"Dunia jahat atau kau kalah? Lihatlah telapak tanganmu. Ayah selalu menempa tangan itu agar tak menyerah. Ibu tak henti memapah tangan itu untuk berdoa. Bangkitlah untuk melangkah." (J.S. Khairen, Dompet Ayah Sepatu Ibu, Halaman 31).
Entah kenapa, penggalan itu langsung melekat di kepala saya, seperti enggan pergi.
Sebenarnya saya sudah cukup familiar dengan nama penulis yang satu ini, tapi anehnya belum pernah sekalipun menyentuh karyanya. Dan akhirnya, inilah pengalaman pertama saya membaca buku karya J.S. Khairen.
Begitu membacanya, rasanya campur aduk. Ada rasa haru, tersentil, seperti diingatkan, bahkan sedikit ditampar oleh kenyataan. Perasaan itu membuat saya semakin penasaran dengan keseluruhan ceritanya.
Katanya, buku ini bisa menguras banyak tisu. Saya percaya saja, karena cerita tentang ayah dan ibu hampir selalu punya cara untuk membuat hati runtuh. Tanpa pikir panjang, akhirnya saya memutuskan untuk memesan bukunya.
Saat bukunya tiba, jujur saja saya langsung membukanya dan mulai membaca. Rasa penasaran itu terlalu besar untuk ditunda. Menurut saya, buku ini tipe yang bisa dilahap dalam sekali duduk. Tanpa terasa, halaman demi halaman berlalu, dan tiba-tiba saja sudah sampai di bagian jauh.
Ceritanya mengalir begitu saja, membuat pembaca mudah tenggelam di dalamnya. Tapi waktu itu saya sengaja tidak menghabiskannya sekaligus. Saya ingin menikmatinya perlahan, supaya tidak cepat berakhir.
Novel ini berada dalam genre drama keluarga dengan sentuhan romansa dan realisme sosial. Tema utamanya sangat dekat dengan kehidupan, yaitu perjuangan keluar dari kemiskinan, pentingnya pendidikan, dan pengorbanan orang tua. Isu yang diangkat terasa relevan, terutama di tengah realitas masyarakat yang masih berhadapan dengan kemiskinan struktural.
Buku ini sebenarnya tidak melulu soal kesedihan. Tenang saja, ada jeda-jeda ringan yang membuat napas sedikit lega, walaupun mungkin hanya sebentar.
Kelebihan utama novel ini terletak pada alur yang mengalir, bahasa yang mudah dipahami, serta emosi yang dibangun secara perlahan namun kuat. Struktur per episode juga membuatnya nyaman dibaca, bahkan bisa selesai dalam sekali duduk.
Novel ini mengisahkan perjalanan hidup Zenna dan Asrul sejak kecil hingga dewasa. Zenna, anak tengah dari sebelas bersaudara, harus menghadapi kerasnya hidup setelah ayahnya meninggal dan meninggalkan janji yang tak sempat ditepati, yakni membelikan sepatu baru. Ia tumbuh menjadi sosok mandiri yang bekerja keras demi pendidikan dan keluarganya.
Di sisi lain, Asrul hidup dalam keluarga yang terpecah. Bersama Umi dan adiknya Irsal, ia berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Ia menemukan harapan melalui dunia tulis-menulis, terutama dari koran Harian Semangat yang mengubah hidupnya.
Keduanya dipertemukan oleh takdir, dipisahkan oleh keadaan, lalu kembali bertemu dalam perjuangan yang lebih besar. Dari kuliah yang penuh keterbatasan, pekerjaan sambilan, hingga akhirnya menikah dan membangun keluarga, hidup mereka tidak pernah benar-benar mudah.
Berbagai ujian datang silih berganti. Mulai dari kemiskinan, bencana, tanggung jawab keluarga, hingga kehilangan orang tercinta. Namun Zenna dan Asrul terus bertahan, saling menguatkan, dan perlahan mengubah hidup mereka.
Tingkah Asrul sebagai konsultan surat cinta benar-benar jadi bagian yang menghibur. Bahkan ada momen-momen yang membuat saya tertawa lepas. Rasanya kalau membaca buku ini di tempat umum, mungkin orang lain akan bingung melihat ekspresi yang berubah-ubah. Dari terharu, lalu tertawa, lalu diam lagi. Emosi benar-benar diaduk tanpa ampun. Dan tidak bisa dipungkiri, sosok Zenna juga digambarkan sebagai perempuan yang luar biasa kuat.
Buku ini memang menyimpan banyak kesedihan, tetapi di saat yang sama, ia juga sarat makna dan pelajaran hidup. Bahasanya sederhana, mudah dipahami, dan cara penyampaiannya menarik. Menggunakan sudut pandang ayah dan ibu secara bergantian. Untuk ukuran pengalaman pertama membaca karya J.S. Khairen, buku ini benar-benar meninggalkan kesan yang dalam.
Rasanya, ini bukan sekadar buku yang dibaca lalu selesai. Ini adalah cerita yang perlu dirasakan, setidaknya sekali seumur hidup.
Kisah mereka bukan hanya tentang bertahan, tetapi tentang bagaimana cinta, kerja keras, dan doa mampu mengubah nasib, meski harus ditempuh dengan jalan yang panjang dan berliku.
Baca Juga
-
Kisah Cinta, Kutu Buku, dan Petualangan Surealis: Review Jagat Rajawali Karya Eko Darmoko
-
Honor Pad X10 Mini Mengandalkan Layar 90 Hz, Bodi Metal, dan Baterai untuk Aktivitas Seharian
-
Tecno Spark 50S 5G Resmi Meluncur, Ponsel Terjangkau dengan Fitur FreeLink yang Menarik
-
Huawei FreeClip 2 Dual Color Rilis: TWS Unik dengan Desain Jepit Telinga dan Baterai Awet
-
Dompet Ayah Sepatu Ibu: Novel yang Membuat Saya Lebih Menghargai Perjuangan Orang Tua
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Cerpen Lotre dalam Buku Lotre dan Cerita-Cerita Lainnya
-
Review Laut Bercerita: Ketika Luka Sejarah Menolak Tenggelam dalam Ingatan
-
Review Film The Doll Ghawiah: Misteri Boneka Berdarah Paling Menakutkan!
-
Review Buku The Hate U Give: Suara Saksi Seseorang yang Tak Mau Diam
-
Ulasan Novel Loversation: Belajar Menerima Diri dan Berdamai dengan Masa Lalu
Terkini
-
Suho EXO dan Park Hee Soon Jadi Ayah-Anak di Film Aksi A Father's Secret
-
Prediksi Liverpool vs Arsenal: The Gunners Dibayangi Rekor Buruk di Anfield
-
Negara Minta Inovasi, tetapi Pelaku Agribisnis Justru Dipersulit
-
Rayakan 20 Tahun The Black Parade, MCR Rilis Film Pendek Prelude to The End
-
Fenomena Tren Hopping: Ambisi Kekinian yang Merusak Identitas Diri