustus 2026.

Mengutip laporan resmi BNPB (10/8/2026), luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas penanganan karhutla mencapai 48.889,69 hektare. Dari angka tersebut, Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan luasan terbesar, yakni 28.680,47 hektare. Kemudian Kalimantan Tengah mencapai 3.069,52 hektare dan Kalimantan Selatan sekitar 383,07 hektare.

Dengan demikian, tiga provinsi di Kalimantan tersebut menyumbang lebih dari 32 ribu hektare lahan terbakar. Kondisi ini terjadi ketika pemerintah justru tengah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi periode yang diperkirakan menjadi puncak risiko karhutla pada Agustus hingga September 2026.

Ribuan Titik Panas Terdeteksi

Selain luasan lahan terbakar, ancaman karhutla juga terlihat dari meningkatnya titik panas atau hotspot. Berdasarkan siaran pers Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebanyak 5.019 titik panas terdeteksi di Indonesia hingga 29 Juli 2026.

BMKG menyebut titik panas tersebut terutama terkonsentrasi di Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau. Lembaga tersebut juga telah mendeteksi pergerakan partikulat asap karhutla di Kalimantan Barat.

Kondisi ini tidak terlepas dari situasi iklim yang sedang berlangsung. BMKG mencatat indeks Niño 3.4 pada akhir Juni mencapai 1,56, melewati ambang kategori El Niño kuat yang berada di atas 1,5. Menurut BMKG, dampak El Niño terhadap Indonesia menjadi lebih terasa ketika fenomena tersebut bertepatan dengan musim kemarau.

Namun, El Niño tidak bisa disebut sebagai satu-satunya penyebab kebakaran. Fenomena tersebut lebih tepat dipahami sebagai kondisi yang meningkatkan kekeringan dan membuat wilayah rentan karhutla menjadi lebih mudah terbakar.

BNPB menyebut enam provinsi sebagai prioritas penanganan, yakni Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Pemerintah juga memperkuat operasi darat dan penanganan di wilayah gambut karena api dapat bertahan di bawah permukaan tanah meskipun bagian permukaannya telah dipadamkan.

Karhutla dan Ancaman Krisis Iklim

Bagi generasi muda, karhutla mungkin lebih sering terlihat sebagai persoalan asap, kualitas udara, atau terganggunya aktivitas sehari-hari. Namun, dampaknya sebenarnya jauh lebih panjang, terutama ketika kebakaran terjadi di ekosistem gambut.

Penelitian yang diterbitkan di Nature Communications (27/5/2026) meneliti lahan gambut di Kalimantan Tengah dan menemukan bahwa drainase serta kebakaran selama periode 1996–2014 menyebabkan pelepasan sekitar 30–41 kilogram karbon per meter persegi. Kebakaran sendiri menyumbang sekitar 23–32 kilogram karbon per meter persegi dari gambut yang telah menyimpan karbon selama ribuan tahun.

Penelitian tersebut juga memperkirakan bahwa gangguan pada lahan gambut di Indonesia berkontribusi terhadap pelepasan sekitar 0,81–3,70 gigaton karbon pada periode tersebut. Bahkan, proses penguraian gambut yang telah terganggu masih dapat melepaskan sekitar 0,03–0,08 gigaton karbon per tahun.

Artinya, persoalan karhutla tidak berhenti ketika api padam. Ketika gambut terbakar dan mengalami kerusakan, karbon yang sebelumnya tersimpan dalam tanah selama ribuan tahun dapat kembali masuk ke siklus karbon dan memperburuk persoalan emisi gas rumah kaca.

Upaya pencegahan pun menjadi penting. Penelitian iScience (19/6/2026) terhadap 3.840 penyekatan kanal di lahan gambut Kalimantan menunjukkan bahwa pembasahan kembali gambut yang dilakukan secara efektif berpotensi mencegah hingga 6,4 persen area terbakar dan mengurangi sekitar 0,4 juta ton emisi CO ekuivalen.

Karhutla di Kalimantan, dengan demikian, bukan sekadar cerita tentang api yang muncul setiap musim kemarau. Di balik titik panas dan kepulan asap terdapat persoalan tata kelola lahan, kerentanan ekosistem gambut, serta karbon yang dapat kembali dilepaskan ke atmosfer.

Bagi anak muda yang akan hidup paling lama di tengah perubahan iklim, karhutla bukan sekadar kabar bencana hari ini. Dampaknya dapat menentukan seperti apa lingkungan yang akan diwarisi pada masa depan.