The Magic Faraway Tree adalah film fantasi-petualangan keluarga yang dirilis pada tahun 2026, disutradarai oleh Ben Gregor dan ditulis skenarionya oleh Simon Farnaby (penulis Wonka dan Paddington 2). Film ini diadaptasi dari seri buku klasik Enid Blyton yang legendaris, The Faraway Tree, yang pertama kali diterbitkan pada 1939.
Dengan durasi 110 menit, film ini membawa nuansa nostalgia bagi generasi lama sekaligus menyajikan cerita yang relevan untuk anak-anak era digital saat ini. Dibintangi oleh Andrew Garfield dan Claire Foy sebagai pasangan utama, serta didukung pemeran pendukung berkualitas seperti Nicola Coughlan, Nonso Anozie, dan Jessica Gunning, film ini resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 17 April 2026.
Saat ini, film sudah bisa dinikmati di jaringan bioskop besar seperti XXI, CGV, Cinepolis, dan lainnya dengan subtitle bahasa Indonesia. Rating usia SU membuatnya cocok untuk seluruh keluarga, meski ada sedikit adegan slapstick ringan dan elemen yang mungkin menakutkan anak sangat kecil.
Rekoneksi Keluarga di Balik Pohon Raksasa
Sinopsis film berpusat pada keluarga Thompson yang modern dan agak dysfunctional. Polly (Claire Foy), seorang insinyur elektronik, memilih mengundurkan diri dari pekerjaannya karena alasan etika—ia tak mau lagi merancang perangkat pintar yang mencuri data pribadi.
Suaminya, Tim (Andrew Garfield), seorang ayah rumah tangga yang bercita-cita membuat saus tomat ala ayahnya yang telah meninggal. Ketiga anak mereka—Beth (Delilah Bennett-Cardy), Joe (Phoenix Laroche), dan Fran (Billie Gadsdon)—adalah anak-anak kota yang kecanduan gadget.
Ketika keluarga ini terpaksa pindah ke pedesaan Inggris yang terpencil, anak-anak awalnya merasa bosan dan frustrasi. Namun, segalanya berubah saat mereka menemukan Pohon Ajaib (The Magic Faraway Tree) di hutan dekat rumah baru mereka. Pohon raksasa ini memiliki penduduk eksentrik seperti Moonface (Nonso Anozie), Silky si peri (Nicola Coughlan), Dame Washalot (Jessica Gunning), dan Saucepan Man (Dustin Demri-Burns).
Di puncak pohon, pintu menuju negeri-negeri ajaib terbuka: dari Land of Toys hingga dunia fantasi lain yang penuh kejutan. Melalui petualangan ini, keluarga Thompson belajar kembali terhubung, menghargai satu sama lain, dan menemukan kembali keajaiban imajinasi di tengah dunia yang serba teknologi.
Secara visual, The Magic Faraway Tree adalah salah satu kekuatan terbesarnya. CGI dan desain produksi begitu memukau, membuatku ikut terbawa ke dunia dongeng yang hidup. Pohon raksasa yang bercahaya, negeri-negeri ajaib yang warna-warni, serta kostum karakter penduduk pohon yang unik terasa seperti perpaduan antara Alice in Wonderland dan The Chronicles of Narnia. Dan kurasa visualnya luar biasa cantik sih, sehingga mampu membangkitkan imajinasi anak-anak. Sementara itu, box office awal di Inggris sudah menyentuh 2,8 juta pound sterling, membuktikan popularitasnya sebagai film keluarga Easter.
Review Film The Magic Faraway Tree
Akting para pemeran utama menjadi pondasi emosional film ini. Andrew Garfield sebagai Tim memberikan nuansa hangat dan relatable sebagai ayah yang berusaha keras menyatukan keluarga sambil meratapi masa kecilnya sendiri.
Claire Foy sebagai Polly tampil kuat sebagai ibu yang bijak dan tegas, terutama dalam adegan-adegan yang menyoroti konflik kerja versus keluarga. Anak-anak pemeran muda (Delilah, Phoenix, dan Billie) berhasil menyampaikan transisi dari anak manja gadget ke petualang penuh semangat.
