Hayuning Ratri Hapsari | Akramunnisa Amir
Sampul Buku Ya Tuhan, Desain Grafis, Deadline, Doa (Goodreads)
Akramunnisa Amir

In this economy, mencari pekerjaan sampingan adalah salah satu alternatif yang dijadikan orang-orang sebagai jalan untuk memperbaiki kehidupan ekonomi. Di tengah perekonomian yang carut-marut, hidup dalam satu pekerjaan utama rasanya tidak cukup. Dan menekuni satu side hustle seolah bisa menjadi solusi.

Salah satu alternatif yang banyak dipilih adalah menjadi seorang desainer grafis. Pekerjaannya fleksibel, dan bisa memperoleh klien dari mana saja.

Meski terdengar menjanjikan, tapi ternyata menjadi seorang desainer grafis tidak semudah itu. Dalam buku berjudul 'Ya Tuhan, Desain Grafis, Deadline, Doa' Aditya Yoga dan Zinnia mengungkap segala keresahan seorang desainer grafis yang dituangkan dalam bentuk  kumpulan prosa pendek.

Isinya tentang doa seorang hamba desainer grafis kepada Tuhan dengan nuansa satir. Sebagaimana paragraf berikut.

"Wahai para desainer

dan darinyalah diturunkan jalur yang nyata
Namun tak tampak mata untuk menuntun kita
dalam  keteraturan, dan jalur tersebut tidak hadir untuk membatasi kita dalam kakunya rancangan.

Atas nama grid kamu patuh padanya."

Sebenarnya saya sedikit bingung dalam mendeskripsikan buku ini. Bentuknya seperti kunpulan doa kepada Tuhan, tapi isinya receh dan penuh dengan komedi gelap seputar realitas dunia kerja. Meski bernuansa agak gelap, isinya tetap saja lucu dan jenaka jika dibaca saat butuh hiburan.

"Ya Tuhan

Maha Pengampun, maafkan aku
Yang terpaksa meninggalkan
janda sendirian di akhir paragraf
dan yatim di kolom baru

Amin"

Kalau pembaca  adalah seorang desainer grafis atau mungkin pekerja kreatif lainnya, buku ini akan sangat relatable. Isinya adalah uneg-uneg dan segala keresahan para desainer grafis dalam menghadapi klien, deadline yang kadang sangat merepotkan, anak magang yang suka blunder, revisi tiada henti, hingga atasan yang menyusahkan.

Kalau para desainer grafis saja bisa memanjatkan doa dengan sebegitu detailnya, kenapa sebagai manusia dan hamba Allah saya lupa untuk berdoa seperti ini?

"Ya Tuhan

Berikanlah saya kekuatan dalam
berkonsentrasi menyelesaikan
deadline ini, hindarkan kami
dari godaan referensi bagus
yang tak berujung

Amin"

Barangkali apa yang ditulis oleh Aditya Yoga dan Zinnia ini bisa menjadi ide yang ditiru oleh pembaca. Kalau punya banyak keresahan, kenapa tidak dituangkan saja dalam bentuk doa?

Saya pribadi bukan seorang desainer grafis, tapi membaca buku ini tetap saja bikin ngakak. Khususnya saat membaca salah satu doa berikut.

"Ya Tuhan

Pulangkanlah bos saya
sesegera mungkin, karena saya
nggak enak kalau pulang duluan..

Amin"

Berhubung buku ini ditulis pada tahun 2016 ketika penggunaan AI belum semasif sekarang, pasti para penulis akan semakin punya banyak ide untuk memanjatkan doa lain. Karena posisi sebagai desainer grafis benar-benar semakin terpinggirkan ketika tidak mampu berinovasi dan lebih kreatif menghadapi teknologi.

Kelebihannya, buku ini sangat ringan untuk dibaca. Cocok untuk jadi bacaan yang menemani waktu bersantai karena isinya yang penuh dengan curhat absurd yang jenaka. Buku ini juga ditulis dalam bentuk prosa pendek sehingga bisa dibaca sekali duduk.

Hanya saja, berhubung buku ini secara umum membahas seputar isu dalam pekerjaan kreatif, maka pembaca yang diluar ranah tersebut barangkali akan sulit untuk relate. Buku ini juga barangkali akan terlalu ringan bagi pembaca yang lebih suka dengan jenis bacaan reflektif yang mendalam.

Tapi secara umum, buku ini cukup menarik. Bagi pembaca yang membutuhkan bacaan untuk menemani waktu bersantai, buku ini bisa menjadi rekomendasi yang sangat menghibur. Selamat membaca!