Saya baru menyadari bahwa Indonesia memiliki sosok yang menyerupai Robin Hood setelah membaca novel sejarah berjudul Kusni Kasdut.
Buku karya wartawan senior Kompas, Parakitri T. Simbolon, ini menghadirkan sudut pandang orang ketiga yang serba tahu.
Parakitri berhasil meramu fakta sejarah dengan emosi yang mendalam, menciptakan nuansa visual yang jauh lebih hidup dan "panas" dibandingkan sekadar membaca buku teks sejarah yang kaku.
Sinopsis
Buku ini menelusuri perjalanan hidup Ignatius Waluyo, atau yang lebih dikenal sebagai Kusni Kasdut. Alur cerita bergerak maju-mundur, dimulai dari masa kecilnya yang pedih di Blitar dan Malang.
Demi menyambung hidup dan menghindari kerja paksa, Kusni memilih menjadi Heiho. Namun, pilihan itu justru membawanya pada penderitaan lain; hari-harinya diisi dengan hajaran dan perlakuan hina dari tentara Jepang.
Kerinduannya pada ibunya, Mbok Cilik, menjadi satu-satunya kekuatan yang membuatnya bertahan di tengah pahitnya menjadi serdadu bawahan Jepang.
Kusni bukanlah pengecut. Setelah proklamasi, ia bergabung dengan BKR (yang kemudian menjadi TKR). Di sinilah novel ini menggambarkan dengan sangat detail ketegangan revolusi fisik.
Parakitri menyoroti bagaimana kebingungan melanda tokoh-tokoh seperti Dr. Moestopo ketika pemerintah justru mengizinkan antek-antek asing (NICA) masuk kembali.
Ketegangan itu memuncak pada perundingan kaku dan mengerikan dengan AWS Mallaby yang berakhir tragis. Kusni sendiri terlibat langsung dalam penyerbuan gudang senjata Kempeitai untuk melawan Inggris, dibakar oleh semangat pidato Bung Tomo yang menggelegar.
Pertempuran Surabaya dan Kekecewaan
Dalam peristiwa 10 November di Surabaya, novel ini menyajikan visual yang lebih kuat daripada film. Kita diajak melihat Kusni di tengah medan laga, bertemu dengan kawan-kawan seperjuangan yang tidak ia kenal namun memberinya kehangatan persaudaraan.
Ada pula sosok perempuan seperti Rahayu yang berani maju membawa granat. Di tengah kemelut perang itu, Kusni membuktikan baktinya pada negara, meski hatinya diliputi kepedihan karena harus meninggalkan ibu tuanya demi tugas suci.
Namun, tragedi sebenarnya dimulai justru setelah deru peluru perang kemerdekaan mereda. Kusni mendapati dirinya terasing di negeri yang ia merdekakan.
Akibat cedera tembak di kaki yang membuatnya cacat, ia ditolak saat ingin bergabung menjadi anggota TNI secara resmi.
Ia merasa tidak dihargai, padahal ia telah mempertaruhkan nyawa. Di tengah himpitan ekonomi yang mencekik untuk menghidupi anak dan istri, Kusni yang tak punya pekerjaan akhirnya memilih jalan pintas: menjadi penjahat.
Jejak Kriminal dan Paradoks "Robin Hood"
Karier kriminalnya dimulai secara menggemparkan pada 11 Agustus 1953 dengan merampok kediaman Ali Badjened. Sejak saat itu, Kusni menjadi buronan yang sangat licin.
Menariknya, Kusni sempat dijuluki "Robin Hood Indonesia". Hal ini dikarenakan sebagian besar hasil rampokannya dari orang-orang kaya sering ia bagikan kepada rakyat miskin yang menderita. Ia seolah ingin mengembalikan martabatnya sebagai pelindung rakyat, meski lewat jalan yang salah.
Puncak aksinya terjadi pada 31 Mei 1961 di Museum Nasional Jakarta. Ia berhasil menggasak 11 permata koleksi museum senilai ratusan juta rupiah.
Pada masa ini menjual berlian sangatlah sulit. Polisipun sudah selangkah lebih maju dibanding Kusni dan kawannanya. Kejadian ini menjadikan Kusni yang selalu lolos berhasil ditangkap.
Masa tua Kusni dihabiskan dari satu penjara ke penjara lain. Meski ia sempat mengajukan grasi kepada Presiden Soeharto—berharap jasa-jasanya saat melawan Inggris dan NICA bisa menjadi pertimbangan—permohonan tersebut ditolak. Pada 16 Februari 1980, di depan regu tembak, riwayat pejuang yang terbuang ini resmi berakhir.
Kisah Kusni Kasdut adalah sebuah kritik sosial yang tajam tentang bagaimana negeri ini terkadang belum siap menghargai veterannya.
Melalui gaya bahasa jurnalisme naratif yang kental, Parakitri mengajak kita melihat bahwa di balik label "penjahat", ada luka sejarah dan perjuangan batin yang luar biasa. Sebuah bacaan wajib untuk memahami sisi lain dari kemerdekaan Indonesia.
Identitas Buku
Judul: Kusni Kasdut
Penulis: Parakitri T. Simbolon
Tahun Terbit: 2025 (Cetakan Terbaru)
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020637709
Baca Juga
-
Mengenal New BIONS, Langkah Awal Mahasiswa Memahami Dunia Investasi
-
Kacang Hijau: Penyelamat Sawah Saat Kemarau dan Jalan Rezeki Tak Terduga
-
Ketika Dongeng Ayah Berhadapan dengan Skeptisisme Anak yang Beranjak Dewasa
-
Prestasi dan Tuntutan Sosial: Ketika Kemenangan Berujung Tagihan Traktiran
-
Guru Honorer Bukan Cuma di Indonesia: Ironi dalam Dua Belas Pasang Mata
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar
-
Insidious: Out of the Further, Petualangan Baru Melintasi Dua Dimensi
-
Beautiful Pain: Kisah Nyata Perjuangan Perempuan Bangkit dari Luka KDRT
-
Mengapa Pikiran Memengaruhi Keadaan Kita? Review Buku The Law of Attraction
-
Review Film Henry's First Date: Misteri Ingatan yang Tereset Setiap Pagi
Terkini
-
Bingung Mulai Investasi? New BIONS by BNI Sekuritas Bikin Semua Jadi Mudah
-
Mencegah Kriminalisasi Kebijakan Tanpa Meloloskan Korupsi
-
Romantis! Alpha Drive One Bahas Koneksi Emosional di Lagu Baru, Talk To Me
-
Pemerintah Gemar Solusi Instan, Siapa yang Menyelesaikan Akar Masalah?
-
Sisi Gelap Tren Thrifting: Niat Kurangi Limbah, Malah Nimbun Baju Bekas