Sekar Anindyah Lamase | Athar Farha
Poster Film Ghost in the Cell (IMDb)
Athar Farha

Kadang, yang paling menyeramkan bukanlah sesuatu yang asing, tapi yang terasa akrab. Itulah yang aku rasakan ketika mendengar lagu Cicak-Cicak di dinding yang muncul di trailer Film Ghost in the Cell, besutan Sutradara Joko Anwar.

Lagu anak-anak yang biasanya kita nyanyikan tanpa beban itu tiba-tiba terasa beda. Ada sesuatu yang bergeser. Sesuatu yang bikin merinding, tapi bukan karena nadanya, melainkan maknanya.

Sedikit konteks dulu. ‘Ghost in the Cell’ adalah film horor berlatar penjara, mengikuti kisah Dimas, mantan jurnalis yang harus menjalani hidup di dalam sistem yang keras.

Di tempat itu, kematian datang satu per satu, dengan pola yang nggak biasa. Teror hadir bukan sebatas menakuti, tapi seperti punya tujuan. Dan dari awal, film ini sudah terasa ingin bicara lebih dari sebatas hantu.

Masuknya lagu Cicak-Cicak di Dinding ke dalam trailer jadi semacam ‘kode awal’ yang menarik untuk dibaca. Kalau diingat-ingat, lirik lagu itu sebenarnya sederhana: cicak diam di dinding, lalu menangkap nyamuk. Selesai. 

Padahal, kalau dilihat dari sudut pandang lain, lagu itu menggambarkan sesuatu yang cukup brutal, yakni proses pemangsaan. Ada yang mengintai, ada yang jadi target, lalu ada momen penangkapan yang terjadi begitu saja. Ini ibaratnya bukan cerita tentang hewan kecil di rumah semata, tapi juga tentang relasi kuasa.

Dalam konteks film ini, cicak bisa dibaca sebagai simbol pihak yang punya kendali. Ia diam, mengamati, nggak terlihat mengancam di awal, tapi sebenarnya sedang menunggu waktu yang tepat. Sementara nyamuk jadi gambaran dari pihak yang lebih lemah, yang bergerak tanpa sadar bahwa dirinya sedang diawasi, bahkan diincar.

Kalau kita tarik ke dunia penjara yang jadi latar film, makna itu jadi makin terasa. Penjara dalam Film Ghost in the Cell bukan cuma tempat hukuman, tapi juga ruang di mana hierarki kekuasaan bekerja dengan sangat jelas. Ada yang mengatur, ada yang diatur. Ada yang punya kontrol, ada yang hanya bisa bertahan.

Di situ, konsep predator dan mangsa nggak lagi terasa jauh. Hadir dalam bentuk relasi antar manusia. Mereka yang punya kuasa bisa menentukan nasib orang lain. Bisa ‘menangkap’, bisa ‘menghukum’, bahkan bisa menghancurkan tanpa konsekuensi yang setara.

Yang menarik, penggunaan lagu ini terasa ironis. Lagu anak-anak identik dengan kepolosan, masa kecil, dan rasa aman. Namun, ketika ditempatkan dalam konteks film horor yang sarat kritik sosial, maknanya berbalik. Ini jadi semacam sindiran halus, bahwa sejak kecil, kita mungkin sudah terbiasa dengan narasi tentang yang kuat memangsa yang lemah, hanya saja dibungkus dengan cara yang lebih ‘ramah’. 

Aku jadi mikir, jangan-jangan ini cara filmnya bilang kalau sistem yang timpang itu bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul. Sistemnya sudah lama ada, bahkan mungkin sudah jadi bagian dari cara kita memahami dunia. Hanya saja, kita jarang benar-benar mempertanyakannya.

Pilihan Joko Anwar untuk memakai lagu ini juga brilian karena efek emosionalnya. Begitu lagu itu terdengar, ada rasa familier yang langsung muncul. Kita merasa dekat. Akan tetapi, beberapa detik kemudian, rasa itu berubah jadi nggak nyaman. Seperti ada yang ‘salah’, tapi sulit dijelaskan.

Kalau dikaitkan dengan tema besar filmnya, yaitu tentang sistem yang rusak dan tekanan yang menumpuk di dalamnya, lagu ini jadi semakin relevan. Ini seperti menggambarkan siklus yang terus berulang: yang kuat akan terus memangsa yang lemah, selama sistemnya nggak berubah.

Bahkan bisa dibilang, hantu dalam film ini bukan satu-satunya ‘predator’. Sistem itu sendiri juga bisa jadi predator. Menciptakan kondisi di mana orang-orang terjebak, tertekan, lalu perlahan berubah. Emosi negatif seperti marah, frustrasi, dan putus asa jadi sesuatu yang lumrah, dan di situlah teror mulai menemukan bentuknya.

Menariknya lagi, semua ini disampaikan tanpa perlu dialog panjang atau penjelasan yang terlalu gamblang. Cukup dengan satu lagu yang kita kenal sejak kecil, film ini sudah menanamkan satu ide yang sulit dilepaskan: dunia nggak selalu adil, dan dalam banyak situasi, selalu ada pihak yang ‘dimakan’. Ups

Sudahkah Sobat Yoursay nonton Film Ghost in the Cell? Bila belum, yuk buruan ke bioskop sebelum turun layar.