Lintang Siltya Utami | Ukhro Wiyah
Ilustrasi Paket Belanja Online (magnific.com/jcomp)
Ukhro Wiyah

"Ayo, Sayang, segera checkout dan payment sekarang juga. Lima menit lagi diskon berakhir. Lima menit lagi!"

Suara host live bergema dari ponsel kita. Diskon tanggal kembar atau flash sale dadakan menjadi hal yang selalu ditunggu-tunggu oleh banyak pengguna marketplace digital. Karena, ya, siapa sih yang tidak suka diskon? Kita bisa beli sesuatu dengan harga yang jauh lebih murah dari biasanya. Saya pun menyukainya, meskipun tidak selalu checkout setiap kali ada diskon.

Karena itu, tidak heran jika banyak orang yang langsung menekan tombol checkout dan payment saat mendengar promo akan segera berakhir. Apalagi jika ada tambahan diskon, cashback, atau gratis ongkir yang membuat harga terasa jauh lebih murah. Rasanya seperti mendapatkan keuntungan besar hanya dalam hitungan menit.

Namun, pernahkah kita berpikir bahwa setiap diskon yang kita nikmati sebenarnya menyisakan "tagihan" lain yang harus dibayar? Bukan oleh dompet kita, melainkan oleh lingkungan. Sebab di balik satu paket yang datang ke depan rumah, ada kardus, plastik, bubble wrap, dan berbagai kemasan lain yang sebagian besar berakhir menjadi sampah dalam waktu singkat. Mungkin satu paket tidak terlihat berarti. Namun ketika jutaan orang melakukan hal yang sama pada momen flash sale, sampah yang dihasilkan pun ikut meningkat dalam jumlah yang tidak sedikit.

Adanya penawaran diskon yang cukup besar memang sering kali mendorong kita untuk membeli lebih banyak dari biasanya. Bahkan tak jarang, orang membeli sesuatu bukan karena benar-benar membutuhkan, tetapi hanya karena tergoda harga yang sedang turun. Dalam hal ini, fenomena "mumpung diskon" perlahan mengaburkan batas antara kebutuhan dan keinginan. Akibatnya, semakin banyak paket yang dikirimkan dan semakin banyak pula kemasan yang berakhir menjadi sampah di rumah kita.

Masalahnya, setiap paket yang kita terima dari belanja online ini dibungkus dengan berlapis-lapis. Mulai dari plastik, kardus barang, bubble wrap, bahkan kadang masih ada kardus atau plastik lagi yang lebih besar di bagian paling luar. Barang yang berukuran kecil pun, sering kali kemasan yang digunakan terlihat jauh lebih besar dibandingkan isi di dalamnya.

Setelah proses unboxing selesai, sebagian besar kemasan tersebut langsung dibuang. Kardus mungkin masih bisa dimanfaatkan kembali oleh sebagian orang, tetapi plastik dan bubble wrap sering kali berakhir sebagai sampah. Jika hal ini terjadi pada jutaan transaksi setiap hari, tentu jumlah sampah yang dihasilkan bukanlah angka yang kecil.

Sampah-sampah dari belanja online seperti ini sering tak terlihat sebagai masalah. Masyarakat hanya fokus pada barang yang mereka beli, sementara kemasannya hanya dianggap konsekuensi biasa. Apalagi, di masing-masing rumah jumlahnya hanya sedikit, padahal jika dikumpulkan secara keseluruhan dari semua transaksi yang terjadi setiap hari, volume-nya bisa sangat besar. Dan masalah lingkungan sering kali muncul dari kebiasaan kecil yang dilakukan banyak orang secara bersamaan.

Di titik ini, kita bisa melihat sisi lain yang dari belanja online. Teknologi yang terus berkembang hingga hari ini memang memberikan banyak kemudahan dalam hidup kita, termasuk dalam hal belanja. Namun, di balik kemudahan tersebut, faktanya tetap ada limbah yang dihasilkan. Semakin tinggi frekuensi kita belanja, semakin besar pula sampah kemasan yang dihasilkan. Artinya, kemajuan teknologi tak selalu bebas dari dampaknya pada lingkungan dan bumi kita.

Oleh karena itu, hal yang mungkin bisa kita lakukan adalah dengan menjadi konsumen yang lebih bijak. Diskon memang menguntungkan, tetapi alangkah baiknya kita tetap mempertimbangkan kebutuhan sebelum melakukan checkout. Jangan sampai flash sale malah membuat kita melakukan pembelian impulsif.

Selain itu, kita juga bisa memanfaatkan kembali kardus atau kemasan paket yang masih layak digunakan. Entah untuk kerajinan atau dikumpulkan dan dijual ke pengepul barang rongsokan. Kita tidak harus berhenti berbelanja, tetapi kita perlu lebih bijak dalam mengonsumsi.

Seperti yang kita tahu selama ini, flash sale memang mampu membuat pengeluaran terasa lebih hemat. Namun, sampah yang dihasilkan dari setiap transaksi tidak ikut menghilang bersama berakhirnya masa promo. Karena itu, selain menikmati berbagai keuntungan yang ditawarkan, kita juga perlu menyadari bahwa setiap keputusan membeli memiliki dampaknya sendiri. Sebab di balik setiap paket yang datang ke depan rumah, ada jejak sampah yang sering kali terlupakan.