Sementara itu, karakter penduduk pohon seperti Moonface dan Silky diceritakan dengan humor slapstick khas Blyton, membuatku dan penonton yang lain tertawa lepas. Nicola Coughlan sebagai Silky begitu memesona, sementara Dustin Demri-Burns sebagai Saucepan Man mencuri perhatian dengan dialog konyolnya. Ada juga cameo menyenangkan dari Jennifer Saunders, Rebecca Ferguson, dan bahkan suara Judi Dench yang menambah lapisan magis.
Tema utama film ini adalah pentingnya menjaga imajinasi di era digital. Film tidak hanya sekadar petualangan, tapi juga kritik halus terhadap kecanduan gadget dan hilangnya waktu berkualitas keluarga. Kesan “berhenti sejenak dari layar, lihat dunia nyata” disampaikan dengan lembut tanpa terasa menggurui.
Adegan-adegan emosional antara ayah dan anak, atau momen keluarga yang reconnect di puncak pohon, sering membuatku terharu—terutama orang tua yang menyaksikan anak-anak mereka tumbuh terlalu cepat. Meski cerita di bagian tengah terkadang terasa kurang padu, film ini tetap berhasil menyisipkan pukulan emosional yang menyentuh di balik kemegahan negeri-negeri ajaib yang penuh warna.
Kelebihan film ini jelas pada visual memukau, chemistry keluarga yang hangat, dan kesetiaan pada semangat buku asli meski dengan setting modern. Kekurangannya adalah plot yang terprediksi dan beberapa dialog yang agak klise.
Bagi penggemar buku Blyton purist, ada beberapa perubahan yang mungkin terasa terlalu Hollywood. Akan tetapi, sebagai film keluarga, ia berhasil menghibur tanpa pretensi berat. Musik dan lagu-lagu pendukung juga menambah kesan musikal yang ringan dan menyenangkan.
Secara keseluruhan, The Magic Faraway Tree adalah tontonan wajib bagi keluarga yang ingin melarikan diri ke dunia fantasi sambil mendapatkan pelajaran berharga tentang hubungan. Cocok untuk anak usia 5 tahun ke atas yang suka petualangan, sekaligus orang tua yang merindukan masa kecil penuh imajinasi.
Di bioskop Indonesia, film ini tayang mulai 17 April 2026 dan masih terus diputar di seluruh jaringan utama. Jangan lewatkan kesempatan menonton di layar lebar untuk merasakan keajaiban penuh warna dan efek suara yang memukau. Rating pribadi: 7.5/10. Bawa seluruh keluarga, siapkan popcorn, dan biarkan pohon ajaib ini membawamu ke negeri dongeng yang tak terlupakan.
Baca Juga
-
Review Film Lee Cronins The Mummy: Brutal, Gelap, dan Tak Terlupakan!
-
Review Film Ghost in the Cell: Kritik Sosial Lewat Teror Supernatural!
-
Duet Oki Rengga dan Lolox! Film Tiba-tiba Setan Sajikan Horor Ringan yang Penuh Twist Lucu
-
Sekar Nawang Sari
-
Review Serial Luka, Makan, Cinta: Sebuah Konflik di Dapur yang Penuh Emosi
Artikel Terkait
Ulasan
-
Taman Hutan Joyoboyo Kediri: Tempat Tenang saat Keramaian Terasa Melelahkan
-
Menjemput Sunrise, Mengantar Sunset: Sehari Penuh Kenangan di Banyuwangi
-
Saring Sebelum Sharing: Belajar Bijak Memahami Hadis di Era Digital
-
Review Film Lee Cronins The Mummy: Brutal, Gelap, dan Tak Terlupakan!
-
Cerita dari Dapur Kayu Bakar: Tradisi Memotong Ayam dan Doa Opung untuk Cucu Merantau
Terkini
-
Vivo T5 Pro Usung Baterai Monster 9020 mAh, Tahan 15 Jam untuk Streaming
-
Kwak Dong Yeon Bergabung ke The Black Label, Satu Agensi dengan Park Bo Gum
-
Yoo Yeon Seok dan Lee Se Young Resmi Bintangi Princess Covet the Scholar
-
Family Matters Hadirkan Season 2: Musuh Lebih Kuat, Cerita Makin Gelap
-
Film Salmokji Tembus 1 Juta Penonton di Bawah 10 Hari, Rekor Horor Tercepat