Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London adalah dokumentasi jujur tentang getirnya kemiskinan. George Orwell, yang kita kenal lewat karya besarnya seperti Animal Farm dan 1984, dalam buku ini memilih untuk menanggalkan status penulisnya dan terjun langsung merasakan hidup di titik paling rendah.
Orwell memulai kisahnya di Paris saat ia masih cukup muda, sekitar usia 23 hingga 25 tahun. Alih-alih mencari romantisme kehidupan bohemian yang indah di ibu kota Prancis, ia justru terperosok ke dalam realitas yang kelam. Setelah mengalami masa kerja yang tidak tetap dan menjadi korban perampokan, Orwell berubah dari seorang ekspatriat kelas menengah menjadi orang miskin sejati. Pengalaman ini ia jadikan cara untuk "menyucikan" diri dari prasangka kelas atas yang sempat melekat padanya sejak masa sekolah di Eton.
Ia menetap di Rue du Coq d’Or, sebuah lingkungan kumuh penuh hotel reot yang bau dan berisik. Tempat itu dihuni oleh orang-orang eksentrik dari berbagai negara seperti Polandia, Arab, dan Italia. Bagi Orwell, mereka bukan sekadar objek pengamatan, melainkan jiwa-jiwa yang terjebak dalam kesepian. Ia menulis bahwa kemiskinan membebaskan mereka dari aturan perilaku biasa karena saat seseorang sudah tidak punya apa-apa, mereka berhenti berusaha untuk terlihat normal atau sopan.
Perjuangan Orwell untuk bertahan hidup sangatlah berat. Setelah gajinya sebagai guru bahasa Inggris habis, ia benar-benar kehilangan arah untuk memikirkan masa depan. Ia terpaksa hidup hanya dengan roti dan mentega, sementara barang-barangnya digadaikan satu demi satu. Puncaknya adalah ketika ia bekerja sebagai pencuci piring di sebuah hotel besar. Di sana ia melihat kontradiksi yang tajam: makanan yang dihidangkan ke tamu sangat mahal, namun suasana di dapurnya sangat jorok dan kotor. Ia harus bekerja hingga 21 jam sehari dan hanya bisa istirahat selama 2,5 jam.
Dari pengalaman ini, Orwell baru menyadari bahwa tidur adalah sebuah kenikmatan luar biasa, dan makanan yang tidak enak pun akan terasa sangat lezat saat perut benar-benar lapar. Ia menyaksikan bagaimana para pekerja miskin di sana menghabiskan malam minggu dengan mabuk anggur murah hanya demi melupakan penderitaan sejenak, meski harus berakhir dengan sakit kepala yang hebat. Bahkan, ketika terjadi peristiwa pembunuhan di hotel tempatnya tinggal, para pekerja yang sudah sangat kelelahan hanya menoleh sekilas dan memilih untuk melanjutkan tidur mereka.
Saat pindah ke Inggris, Orwell menjumpai realitas yang serupa pada puluhan ribu gelandangan. Mereka hidup tanpa tujuan, berpindah-pindah tempat dengan hanya mengandalkan pakaian yang melekat di badan. Pengalaman ini benar-benar mengubah cara pandang Orwell; ia tidak lagi menganggap gelandangan sebagai orang yang malas atau pemabuk semata. Ia memahami bahwa kemiskinan sering kali diciptakan oleh sistem. Hidup miskin berarti kekurangan akses pada pendidikan dan pengalaman kerja yang baik, sehingga orang terjebak dalam pekerjaan kasar yang tidak membutuhkan kreativitas dan mudah digantikan.
Membaca ulasan Orwell ini memang melelahkan dan sering kali membuat muak karena penggambaran suasana yang sangat detail mengenai bau, kotor, dan panasnya dunia bawah. Namun, inilah kekuatan karyanya. Orwell memposisikan dirinya sebagai bagian dari mereka: dia, Boris, Paddy, dan rekan-rekan gelandangan lainnya adalah saksi hidup yang suaranya layak didengar.
Bagi kita yang hidup di masa kini, yang mungkin belum pernah merasakan ditertawakan petugas pegadaian karena barang kita tidak berharga, buku ini menjadi refleksi yang sangat dalam. Pada akhirnya, kisah Orwell mengajarkan kita untuk lebih menghargai makanan dan tempat tinggal yang melindungi kita karena bagi banyak orang, hal-hal sederhana tersebut adalah kemewahan yang sulit dicapai.
Identitas Buku
- Judul: Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London
- Penulis: George Orwell
- Tahun Terbit: 2019
- Penerbit: Diva Press
- ISBN: 978-602-391-744-0
Baca Juga
-
Mengenal New BIONS, Langkah Awal Mahasiswa Memahami Dunia Investasi
-
Kacang Hijau: Penyelamat Sawah Saat Kemarau dan Jalan Rezeki Tak Terduga
-
Ketika Dongeng Ayah Berhadapan dengan Skeptisisme Anak yang Beranjak Dewasa
-
Prestasi dan Tuntutan Sosial: Ketika Kemenangan Berujung Tagihan Traktiran
-
Guru Honorer Bukan Cuma di Indonesia: Ironi dalam Dua Belas Pasang Mata
Artikel Terkait
-
Bill Gates dan Obama Mewajibkan Baca Buku Ini! Membedah Rahasia Dominasi Sapiens ala Harari
-
Momen Keakraban Prabowo dan Macron saat bertemu di Paris
-
Hancurkan Liverpool, PSG Bidik Rekor Langka di Liga Champions
-
Berhenti Takut Merasa Sepi! Ini Rahasia Mengubah Kesendirian Menjadi Penyembuhan Diri
-
Validasi Terbaik Saat Ingin Nyerah: Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah
Ulasan
-
Menguak Andil Manusia, Benarkah Kepunahan Keenam akan Segera Tiba?
-
Terjebak Lingkaran Setan di I Saw the Devil, Siapa yang Sebenarnya Jahat?
-
Kisah Cinta, Kutu Buku, dan Petualangan Surealis: Review Jagat Rajawali Karya Eko Darmoko
-
Ngeri Banget! Serial Carrie Buktikan Cyberbullying Jauh Lebih Kejam dari Kutukan
-
Pursuit of Jade: Drama dengan Role Reversal Baru Zhang Linghe & Tian Xiwei
Terkini
-
Sisi Gelap Solo Traveling yang Gak Ada di Algoritma Instagram, Perempuan Wajib Tahu!
-
Baekhyun EXO Dirikan Agensi Baru, CBX Dikabarkan Siap Bernaung Bersama
-
Viral Guru AI IELTS Mengamuk, Benarkah Kecerdasan Buatan Mulai Punya Perasaan?
-
Bukan Soal Anti Asing, Ini Alasan Standar Halal Indonesia Bikin Negara Maju Ketar-ketir!
-
Stop Scroll Medsos Seharian! Ini Terapi Paling Manjur Bebas dari Brain Fog