Novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari merupakan salah satu karya penting dalam khazanah sastra Indonesia yang tidak hanya bercerita tentang kehidupan individu, tetapi juga memotret realitas sosial-politik zamannya.
Terbit pertama kali pada tahun 1993, di tengah kuatnya bayang-bayang Soeharto dan rezim Orde Baru. Novel ini menghadirkan potret desa yang miskin, terpinggirkan, dan nyaris tanpa daya menghadapi arus pembangunan.
Cerita berpusat pada tokoh Lasi, seorang perempuan desa dari Karangsoga yang hidup sebagai penderes nira. Ia adalah sosok yang berbeda. Berwajah blasteran, sehingga kerap menjadi bahan gunjingan masyarakat sekitar.
Sinopsis Novel
Sejak awal, kehidupan Lasi sudah ditandai oleh keterasingan dan ketidakadilan sosial. Ia menikah dengan Darsa, seorang penyadap kelapa, tetapi hidupnya justru semakin terpuruk akibat kemiskinan dan tekanan sosial.
Latar desa Karangsoga digambarkan secara eksotis sekaligus tragis. Para penyadap kelapa hidup dalam keterbatasan, bergantung pada alam, dan tidak memiliki kekuatan untuk melawan kebijakan yang datang dari atas.
Ketika proyek pembangunan masuk desa. Seperti pemasangan listrik yang mengorbankan pohon-pohon kelapa milik warga, mereka hanya bisa pasrah. Tokoh Darsa bahkan digambarkan hampir kehilangan kewarasannya saat melihat sebagian besar pohonnya ditebang tanpa kompensasi yang layak.
Di titik ini, Bekisar Merah menghadirkan kritik sosial yang halus namun tajam. Novel ini memperlihatkan bagaimana slogan pembangunan Orde Baru yang sering mengedepankan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi, justru meninggalkan luka bagi masyarakat kecil.
Desa menjadi korban, tetapi tidak memiliki suara. Tidak ada perlawanan, tidak ada gerakan kolektif, hanya penerimaan nasib yang getir.
Sikap “nrima ing pandum” atau menerima takdir menjadi benang merah yang kuat dalam novel ini. Berbeda dengan semangat perlawanan yang pernah digaungkan oleh Soekarno terhadap penindasan kolonial, masyarakat dalam Bekisar Merah justru digambarkan pasif.
Bahkan tokoh Kanjat, seorang lulusan universitas yang seharusnya menjadi agen perubahan, tidak mampu berbuat banyak ketika berhadapan dengan sistem yang timpang.
Namun, bukan berarti Ahmad Tohari sepenuhnya menghindari politik. Kritik dalam novel ini justru hadir melalui kontras antara kehidupan desa yang miskin dan dunia elite yang penuh kemewahan sekaligus kebobrokan moral. Ketika Lasi akhirnya pergi ke Jakarta, ia tidak menemukan kebebasan, melainkan bentuk penindasan yang lain.
Di kota, kecantikan Lasi justru menjadi “modal” yang dimanfaatkan oleh orang-orang berkuasa. Ia dijadikan “bekisar”, sebuah metafora untuk perempuan yang dipelihara sebagai pajangan bagi kaum elite.
Lasi menikah dengan Pak Han, seorang pria kaya, tetapi pernikahan itu tidak lebih dari permainan. Ia kemudian “dipindahkan” lagi ke tangan Bambung, sosok yang merepresentasikan kedekatan dengan kekuasaan.
Kelebihan dan Kekurangan
Melalui perjalanan Lasi, Ahmad Tohari memperlihatkan bahwa perpindahan dari desa ke kota tidak selalu berarti perbaikan nasib. Justru, Lasi terjebak dalam lingkaran eksploitasi yang lebih kompleks. Ia kehilangan otonomi atas dirinya sendiri, menjadi objek dalam relasi kuasa yang tidak seimbang.
Tema eksploitasi perempuan menjadi salah satu aspek penting dalam novel ini. Lasi bukan hanya korban kemiskinan, tetapi juga korban struktur sosial yang patriarkal. Ia dijadikan objek, baik oleh masyarakat desa yang menghakimi, maupun oleh elite kota yang memanfaatkan.
