Tyo mengungkap jati diri Mbah Nem, abdi dalem yang menyelamatkan trah bangsawan lewat pecel. Saya mengambil novel ini pertama kali karena sampulnya yang kental dengan nuansa Jawa dan sangat estetik. Awalnya, saya tidak tahu bahwa novel ini sedang ramai diperbincangkan.
Sinopsis
Tyo baru mengetahui pada hari kematian Mbah Nem bahwa perempuan yang selama ini ia kira nenek kandungnya ternyata adalah seorang abdi dalem. Tyo kemudian berusaha mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik sosok Mbah Nem, termasuk alasan di balik obsesi buliknya terhadap pecel buatan Mbah Nem yang konon memiliki bumbu rahasia.
Keluarga Tyo adalah keturunan bangsawan. Ayah Tyo ingin memasukkan nama Mbah Nem ke dalam pohon silsilah keluarga, namun ide ini ditentang keras oleh anggota keluarga lain karena dianggap dapat merusak kemurnian trah mereka.
Meski begitu, ada upaya untuk setidaknya mencantumkan Mbah Nem sebagai ibu asuh dalam catatan kaki. Sebab, tanpa kehadiran sang abdi dalem tersebut, keluarga besar mereka mungkin sudah tercerai-berai.
Cerita disajikan dengan selang seling antara masa lalu dan masa kini, didukung gaya dialog yang disesuaikan dengan zamannya. Salinem kecil lahir pada zaman Belanda dan menghabiskan hidupnya di bawah naungan "rumah gedong" milik bangsawan. Ibunya meninggal saat melahirkannya, dan ayahnya pun wafat ketika ia masih kecil.
Salinem tumbuh besar berkat asuhan orang-orang baik seperti Daliyem dan Mbok Yah, hingga akhirnya ia mengabdi di rumah Gusti Soeratmi. Di sana, ia menjalin persahabatan erat tanpa sekat status sosial dengan Gusti Soeratmi dan Gusti Kartinah. Dari kedua bangsawan inilah Salinem belajar membaca, cara menyikapi fase kedewasaan, hingga cara menghadapi laki-laki.
Kemelut zaman dan perang mewarnai perjalanan hidup Salinem, mulai dari serangan Jepang yang menewaskan Giyo (calon suaminya), hingga masa kekalahan Belanda saat ia terpaksa menjadi pengantar senjata bagi tentara dan jatuh cinta pada Mas Parjo.
Eksekusi Cerita
Mas Parjo inilah saksi hidup yang ditemui oleh Bulik Ning dan Tyo. Ia menceritakan masa lalu dan cintanya yang mendalam kepada Salinem, hingga peristiwa G30S memisahkan mereka. Penggambaran latar Sungai Bengawan Solo yang memerah karena tragedi masa lalu digambarkan dengan cukup detail dan runtut.
Secara eksekusi, novel ini mengingatkan saya pada Gadis Kretek. Rahasia yang terungkap sebenarnya adalah kisah hidup Salinem yang luar biasa; ia memilih tetap setia mengabdi kepada Gusti Kartinah meskipun Mas Parjo ingin meminangnya. Padahal, Gusti Kartinah tidak pernah melarangnya untuk hidup bebas. Salinem bukan sekadar abdi; ia bahkan digaji.
Saat keluarga bangsawan ini jatuh ke titik terendah pada masa krisis moneter, Mbah Nem-lah yang menopang ekonomi keluarga melalui dagangan pecelnya. Pada akhirnya, keluarga Tyo menemukan resep rahasia pecel tersebut, sementara "rahasia" pribadi Salinem tetap ia simpan sendiri. Rahasia pecel Salinem sudah sedikit di spill pada bagian cover.
Opini Pribadi
Menurut saya, banyak dialog dalam buku ini yang terasa kurang alami dan cenderung membosankan. Tidak ada plot twist yang menggebu-gebu. Meskipun jalan hidup tokohnya penuh lika-liku, sebenarnya banyak orang yang mengalami hal serupa di dunia nyata.
Daya tarik buku ini pada akhirnya sangat bergantung pada bagaimana pembaca menikmati cara narator membungkus ceritanya.
Identitas Buku
Judul: Rahasia Salinem
Penulis: Wisnu Suryaning Adji dan Brilliana Yontega
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Keempat, 2025
ISBN: 978-623-186-354-6
Baca Juga
-
Nestapa Gregor Samsa Si Manusia Kecoa dalam Metamorfosis Franz Kafka
-
Menelanjangi Kemiskinan Ala George Orwell: Sebuah Ulasan Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London
-
Ada Merlion Hingga Alat Santet, Ini Sensasi Menyusuri Lorong Waktu di Art Center Purworejo
-
Seluk-Beluk Distribusi Buku di Balik Kehangatan Toko Buku Kobayashi
-
Problematika Finansial Generasi Muda dalam Kami Bukan Jongos Berdasi
Artikel Terkait
Ulasan
-
Duet Oki Rengga dan Lolox! Film Tiba-tiba Setan Sajikan Horor Ringan yang Penuh Twist Lucu
-
Amore Mio: Tentang Venesia, Luka yang Belum Sembuh, dan Cinta yang Datang Terlalu Pagi
-
Hujan di Parangtritis: Ketika Perjalanan Tak Sesuai Rencana Justru Memberi Cerita
-
Sensasi Makan Indomie di Bawah Bayangan Kapal Raksasa: Mengulik Dermaga Pelabuhan Cirebon
-
Di Balik Panas dan Jalan Berlubang: Menemukan 4 Sudut Syahdu di Kota Udang Cirebon
Terkini
-
Perempuan Berambut Kuncir Dua yang Bersenandung di Bawah Pohon Sengon Buto
-
4 Lip Sleeping Mask Kandungan Cherry untuk Bibir Plumpy ala Glass Skin
-
Karya Tomato Soup Raih Hadiah Utama di JCA Awards ke-54
-
Tak jadi ke Yamaha, Fabio Di Giannantonio Perpanjang Kontrak dengan VR46?
-
Kejujuran Mi Ayam dan Kepalsuan Harga Ramen: Sejak Kapan Rasa Kalah oleh Layar Ponsel?