Lintang Siltya Utami | Chairun Nisa
Novel Paya Nie. (Penerbit Marjin Kiri)
Chairun Nisa

Saya pribadi selalu punya ketertarikan khusus pada novel-novel sejarah yang mengambil sudut pandang subjektif. Menyelami lembar demi lembar fiksi sejarah rasanya jauh lebih memuaskan dan punya perasaan, ketimbang harus membaca catatan sejarah yang diklaim objektif melalui buku-buku resmi terbitan pemerintah. Buku sejarah resmi kerap kali kaku, mencatat sebuah konflik bersenjata hanya melalui angka, tanggal, dan nama-nama besar di meja perundingan. Namun, lewat fiksi subjektif, kita diajak merasakan emosi yang intim dan menyakitkan dari nasib rakyat jelata yang terjebak di tengah pusaran peluru.

Ketertarikan pada narasi yang manusiawi ini terpenuhi secara tuntas melalui novel Paya Nie karya Ida Fitri. Bagi saya, novel ini menjadi kawan yang sangat sepadan bagi deretan karya fiksi sejarah Aceh lain, terutama karya-karya Arafat Nuryang selama ini menjadi penulis kesayangan saya dan spesialis dalam menggambarkan realisme kelam seputar peracehan. Mengambil latar sekitar tahun 2004, buku ini memotret masa-masa mencekam saat konfrontasi antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) mencapai puncaknya di bawah perintah Presiden Megawati Soekarnoputri.

Ulasan

Cerita ini berpusat di sebuah rawa gambut bernama Paya Nie yang terletak di daerah Bireuen, Aceh. Dikisahkan, empat orang perempuan desa bernama Mawa Aisyah, Cuda Aminah, Kak Limah, dan Ubiet sedang turun ke rawa untuk mengumpulkan binyeut atau purun danau. Tumbuhan rawa ini biasa mereka panen untuk kemudian dianyam menjadi tikar demi menyambung hidup. Aktivitas harian yang terlihat biasa dan tenang ini sebenarnya berjalan di bawah bayang-bayang ketakutan yang luar biasa. Rawa yang semula menjadi sumber mata pencaharian perlahan berubah fungsi menjadi zona pertempuran yang dingin dan tempat persembunyian yang penuh kecurigaan.

Sembari tangan mereka sibuk mencabut purun, keempat wanita ini saling bertukar cerita untuk mengusir sepi dan ketegangan. Lewat obrolan dan kilas balik ingatan mereka, pembaca perlahan diajak mengintip isi Kampung Salamanga dan sekitarnya. Cerita mengalir dari bibir mereka secara bergantian. Ubiet mengisahkan perjuangan hidupnya merawat sang ayah yang mengalami gangguan penglihatan hingga nyaris buta di tengah kepungan militer. Cuda Aminah membawa kisah tentang perjodohan masa lalunya dan bagaimana ia begitu menyayangi suaminya. Sementara itu, Mawa Aisyah menyimpan rahasia besar yang berbahaya; ia pernah memberikan makanan kepada petinggi GAM yang bersembunyi.

Di sisi lain, Kak Limah membawa kisah tentang Mail, salah satu karakter paling kompleks dan meresahkan di kampung mereka. Mail tumbuh menjadi pria dengan obsesi seksual yang menyimpang, gemar mengintip, dan kerap melakukan kekerasan domestik kepada istrinya, Khadijah.

Watak Mail yang rusak ini ternyata berakar dari dua trauma masa kecil yang sangat hebat, yaitu menyaksikan langsung persetubuhan sekaligus pertengkaran hebat kedua orang tuanya, serta melihat dengan mata kepala sendiri seorang gadis lokal yang diperkosa beramai-ramai oleh empat orang tentara. Melalui obrolan para perempuan ini, mitos lokal, keyakinan agama, desas-desus kampung, hingga memori kelam tentang kekerasan militerisme berbaur menjadi satu.

Tanpa keempat perempuan itu sadari, bahaya besar sedang mengintai di balik rimbunnya tanaman rawa. Seregu marinir bersenjata lengkap tengah bersiap melancarkan operasi pembersihan skala besar di Paya Nie karena menduga tempat itu menjadi sarang gerilyawan GAM. Ironisnya, dalam ingatan sejarah riil, penyerbuan masif oleh ribuan tentara selama dua minggu sebenarnya terjadi di Paya Cot Trieng, Aceh Utara. Namun, Ida Fitri dengan cerdik memindahkan esensi ketakutan tersebut ke Paya Nie, menegaskan bahwa di mana pun rawanya, penderitaan rakyatnya tetaplah sama.

Melalui sudut pandang para perempuan ini, pembaca diperkenalkan pada realitas pahit "masyarakat KTP Merah Putih". Pada masa konflik tersebut, penduduk Aceh wajib memiliki kartu identitas khusus berwarna bendera Indonesia sebagai simbol nasionalisme dan kepatuhan yang dipaksakan. Siapa saja yang kedapatan tidak membawanya akan langsung dicap sebagai musuh negara. Kekejaman pun tidak hanya datang dari satu pihak. Sentimen anti-aparat sering kali dipicu oleh ulah oknum tentara yang bertindak ugal-ugalan, seperti memaksa dan menyetubuhi gadis di bawah umur hingga tewas—sebuah kepahitan yang akhirnya mendorong sebagian warga lokal berbalik mendukung gerakan gerilya.

Klimaks cerita ini runtuh dengan sangat memilukan ketika baku tembak benar-benar pecah di rawa tersebut. Cuda Aminah tewas seketika akibat peluru nyasar, meninggalkan duka sedalam rawa bagi yang ditinggalkan. Tragedi ini menegaskan sebuah kebenaran universal dalam perang: bahwa warga sipil selalu menjadi pihak yang paling menderita, menjadi korban dari benturan kepentingan penguasa yang ingin berebut kendali atas wilayah tersebut.

Sisi Lain Budaya dan Refleksi Konflik

Selain menyajikan realitas militerisme yang telanjang, Ida Fitri juga menyelipkan kritik tajam terhadap budaya patriarki yang mengakar di masyarakat. Perempuan-perempuan di Kampung Salamanga harus memikul beban yang berlapis. Mereka dipaksa menjadi tulang punggung ekonomi keluarga ketika para lelaki tewas atau bersembunyi di hutan, namun di dalam rumah, ruang gerak mereka tetap ditindas oleh dominasi laki-laki. Kematian tokoh seperti Kartini—seorang inong balee yang memilih jalan nekat demi keluar dari kemiskinan struktural—menjadi potret betapa murahnya harga nyawa manusia di sana saat itu.

Kalimat pembelaan dari Kak Limah yang menyebut bahwa surga istri terletak pada kebahagiaan suami sebenarnya bekerja sebagai sarkasme yang getir. Kalimat itu bukan sekadar urusan patuh pada suami, melainkan metafora dari tuntutan pemerintah pusat yang menuntut kepatuhan mutlak dari rakyat Aceh, tanpa peduli pada luka dan kemelaratan yang mereka alami. Kata "Sebuah Novel" yang tertera di sampul depan seolah-olah hanya menjadi tameng legal agar buku ini tidak dilarang, padahal luka, trauma, dan darah yang tercecer di dalamnya terasa sangat nyata dan terus terasa hingga hari ini.

Identitas Buku

Judul: Paya Nie
Jenis Buku: Fiksi (Novel Sejarah)
Pengarang: Ida Fitri
Penerbit: Marjin Kiri
Tanggal Terbit: 1 Juli 2024
Jumlah Halaman: 196 halaman