Film Yohanna karya sutradara Razka Robby Ertanto resmi tayang perdana di seluruh bioskop Indonesia mulai 9 April 2026. Film berdurasi 85 menit ini sudah bisa dinikmati di jaringan Cinema XXI, CGV, Cinepolis, dan bioskop lainnya. Versi bioskop berbeda dengan yang diputar di festival internasional: alur cerita menjadi linear (bukan non-linear seperti di Rotterdam), ditambah musik yang lebih kaya untuk memperkuat emosi.
Setelah dua tahun berkeliling festival dunia—dari International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2024 hingga Asian Film Festival Roma—Yohanna akhirnya hadir untuk penonton Tanah Air dengan sentuhan yang lebih mudah diikuti.
Ujian Iman: Antara Keyakinan dan Keraguan di Tengah Penderitaan
Laura Basuki memerankan Suster Yohanna, biarawati muda yang dikirim ke Pulau Sumba untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan pasca-Siklon Seroja. Ia ditemani Malu (Iqua Tahlequa), sahabat yang keluar dari biara tetapi tetap mendukung misinya.
Rencana sederhana berubah dramatis ketika truk pinjaman dicuri. Yohanna terpaksa menyelami dunia bawah tanah Sumba: eksploitasi kerja anak, korupsi polisi, kemiskinan ekstrem, dan perdagangan alkohol ilegal. Di tengah itu, muncul Alis (Kirana Grasela), gadis kecil yang menjadi pemandu sekaligus korban sistem yang kejam. Perjalanan ini bukan sekadar pencarian truk, melainkan ujian iman, moral, dan tujuan hidup Yohanna.
Razka Robby Ertanto, yang juga menulis skenario, menyatukan dua kekuatan dari film-film sebelumnya: fondasi religius seperti Ave Maryam dan kritik sosial seperti Cross the Line. Hasilnya adalah drama-thriller yang tegang sekaligus introspektif. Film ini tidak sekadar menunjukkan kemiskinan Sumba—wilayah yang separuh anaknya putus sekolah, malaria merajalela, dan kejahatan lahir dari kemiskinan—melainkan bagaimana sistem korup memanfaatkan anak-anak sebagai tenaga kerja murah.
Yohanna, yang awalnya penuh idealisme kemanusiaan, kini harus berbohong, berjudi, dan berkompromi demi menepati janji kepada pemilik truk. Kutipan Alkitab, “Aku percaya; tolonglah ketidakpercayaanku” (Markus 9:24), menjadi inti film: iman dan keraguan bisa hidup berdampingan dalam kontradiksi yang menyakitkan.
Ulasan Film Yohanna
Penampilan Laura Basuki luar biasa. Ia membawaku masuk ke dark night of the soul Yohanna—dari keyakinan teguh hingga kehancuran moral yang perlahan-lahan. Ekspresi wajahnya, gerak tubuhnya yang semakin tegang, dan interaksi dengan polisi serta Malu menjadi puncak emosional. Kirana Grasela sebagai Alis mencuri perhatian; meski diperankan nonaktor, ia menghadirkan realisme yang menyayat hati. Iqua Tahlequa sebagai Malu juga kuat, mewakili perspektif sekuler yang kontras dengan iman Yohanna. Jajang C. Noer dan aktor pendukung lain menambah lapisan autentisitas.
Secara teknis, Yohanna sangatlah memukau. Sinematografi Odyssey Flores menggunakan handheld tracking shots yang documentary-like, mengikuti karakter seolah kita ikut berlari di jalan-jalan Sumba yang berdebu. Warna desaturasi membuat pulau yang indah terasa suram—cocok dengan tema eksploitasi. Editing Diego Marx Doples lincah dan ambisius; versi bioskop yang linear membuat alur lebih mudah diikuti dibandingkan festival, meski tetap ada kilas balik emosional yang tajam. Ketegangan terus naik seperti Uncut Gems, memaksaku dan penonton yang lain merasakan stres empati yang melelahkan tetapi adiktif.
