Sekar Anindyah Lamase | Oktavia Ningrum
Rumah Tanpa Cahaya (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Novel Rumah Tanpa Cahaya karya Regita Lenn Liu hadir sebagai kelanjutan emosional dari kisah sebelumnya, Rumah untuk Alie. Diterbitkan oleh Akad pada Juli 2024, novel bergenre drama keluarga lini mengajak pembaca menyelami sisi lain dari sebuah keluarga yang hancur. 

Jika pada novel sebelumnya pembaca diajak melihat dunia dari sudut pandang Alie Ishala Samantha, maka dalam Rumah Tanpa Cahaya, fokus cerita bergeser kepada keluarga yang ditinggalkannya.

Sinopsis Novel

Kepergian Alie bukan hanya meninggalkan ruang kosong, tetapi juga membuka luka yang selama ini disangkal. Rumah yang dulu menjadi tempat tinggal kini berubah menjadi ruang penuh penyesalan, seolah kehilangan “cahaya” yang selama ini mereka abaikan.

Keluarga Abimayu terdiri dari sang ayah dan empat anak laki-laki: Sadipta, Rendra, Samuel, dan Natta menjadi pusat konflik. Masing-masing karakter digambarkan berjuang dengan emosi yang berbeda.

Ayah kehilangan arah hidup, terjebak dalam rasa bersalah yang tak terucap. Sadipta menjadi sosok yang mati rasa, seolah memilih diam sebagai bentuk pelarian. Rendra dipenuhi kemarahan, tidak hanya kepada keadaan tetapi juga pada dirinya sendiri. Sementara Samuel tenggelam dalam kebingungan, mencoba memahami situasi yang tiba-tiba berubah drastis.

Di antara mereka, Natta tampil sebagai karakter yang paling berbeda. Ia adalah satu-satunya yang berani mengakui kesalahan keluarga sejak awal. Ketika Alie pergi, Natta tidak hanya merasakan kehilangan, tetapi juga terdorong untuk mencari dan memperbaiki keadaan.

Namun keberaniannya itu justru membuatnya terasing dalam keluarga sendiri. Ia menjadi simbol harapan sekaligus pengingat akan kesalahan yang selama ini dihindari oleh anggota keluarga lainnya.

Salah satu kekuatan utama novel ini terletak pada eksplorasi psikologis karakter. Pembaca diajak masuk ke dalam pikiran dan perasaan masing-masing tokoh, memahami bagaimana rasa bersalah, penolakan, dan penyesalan bekerja dalam diri manusia.

Jika sebelumnya Alie digambarkan sebagai korban, kini pembaca melihat bagaimana “pelaku” juga manusia yang rapuh meski hal itu tidak menghapus kesalahan mereka.

Novel ini menunjukkan bahwa luka emosional yang terus diabaikan bisa berujung pada kehilangan yang nyata. Ketika kesabaran seseorang telah habis, kepergian menjadi satu-satunya pilihan. Dan ironisnya, sering kali kehilangan itulah yang justru membuka mata orang-orang yang ditinggalkan.

Kelebihan dan Kekurangan

Secara naratif, Rumah Tanpa Cahaya memiliki alur yang cenderung reflektif dan emosional. Cerita tidak berfokus pada aksi, melainkan pada perkembangan batin karakter. Ini membuat pembaca merasakan intensitas emosi yang lebih dalam, meski di sisi lain mungkin terasa “menggantung” bagi sebagian orang.

Akhir cerita yang belum sepenuhnya tuntas justru memunculkan rasa penasaran, seolah penulis sengaja membuka ruang untuk kelanjutan kisah berikutnya.

Gaya penulisan Regita dan Lenn Liu cukup kuat dalam membangun suasana. Mereka mampu menghadirkan atmosfer suram dan penuh tekanan tanpa terasa berlebihan. Dialog-dialog yang disajikan juga terasa realistis, mencerminkan konflik keluarga yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Lebih dari sekadar cerita fiksi, novel ini membawa pesan penting tentang pentingnya empati dalam keluarga. Bahwa setiap anggota keluarga memiliki luka dan kebutuhan emosional yang perlu dipahami. Mengabaikan hal tersebut bukan hanya merusak hubungan, tetapi juga bisa menghancurkan seseorang secara perlahan.

Rumah Tanpa Cahaya adalah pengingat bahwa rumah bukan hanya tentang tempat tinggal, tetapi tentang kehangatan, penerimaan, dan kasih sayang. Ketika semua itu hilang, yang tersisa hanyalah ruang kosong yang dipenuhi penyesalan.

Identitas Buku

  • Judul: Rumah Tanpa Cahaya
  • Penulis: Regita Lenn Liu
  • Penerbit: Tekad Media Cakrawala
  • Tahun Terbit: 2024
  • Tebal: 262 halaman
  • ISBN: 9786231015822
  • Genre: Fiksi/Drama Keluarga