In this economy, mencari pekerjaan sampingan adalah salah satu alternatif yang dijadikan orang-orang sebagai jalan untuk memperbaiki kehidupan ekonomi. Di tengah perekonomian yang carut-marut, hidup dalam satu pekerjaan utama rasanya tidak cukup. Dan menekuni satu side hustle seolah bisa menjadi solusi.
Salah satu alternatif yang banyak dipilih adalah menjadi seorang desainer grafis. Pekerjaannya fleksibel, dan bisa memperoleh klien dari mana saja.
Meski terdengar menjanjikan, tapi ternyata menjadi seorang desainer grafis tidak semudah itu. Dalam buku berjudul 'Ya Tuhan, Desain Grafis, Deadline, Doa' Aditya Yoga dan Zinnia mengungkap segala keresahan seorang desainer grafis yang dituangkan dalam bentuk kumpulan prosa pendek.
Isinya tentang doa seorang hamba desainer grafis kepada Tuhan dengan nuansa satir. Sebagaimana paragraf berikut.
"Wahai para desainer
dan darinyalah diturunkan jalur yang nyata
Namun tak tampak mata untuk menuntun kita
dalam keteraturan, dan jalur tersebut tidak hadir untuk membatasi kita dalam kakunya rancangan.
Atas nama grid kamu patuh padanya."
Sebenarnya saya sedikit bingung dalam mendeskripsikan buku ini. Bentuknya seperti kunpulan doa kepada Tuhan, tapi isinya receh dan penuh dengan komedi gelap seputar realitas dunia kerja. Meski bernuansa agak gelap, isinya tetap saja lucu dan jenaka jika dibaca saat butuh hiburan.
"Ya Tuhan
Maha Pengampun, maafkan aku
Yang terpaksa meninggalkan
janda sendirian di akhir paragraf
dan yatim di kolom baru
Amin"
Kalau pembaca adalah seorang desainer grafis atau mungkin pekerja kreatif lainnya, buku ini akan sangat relatable. Isinya adalah uneg-uneg dan segala keresahan para desainer grafis dalam menghadapi klien, deadline yang kadang sangat merepotkan, anak magang yang suka blunder, revisi tiada henti, hingga atasan yang menyusahkan.
Kalau para desainer grafis saja bisa memanjatkan doa dengan sebegitu detailnya, kenapa sebagai manusia dan hamba Allah saya lupa untuk berdoa seperti ini?
"Ya Tuhan
Berikanlah saya kekuatan dalam
berkonsentrasi menyelesaikan
deadline ini, hindarkan kami
dari godaan referensi bagus
yang tak berujung
Amin"
Barangkali apa yang ditulis oleh Aditya Yoga dan Zinnia ini bisa menjadi ide yang ditiru oleh pembaca. Kalau punya banyak keresahan, kenapa tidak dituangkan saja dalam bentuk doa?
Saya pribadi bukan seorang desainer grafis, tapi membaca buku ini tetap saja bikin ngakak. Khususnya saat membaca salah satu doa berikut.
"Ya Tuhan
Pulangkanlah bos saya
sesegera mungkin, karena saya
nggak enak kalau pulang duluan..
Amin"
Berhubung buku ini ditulis pada tahun 2016 ketika penggunaan AI belum semasif sekarang, pasti para penulis akan semakin punya banyak ide untuk memanjatkan doa lain. Karena posisi sebagai desainer grafis benar-benar semakin terpinggirkan ketika tidak mampu berinovasi dan lebih kreatif menghadapi teknologi.
Kelebihannya, buku ini sangat ringan untuk dibaca. Cocok untuk jadi bacaan yang menemani waktu bersantai karena isinya yang penuh dengan curhat absurd yang jenaka. Buku ini juga ditulis dalam bentuk prosa pendek sehingga bisa dibaca sekali duduk.
Hanya saja, berhubung buku ini secara umum membahas seputar isu dalam pekerjaan kreatif, maka pembaca yang diluar ranah tersebut barangkali akan sulit untuk relate. Buku ini juga barangkali akan terlalu ringan bagi pembaca yang lebih suka dengan jenis bacaan reflektif yang mendalam.
Tapi secara umum, buku ini cukup menarik. Bagi pembaca yang membutuhkan bacaan untuk menemani waktu bersantai, buku ini bisa menjadi rekomendasi yang sangat menghibur. Selamat membaca!
Baca Juga
-
Refleksi Idul Adha dalam Pendidikan Anak di Buku Kiat Menjadi Guru Keluarga
-
Dear You: Antara Cinta, Patah hati, dan Kisah yang Tak Pernah Usai
-
Keyakinan yang Mengubah Realitas dalam Buku Spontaneus Healing of Belief
-
Productivity Hack: 80 Inspirasi untuk Mendongkrak Produktivitas Pribadi
-
Pahlawan Ekonomi Kreatif: Tetap Cuan Meski Tanpa Kerja Kantoran
Artikel Terkait
-
Ulang Tahun ke-85, Mien R. Uno Luncurkan Buku Cermin Diri: Berisi Pesan untuk Generasi Muda
-
Bermental Tangguh dan Berprinsip Teguh: Filosofi China di Buku Dao De Jing
-
Better Than This: Ketika Taruhan Berujung Cinta
-
Kritik Novel Bukan Perawan Maria: Antara Gagasan Berani dan Narasi Tanggung
-
Kerumunan Terakhir: Mengapa Novel Okky Madasari Ini Ramalan Paling Akurat Tentang Media Sosial Kita?
Ulasan
-
The Red Palace: Fiksi Sejarah Joseon Abad ke-18 yang Penuh Intrik Kerajaan
-
Review Agent Kim Reactivated: Ketika Orang Baik Dipaksa Menjadi Buas
-
Ulasan Novel Confessions: Dendam Seorang Guru yang Berubah Menjadi Teror
-
Ulasan Hyper Knife: Membongkar Obsesi dan Sisi Gelap Dunia Kedokteran
-
Dihukum Tanpa Tahu Kesalahan: Sisi Gelap Birokrasi dalam Mahakarya Franz Kafka
Terkini
-
Bukan Main! Jun Ji Hyun Sabet 'Extraordinary Star Asia Award' di NYAFF ke-25
-
Tayang 2027, Anime Futuristis RE:BEL ROBOTICA Rilis Teaser dan Visual Baru
-
Kenapa Kita Nggak Bisa Beraktivitas Tanpa Suara Latar YouTube atau Podcast?
-
5 Trik Mudah Beradaptasi Kembali untuk Fokus Belajar Setelah Liburan
-
Me Time di Tempat Umum: Saat Gen Z Refleks Menyibukkan Diri saat Sendirian