Kelebihan terbesar film ini adalah keberaniannya mengangkat isu nyata tanpa sensasionalisasi berlebihan. Razka tidak menghakimi; ia biarkan penonton menyaksikan bagaimana kemiskinan merusak iman, keluarga, dan kemanusiaan. Beberapa adegan nyanyian atau momen lambat mungkin terasa kurang pas, tetapi itu minor di tengah kekuatan keseluruhan. Rating IMDb 6,3/10 (dari festival) sebenarnya kurang mewakili; bagi penonton Indonesia yang menyukai film festival berkualitas, Yohanna jauh lebih impactful.
Secara keseluruhan, Yohanna adalah salah satu film Indonesia terbaik tahun ini. Ia bukan hiburan ringan, melainkan pengalaman yang menggugah hati sekaligus mengajak refleksi: apakah iman kita kuat saat dihadapkan pada realitas yang kejam? Apakah tujuan hidup kita masih relevan di tengah penderitaan orang lain? Laura Basuki layak disebut kandidat aktris terbaik, dan Razka Robby Ertanto membuktikan dirinya sebagai sutradara auteur yang konsisten.
Sangat aku rekomendasikan ditonton di bioskop untuk pengalaman imersif penuh. Jangan lupa bawa tisu dan siapkan diskusi setelah kamu nonton filmnya. Yohanna bukan film yang mudah dilupakan—ia meninggalkan luka sekaligus harapan. Rating pribadi dariku: 8/10.
Baca Juga
-
Review Bloodhounds Season 2: Bromance Brutal Is Back, Udah Siap Liat Rain Jadi Villain?
-
Emosional, Menyentuh, dan Relatable! Film Ini Bakal Bikin Kamu Ingin Langsung Peluk Orang Tua
-
Review Film Don't Follow Me: Slow Burn Horor dengan Plot Twist yang Kuat!
-
Review Film Project Hail Mary: Hadirkan Visual IMAX yang Spektakuler!
-
Rami Malek Jadi Freddie: Mengulik Pesan Keberanian Jadi Diri Sendiri di Film Bohemian Rhapsody
Artikel Terkait
-
Review Bloodhounds Season 2: Bromance Brutal Is Back, Udah Siap Liat Rain Jadi Villain?
-
Review Film Project Hail Mary: Hadirkan Visual IMAX yang Spektakuler!
-
Rami Malek Jadi Freddie: Mengulik Pesan Keberanian Jadi Diri Sendiri di Film Bohemian Rhapsody
-
Review Drive My Car: Film yang Menghancurkan Hati sekaligus Menghibur
-
Review Film Christy: Drama Keluarga yang Hangat dari Pinggiran Irlandia
Ulasan
-
Buku Tamasya Ke Taman Diri; Menemukan Tuhan Lewat Kata-Kata Para Sufi
-
Luka dari Meurawoe: Membaca Aceh Pasca-DOM dalam Bayang Suram Pelangi
-
Mencintai yang Berbeda: Mengapa Novel 'Kisah Seekor Camar dan Kucing' Wajib Anda Baca
-
Review Bloodhounds Season 2: Bromance Brutal Is Back, Udah Siap Liat Rain Jadi Villain?
-
Besok Sisa Sengsara? Udah, Rayakan Hari Ini Aja Bareng Lagu "Kita ke Sana" dari Hindia
Terkini
-
Final ASEAN Futsal: Suoto Jamin Timnas Indonesia Tak Minder Hadapi Thailand
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Makna Belajar yang Hilang di Balik Sistem Pendidikan Indonesia
-
Kontrak dengan Agensi Habis, AB6IX Umumkan Hiatus dari Kegiatan Grup
-
6 HP Harga Rp2 Jutaan dengan Kamera 108MP dan Stabilizer, Hasil Foto Memukau Setara iPhone