Hayuning Ratri Hapsari | Athar Farha
Poster Film Kupilih Jalur Langit (Instagram/mdpictures_official)
Athar Farha

Satu hal bikin Film Kupilih Jalur Langit yang rilis sejak 23 April 2026 cukup dapat dinikmati, itu bukan semata-mata ceritanya, tapi cara film ini ‘berbicara’ tanpa banyak kata. 

Disutradarai Archie Hekagery dan diproduksi oleh MD Pictures, film ini diangkat dari kisah viral TikTok akun @Elizasifa, lalu dikembangkan dalam naskah yang digubah Hanan Novyanti. 

Sebenarnya film ini punya cerita yang nggak benar-benar baru. Tentang taaruf, pernikahan, dan ujian setelah akad. Nah, menariknya, bagaimana sesuatu yang biasa dikemas jadi terasa cukup emosional. Penasaran? Lanjut kepoin, yuk!

Film ini mempertemukan Zee Asadel sebagai Amira dan Emir Mahira sebagai Ustaz Furqon. Dua karakter yang secara konsep sudah menjanjikan konflik: perempuan muda dengan sejuta harapan pada sosok ustaz yang diidolakan sejak lama, dan laki-laki yang rupanya menjaga jarak setelah menikah. Mereka dipersatukan dalam perjodohan. Momen yang seharusnya manis, tapi malah dingin. Harusnya hangat, tapi terasa seperti ada tembok nggak kasatmata di antara mereka.

Di titik ini, filmnya cukup relate karena hubungan yang gagal bukan selalu karena nggak cinta, tapi seringnya karena nggak tahu cara menyampaikan cinta itu sendiri.

Hal menarik lainnya, bagaimana film ini main di wilayah visual, terutama lewat warna. Kedengarannya sepele, tapi sebenarnya itu sangat menarik. Amira sering banget muncul dengan warna merah, dan itu bukan kebetulan. Merah di sini terasa hidup, hangat, dan berenergi. Kayak perasaan Amira yang tulus, yang ingin mencintai tanpa setengah-setengah. Ada gairah, ada harapan, ada keberanian untuk membuka diri.

Sebaliknya, sosok Dara (Ratu Rafa), yang jadi bagian masa lalu Furqon, lebih sering dibalut warna biru. Dan biru di sini bukan cuma soal ‘tenang’, tapi juga terasa jauh. Dingin. Seolah-olah ada ruang yang nggak bisa disentuh. Tanpa perlu banyak dialog, kita langsung paham: Amira adalah ‘sekarang’ yang ingin tumbuh, sementara Dara adalah ‘masa lalu’ yang masih menggantung.

Aku suka cara film ini nggak terlalu cerewet menjelaskan perasaan. Lebih memilih ‘‘menunjukkan’ ke penonton. Menurutku itu langkah yang cukup berani, apalagi untuk film dengan genre religi-romantis yang biasanya cenderung verbal.

Eits, bukan berarti film ini tanpa kekurangan. Secara konflik, jujur saja terasa cukup aman. Bahkan mungkin terlalu aman. Kecurigaan Amira soal Furqon, apakah ada wanita lain, atau ada hal lain yang disembunyikan, sebenarnya punya potensi untuk digali lebih dalam. Namun filmnya memilih jalur yang lebih halus dan lebih menjaga, mungkin supaya tetap sesuai dengan nilai-nilai yang ingin diangkat.

Di satu sisi, itu bisa dipahami. Namun, di sisi lain, aku sempat merasa konflik batinnya kurang nendang. Kayak ditahan terus, padahal penonton sudah siap diajak lebih jauh.

Untungnya, kekosongan itu sedikit tertolong atmosfernya. Pengambilan gambar di Malang dan Surabaya memberi nuansa yang adem, nggak berisik, dan cukup mendukung tema reflektif yang dibawa film ini. Apalagi ketika sampai di lokasi seperti Air Terjun Coban Rondo, yang secara visual cantik, tapi juga punya aura ‘jarak’ yang cocok dengan hubungan Amira dan Furqon.

Selain dua pemeran utama, film ini juga didukung Adit Erwanda, Neneng Wulandari, Irgi Fahrezi, Surya Saputra, dan Putri Ayudia. Kehadiran mereka memang nggak semuanya dominan, tapi cukup memberi warna tambahan di cerita yang sebenarnya cukup intim dan fokus pada dua karakter utama.

Kalau aku harus merangkum, Film Kupilih Jalur Langit ini bukan film yang akan bikin kamu terpukul hebat atau overthinking semalaman. Secara keseluruhan, ini film yang sederhana tapi punya niat baik. Nggak sempurna, tapi tulus. Di tengah banyaknya drama yang terlalu ‘berisik’, film ini berjalan santai dalam hal membuai penonton. 

Sudahkah Sobat Yoursay nonton Film Kupilih Jalur Langit? Bila belum, buruan ke bioskop sebelum filmnya turun layar. Selamat nonton ya.