Lintang Siltya Utami | Ukhro Wiyah
Kiri: Area Indoor, Kanan: Tampak Depan (Instagram/kedaikopi_papringan)
Ukhro Wiyah

Sebagai seseorang yang sudah lebih dari dua puluh tahun menetap di Kediri, sejujurnya saya tidak pernah benar-benar tahu lokasi pasti Kedai Papringan. Dari jalan raya yang cukup sering saya lewati, yang terlihat hanya plang namanya—tanpa pernah benar-benar mencoba masuk ke dalam gang dan mampir, meski hanya sebentar.

Hingga sekitar dua tahun lalu, beberapa teman saat magang mengajak saya berkumpul di sana setelah menyelesaikan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Saat itu, kami memang terpisah di berbagai daerah dengan kelompok yang berbeda. Pertemuan di Kedai Papringan menjadi semacam momen sederhana untuk saling bertukar cerita setelah cukup lama tidak bertemu.

Saya berangkat dari kampus dan menempuh perjalanan sekitar 10 menit. Mengikuti petunjuk arah, akhirnya kami tiba di lokasi dengan selamat. Tempatnya memang tersembunyi di dalam gang, tetapi tetap memiliki area parkir yang cukup luas sehingga cukup nyaman untuk dikunjungi.

Begitu masuk, kami langsung disambut ramah oleh staf dan diberikan daftar menu yang cukup beragam—mulai dari minuman, camilan, hingga makanan berat. Saat itu, saya memesan ketan susu seharga Rp 7.000 dan minuman Good Day seharga Rp 6.000.

Area kafe tampak cukup luas dengan pilihan tempat duduk indoor maupun outdoor. Kami memilih menuju ke bagian belakang, tepatnya area semi outdoor yang cukup lapang dengan pemandangan Sungai Brantas. Fasilitas yang tersedia pun cukup lengkap, mulai dari musala, toilet, hingga ruangan ber-AC yang nyaman digunakan.

Suasana di Kedai Papringan terasa “hidup” namun tetap menenangkan. Pepohonan di sekitar area memberikan nuansa alami yang membuat tempat ini terasa teduh, meski berada tidak jauh dari pusat kota. Tidak terlalu bising, tidak terlalu ramai, tetapi cukup hangat untuk menjadi tempat singgah sejenak, baik untuk beristirahat maupun sekadar berbincang santai.

Teman-teman mulai berdatangan. Kami duduk lesehan di satu meja, menikmati pesanan sambil berbagi cerita tentang pengalaman selama KKN. Obrolan mengalir begitu saja—tentang kejadian horor, peristiwa lucu, hingga hal-hal kecil yang terasa menyenangkan untuk dikenang kembali.

Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat. Beberapa dari kami harus kembali ke kampus untuk melanjutkan aktivitas. Sebelum berpisah, kami menyempatkan diri mengambil beberapa foto dan video sebagai kenang-kenangan sederhana.

Di kesempatan lain, saya kembali ke tempat ini bersama dua teman yang berbeda. Kali ini, kami baru saja menyelesaikan kegiatan kampus. Karena cuaca siang itu cukup terik, kami memilih duduk di area indoor yang ber-AC agar lebih nyaman.

Kami memesan makanan berat. Saya memilih nasi ayam geprek seharga Rp 15.000 dengan minuman Good Day Rp 6.000. Dengan harga tersebut, porsinya cukup mengenyangkan, dengan ayam yang cukup besar dan sambal bawang yang pedasnya terasa pas, lengkap dengan lalapan sebagai pelengkap.

Kami yang sudah cukup lama tidak bertemu sejak sidang skripsi memanfaatkan waktu untuk berbagi cerita kehidupan masing-masing. Obrolan terasa hangat dan mengalir, hingga tanpa sadar waktu kembali berjalan begitu cepat. Kali ini, kami bahkan tidak sempat mengambil foto. Namun, momen kebersamaan itu tetap terasa utuh untuk dikenang.

Dua kunjungan, dua cerita, dan dua lingkaran pertemanan—semuanya terjadi di tempat yang sama.

Bagi saya, Kedai Papringan bukan sekadar tempat makan atau nongkrong biasa. Lebih dari itu, tempat ini menjadi ruang sederhana untuk kembali terhubung—dengan teman, dengan cerita lama, bahkan dengan diri sendiri.

Dan pada akhirnya, mungkin memang bukan tempatnya yang membuat seseorang ingin kembali, tetapi kenangan yang pernah tertinggal di dalamnya.