Dalam konteks ini, Bekisar Merah juga dapat dibaca sebagai kritik terhadap posisi perempuan yang rentan dalam struktur sosial Indonesia masa itu.
Meski demikian, novel ini tidak menawarkan resolusi yang heroik. Tidak ada pemberontakan besar, tidak ada kemenangan dramatis. Yang ada hanyalah pergulatan batin, keinginan untuk bebas, dan usaha kecil untuk menemukan kembali makna hidup.
Ketika Lasi mencoba kembali pada cintanya bersama Kanjat, harapan itu pun kembali digagalkan oleh kekuatan yang lebih besar.
Secara keseluruhan, Bekisar Merah adalah potret sunyi tentang ketidakberdayaan. Ia tidak berteriak, tetapi justru dalam kesunyiannya, kritik itu terasa lebih dalam. Ahmad Tohari tidak mengajak pembaca untuk marah secara eksplisit, tetapi membuat kita merenung: mengapa ketidakadilan bisa berlangsung begitu lama tanpa perlawanan?
Novel ini tidak hanya bercerita tentang Lasi, tetapi tentang sebuah zaman. Tentang desa yang kalah oleh pembangunan, tentang perempuan yang terjebak dalam sistem, dan tentang manusia yang, dalam diamnya, belajar menerima nasib, meski hati kecilnya terus bertanya.
Identitas Buku
- Judul: Bekisar Merah
- Penulis: Ahmad Tohari
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Tahun Terbit: 2013
- ISBN: 978-979-22-6632-0
- Tebal: 361 halaman
- Genre: Novel Sastra / Fiksi
Baca Juga
-
Meski Berakhir Mati, Salmon Memilih Bergerak: Merenungi Buku Raditya Dika
-
Mengejar Gitar Legendaris Sunburst 1960 di Buku Andrea Hirata
-
Dari Tanzania ke Tapaktuan: Menaklukkan Diri, Bukan Sekadar Menempuh Jarak
-
Membaca Sudut Pandang Pekerja Offshore di Novel Sumur Minyak Airmata
-
Buku Max Havelaar: Suara dari Lebak 1860 yang Mengguncang Kolonialisme
Artikel Terkait
-
Meski Berakhir Mati, Salmon Memilih Bergerak: Merenungi Buku Raditya Dika
-
Novel Ungkap Kejanggalan Kasus Andrie Yunus: Berkas Dilimpah, Padahal Korban Belum Diperiksa?
-
Mengejar Gitar Legendaris Sunburst 1960 di Buku Andrea Hirata
-
Dari Tanzania ke Tapaktuan: Menaklukkan Diri, Bukan Sekadar Menempuh Jarak
-
Buku Pernah Tenggelam, Batas Tipis Antara Mengidolakan dan Kehilangan Arah
Ulasan
-
Ulasan Novel A untuk Amanda, Beban Berat di Balik Nilai Sempurna
-
Membaca Ulang Burung-Burung Manyar: Apakah Kita Sudah Benar-Benar Merdeka?
-
Membaca Mei Merah 1998: Suara Arwah yang Menuntut Ingatan Sejarah
-
Film 'Senin Harga Naik': Saat Karier Sukses Harus Dibayar dengan Luka Lama Keluarga
-
Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati: Menyusuri Luka dan Alasan untuk Bertahan
Terkini
-
UMR: Batas Antara Standar Minimum dan Maksimum untuk Bertahan yang Kabur
-
Berhenti Merasa Jadi Orang Paling Lelah, Dunia Bukan Milikmu Sendiri!
-
Gaji UMR dan Ilusi Hidup Layak: Realitas yang Kini Mulai Saya Sadari
-
Mampir ke Warung Brodin Nganjuk: Menu Beragam, Rasa Tak Asal-asalan
-
Review 1Q84 Jilid 1: Saat Murakami Menggugat Patriarki di Dunia Dua Bulan