Setiap orang membutuhkan waktu untuk merenung. Ya, merenung dapat dijadikan sebagai sarana refleksi diri. Istilahnya flashback, mengingat kembali beragam kejadian yang sudah terlewati. Ketika sedang merenung sendirian, tentunya akan ada banyak hal yang bisa kita petik darinya. Misalnya, mengambil sisi baik dari setiap kejadian di masa lalu dan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Salah satu kejadian di masa silam yang patut kita renungi bersama adalah saat pandemi melanda kehidupan umat manusia di berbagai belahan dunia. Ya, kita semua tentunya masih ingat saat-saat ketika virus corona menjadi momok menakutkan bagi banyak orang.
Rutinitas harian yang tiba-tiba harus terhenti memaksa kita untuk beraktivitas dan bekerja di dalam rumah; mengisolasi diri, menjauhkan diri dari keramaian yang bisa membahayakan kesehatan, dan sebagainya. Bila direnungi, apa yang pernah kita alami tersebut menyimpan banyak pelajaran berharga buat kita.
Desi Anwar di dalam bukunya menjelaskan, salah satu pelajaran yang dapat dipetik dari pandemi adalah cara menyikapi kesendirian. Karantina dan menjaga jarak aman yang menjauhkan kita dari orang lain, memaksa kita untuk menghadapi sosok yang biasanya sangat jarang kita sediakan waktu baginya: diri kita sendiri. Sosok diri yang telah kita abaikan saat kita sibuk berinteraksi dengan dunia luar, tetapi yang saat ini tidak dapat lagi kita hindari karena kita menghabiskan lebih banyak waktu di rumah dan menghindari tempat umum.
Namun, kita dapat mengubah masa sulit itu menjadi pelajaran yang beragam dan bermanfaat. Dengan mengurangi interaksi sosial, kita jadi memiliki lebih banyak waktu untuk merenungi diri dan berhubungan kembali dengan diri sendiri. Menghabiskan waktu sendirian adalah kesempatan langka dan tak ternilai untuk menemukan hakikat diri kita yang sebenarnya.
Setiap orang tentu pernah melamun. Saya yakin bukan hanya pernah, tetapi sering. Saya mengakuinya sendiri, bahwa saya sering dan terbiasa melamun. Mungkin bagi sebagian orang, melamun identik dengan konotasi negatif; melamun dianggap sebagai sebuah kesia-siaan yang tak ada sisi manfaatnya. Padahal, melamun dapat menjadi sarana bagi kita untuk menghibur diri sekaligus merenungi kehidupan. Bisa jadi, setelah melamun, ada hal-hal yang membuat kita lebih termotivasi untuk melakukan hal-hal positif.
Disadari atau tidak, melamun (asal porsinya tidak berlebihan) dapat membuat perasaan kita lebih lega dan bahagia. Kata Desi Anwar dalam buku ini, "Lamunan saya adalah kebebasan yang memberi saya perasaan bahagia sejati. Jenis kebahagiaan mendalam yang hanya bisa saya raih saat sendirian."
Setiap orang, sesibuk apa pun, tentu butuh waktu untuk menyendiri. Bahkan orang yang sudah memiliki pasangan dan punya banyak anak pun butuh waktu untuk sendiri. Me time, istilahnya. Saat sendiri, ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Mungkin kita bisa menyalurkan hobi kita yang selama ini terabaikan karena kesibukan, membaca buku misalnya.
Saat sedang sendiri, kita juga bisa memperhatikan sekitar kita. Mungkin ada hal-hal yang perlu dirapikan atau diperbaiki. Misalnya, menata atau merapikan ruang kamar yang berantakan, serta menyingkirkan benda-benda yang sudah tidak dipakai. Sebab, benda-benda tersebut bila dibiarkan menumpuk di dalam rumah, dapat memengaruhi suasana hati (mood) kita.
Dari kegiatan merapikan rumah, kita jadi belajar bahwa ada hal yang juga perlu dirapikan dari diri kita. Sebagaimana dikatakan Desi Anwar di buku ini, "Dan bukan hanya lingkungan fisik yang kita rapikan dan ubah, tetapi dengan membereskan dan merapikan ruang pribadi, kita juga mungkin sekaligus merapikan dan mengubah pikiran kita, dari yang tadinya berantakan dan sering kali tanpa tujuan, menjadi pikiran yang terinspirasi dan memiliki tujuan yang jelas."
Pesan penting yang bisa ditangkap dari buku ini adalah bahwa kesendirian bukanlah siksaan atau penderitaan yang harus ditakuti dan dihindari. Apabila dinikmati secara utuh, kesendirian menjadi seni yang mencerahkan sekaligus menyembuhkan.
Identitas Buku:
- Judul Buku: Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian (The Art of Solitude)
- Penulis: Desi Anwar
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Tahun Terbit: Jakarta, 2020
- Tebal Buku: x + 221 halaman.
- ISBN: 978-602-06-4833-0
Baca Juga
-
Lika-liku Menjadi Tukang Ojek Online: Catatan Harian Bang Ojol
-
Unpopular Opinion: Kita Butuh Cancel Culture yang Lebih Kejam untuk Figur Publik Bermasalah
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
-
Dilema Perayaan Kemerdekaan dan Iuran Besar yang Memberatkan Warga
Artikel Terkait
-
Validasi Terbaik Saat Ingin Nyerah: Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah
-
Setelah Air Mata Kering: Bab Tionghoa yang Hilang dari Buku Sejarah Sekolah
-
Cak Dlahom: Sosok "Nyeleneh" yang Bikin Kamu Malu karena Sok Tahu
-
Diponegoro Versi Peter Carey: Belajar Sejarah Sambil "Nyelam" ke Pikiran Masyarakat Jawa Kuno
-
Warisan Leluhur Negeri Tirai Bambu: 88 Kisah yang Bikin Kamu Lebih Bijak
Ulasan
-
Kesegaran Komedi Pengusutan Misteri dalam Film 'The Sheep Detective'
-
Drama A Bona Fide Killer: Pembunuh Legendaris yang Hidup Normal sebagai Ibu
-
Suicide Awareness Month: 5 Novel yang Mengajarkan Pentingnya Support System
-
Memaknai Cinta Bagi Orang Dewasa di Novel Hingga Ujung Cakrawala
-
Ujian Hubungan Jangka Panjang: Mengapa "Before Midnight" Adalah Film Paling Jujur Tentang Pernikahan
Terkini
-
Paranoia Kolonial di Tanah Suci: Membedah Politik Haji Pada Masa Penjajahan
-
Sinopsis Mame to Mugi, Drama Jepang Dibintangi Saito Asuka dan Tomita Miu
-
Hempas Kusam dan Noda Gelap! Ini 4 Sabun Muka Korea Kandungan Brightening
-
Jalan Teknokratis Suahasil Nazara Menuju Kursi Menteri Keuangan
-
Manga Gachiakuta Kembali Hiatus Tanpa Jadwal Kembali, Fans Harus Menunggu