Lintang Siltya Utami | Ukhro Wiyah
Drama Pro Bono (Netflix)
Ukhro Wiyah

Di dunia yang ideal, hukum seharusnya berdiri netral. Tapi kenyataannya, sering kali keadilan terasa lebih dekat dengan mereka yang punya kuasa. Sementara di sisi lain, masih banyak orang yang bahkan tidak tahu harus mulai dari mana ketika haknya dirampas.

Istilah pro bono sebetulnya sudah tidak begitu asing di telinga saya sebagai salah satu penggemar drama bertema hukum. Meskipun, saya belum terlalu memahaminya secara luas dan mendetail.

Melalui drama ini, saya perlahan mengerti jika keadilan bukan hanya tentang hukum yang ditegakkan, tetapi juga soal kemanusiaan yang seringkali terabaikan. Di situlah peran pengacara pro bono menjadi begitu penting.

Saat pertama kali mulai menonton drama ini, saya tidak berekspektasi terlalu tinggi. Saya pikir ini akan menjadi drama hukum biasa dengan konflik ruang sidang dan debat panjang. Namun, semakin jauh mengikuti ceritanya, saya justru merasa drama ini pelan-pelan “menampar” cara pandang saya tentang arti keadilan itu sendiri.

Sinopsis Drama Pro Bono

Gimana jadinya jika seorang hakim kelas atas tiba-tiba tersandung sebuah skandal dan harus turun jabatan menjadi pengacara pro bono yang menangani kasus secara gratis?

Itulah yang dialami oleh Kang Da-wit (Jung Kyung-ho). Dia harus mundur dari jabatannya sebagai hakim setelah terjebak dalam insiden tak terduga. Pengalaman pahit itu membuat dia akhirnya bergabung dalam sebuah firma hukum dan memulai karier sebagai pengacara kepentingan publik di ruangan kecil tanpa sinar matahari.

Di tim tersebut, Da-wit bertemu dengan beberapa pengacara muda yang memilih memberikan layanan hukum gratis (pro bono) bagi masyarakat kecil yang sering kali tidak memiliki akses terhadap keadilan.

Setiap kasus yang ditangani oleh tim pro bono bukan sekadar perkara hukum biasa. Di baliknya, ada cerita tentang kehilangan, ketidakberdayaan, dan perjuangan orang-orang yang selama ini suaranya tidak pernah benar-benar didengar.

Namun, jalan yang mereka pilih tentu tidak mudah. Tim pro bono harus berhadapan dengan sistem yang kaku, dan tekanan dari berbagai pihak.

Ulasan Drama Pro Bono

Yang paling terasa dari drama ini adalah bagaimana ceritanya dibangun dengan sangat “manusiawi”. Tidak ada kesan berlebihan atau dramatisasi yang dipaksakan. Justru sebaliknya, semuanya terasa dekat. Seolah-olah kasus-kasus yang ditampilkan bisa saja terjadi di sekitar kita.

Dan jujur saja, sebagai penonton di Indonesia, saya tidak bisa sepenuhnya melihat drama ini sebagai fiksi semata.

Beberapa kasus yang ditampilkan terasa sangat familiar. Tentang orang kecil yang harus berhadapan dengan sistem yang rumit. Tentang korban yang harus berjuang sendiri untuk membuktikan kebenaran. Atau tentang bagaimana proses hukum yang panjang justru membuat orang lelah sebelum keadilan benar-benar datang.

Kita mungkin pernah mendengar kasus-kasus serupa: ketidakadilan bagi pekerja kecil, korban kekerasan yang kesulitan mendapatkan perlindungan hukum yang layak, dan kasus lain yang dianggap remeh. Tidak selalu viral, tidak selalu masuk berita besar, tapi nyata terjadi.

Di situlah Pro Bono terasa relevan. Ia seperti cermin yang memantulkan realitas, meski dibungkus dalam cerita drama.

Saya juga suka bagaimana karakter utamanya tidak digambarkan sebagai sosok sempurna. Ia tetap ragu, lelah, bahkan terkadang terlihat goyah. Tapi ia tetap memilih bertahan, meski tahu jalannya tidak akan mudah.

Dan yang paling menarik, drama ini tidak hanya berbicara soal menang atau kalah di pengadilan. Ia lebih banyak bercerita tentang proses: bagaimana memperjuangkan sesuatu yang benar, meski hasil akhirnya tidak selalu sesuai harapan.

Menonton Pro Bono membuat saya berpikir bahwa keadilan bukan hanya soal hukum, tetapi juga soal siapa yang punya kesempatan untuk didengar. Tidak semua orang memiliki privilege untuk memperjuangkan dirinya sendiri. Ada yang harus menyerah bukan karena salah, tetapi karena tidak punya cukup tenaga, waktu, atau biaya untuk terus melawan. Dan mungkin, inilah yang sering luput kita sadari. Bahwa di balik setiap kasus, ada manusia yang sedang berjuang mempertahankan hidupnya.

Drama ini juga terasa seperti pengingat bahwa empati tidak selalu harus datang dalam bentuk besar. Kadang, cukup dengan tidak menutup mata, tidak menyalahkan korban, dan mau memahami dari sudut pandang yang berbeda, itu sudah berarti.

Istilah Pro Bono kini bukan lagi hanya tentang hukum, tetapi tentang pilihan: apakah kita ingin menjadi bagian dari sistem yang diam, atau setidaknya menjadi seseorang yang masih peduli. Karena di dunia yang tidak selalu adil, mungkin hal paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah tidak ikut menjadi bagian dari alasan kenapa ketidakadilan itu terus terjadi.

Terlepas dari tema hukum yang mungkin terasa cukup berat bagi sebagian orang, drama ini juga ada selipan tingkah konyol Da-wit dan anggota timnya yang membuat ceritanya terasa lebih menyenangkan. Jadi, menurutku pribadi, drama Pro Bono masih terasa ringan ditonton. Penggemar drama tema hukum wajib sih, nonton ini.