Kata rumah itu sendiri punya makna luas. Bisa fisik, bisa juga perasaan. Aku memilih buku ini karena lagi ada di fase hidup yang sering mempertanyakan, sebenarnya pulang itu ke mana? Ekspektasiku awalnya ini bakal jadi cerita ringan, mungkin soal keluarga atau perjalanan biasa. Tapi sejak beberapa halaman pertama, aku sudah ngerasa ada sesuatu yang lebih dalam, semacam perjalanan batin yang pelan-pelan mengajak mikir.
Novel Rumah ini bisa dibilang bergenre fiksi dengan sentuhan reflektif yang cukup kuat. Tema utamanya jelas tentang pencarian makna “rumah” dan “pulang”, tapi dibalut dengan isu-isu yang relevan banget dengan kehidupan sekarang: tentang kehilangan arah, pencarian jati diri, hingga rasa sepi di tengah dunia yang ramai. Di era di mana banyak orang merasa terasing meski hidup di kota besar atau bahkan di tengah keluarga sendiri, cerita ini terasa relate dan kena.
Perjalanan Ria Menjelajahi Dunia dan Diri Sendiri
Novel karya J.S. Khairen ini berpusat pada Ria, seorang perempuan berusia 27 tahun yang bekerja sebagai perencana perjalanan mewah. Pekerjaannya menuntut Ria untuk berkeliling dunia, menyusun perjalanan eksklusif bagi klien-kliennya. Kota-kota modern telah dia jelajahi, tempat-tempat terpencil telah didatangi, bahkan pengalaman ekstrem yang terdengar mustahil bagi kebanyakan orang pun telah dia rasakan.
Perjalanan ini bukan sekadar fisik, melainkan juga perjalanan batin. Setiap langkah yang diambil menghadirkan pertanyaan baru, yaitu apa arti pulang? Apakah rumah adalah tempat kita berasal, atau tempat kita merasa diterima? Dalam prosesnya, tokoh utama mengalami kebimbangan, kehilangan, hingga momen refleksi yang mendalam. Melalui interaksi dengan lingkungan dan orang-orang yang ditemui, ia mulai memahami bahwa “rumah” bisa hadir dalam bentuk hubungan, kenangan, atau bahkan penerimaan terhadap diri sendiri.
Novel ini menggambarkan bagaimana perjalanan hidup, seberapa pun berliku, pada akhirnya akan membawa seseorang kembali, bukan ke tempat asalnya, tetapi ke pemahaman tentang siapa dirinya dan di mana ia merasa utuh. Dengan alur yang mengalir dan penuh makna, Rumah bukan hanya cerita tentang perjalanan, tetapi juga tentang proses menjadi manusia yang lebih sadar, lebih menerima, dan lebih memahami arti pulang yang sebenarnya.
Gaya Penulisan yang Jujur dan Mengena
Yang paling kerasa dari novel ini adalah gaya penulisan J.S. Khairen yang ringan tapi mengena. Kalimat-kalimatnya tidak berusaha terlalu puitis, tapi justru itu yang bikin terasa jujur dan dekat. Karakternya juga terasa manusiawi: tidak sempurna, sering ragu, dan kadang salah langkah.
Secara pribadi, saya merasa buku ini seperti teman ngobrol. Ada momen di mana aku berhenti baca sejenak cuma buat merenung. Beberapa bagian terasa seperti ditampar halus, bikin sadar bahwa mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari tempat, padahal yang dicari sebenarnya adalah rasa. Emosinya bukan yang meledak-ledak, tapi justru pelan dan meresap.
Kelebihan utama novel ini ada pada kekuatan maknanya. Ceritanya sederhana, tapi pesan yang dibawa dalam banget. Selain itu, gaya bahasa yang santai membuat buku ini mudah diikuti oleh berbagai kalangan, terutama anak muda. Buku ini cocok banget buat kamu yang lagi merasa kehilangan arah atau sedang berada di fase pencarian diri. Tapi bahkan kalau hidupmu sedang baik-baik saja, Rumah tetap relevan, karena pada akhirnya, semua orang pasti akan bertanya tentang arti pulang. Setelah selesai membaca, yang tertinggal bukan cuma cerita, tapi juga pertanyaan: apakah selama ini aku benar-benar tahu di mana rumahku?
Identitas Buku
- Judul: Rumah
- Penulis: J.S. Khairen
- Penerbit: PT Elex Media Komputindo
- Cetakan: I, Februari 2026
- Tebal: 150 Halaman
- ISBN: 978-623-007-464-6
- Genre: Fiksi/Novel
Baca Juga
-
Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu: Kemiskinan Tak Selamanya Mematikan Harapan
-
Mau Nonton Bioskop di Jember? Cek 4 Lokasi Paling Hits dan Nyaman Ini
-
Malam Seru di Kota Cinema Mall Jember, Nonton dan Kuliner yang Tak Terlupakan
-
Review Jujur dari Buku Hati yang Kuat: Merawat Hati di Tengah Amukan Badai
-
Buku Aku Bukan Kamu: Tak Perlu Menjadi Siapa-Siapa, Cukup Jadi Diri Sendiri
Artikel Terkait
-
Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu: Kemiskinan Tak Selamanya Mematikan Harapan
-
Suku Bunga Tinggi, Milenial-Gen Z Kini Lebih Percaya Medsos Ketimbang Brosur Properti
-
Tragedi PRT Lompat dari Lantai 4 Kos Benhil, Polisi Endus Dugaan Tindak Pidana
-
324 Hunian Warga Bantaran Rel Pasar Senen Hampir Rampung
-
Upgrade Rumah Tanpa Renovasi Besar? Ini Cara Simpel yang Mulai Dilirik Banyak Pemilik Hunian
Ulasan
-
The Manipulated: Saat Korban Terpaksa Menjadi Pelaku untuk Bertahan Hidup
-
Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu: Kemiskinan Tak Selamanya Mematikan Harapan
-
Sebuah Mahakarya Dokumenter: A Gorilla Story Jadi Warisan David Attenborough di Rimba Rwanda
-
Hindia dan Dipha Barus Bicara Soal Generational Trauma di Lagu Baru "Nafas"
-
Memaknai Simbol Lagu 'Cicak-Cicak di Dinding' dalam Film Ghost in the Cell
Terkini
-
Trailer Baru Sound! Euphonium, The Final Movie Part 2 Ungkap Jadwal Rilis
-
Wariskan Kicauan Burung: Mengapa Berburu dengan Senapan Angin Merusak Desa?
-
5 Laptop Core i7 Terbaik 2026: Gaming, Kerja, Semua Bisa
-
Ketika Sekolah Gratis Hanya Wacana: Catatan Keprihatinan yang Belum Usai
-
Tugas Online, Biaya Offline: Realita Sekolah Gratis di Era Digital