Hayuning Ratri Hapsari | Ryan Farizzal
Poster film Mother Mary (IMDb)
Ryan Farizzal

Studio A24 kembali membuktikan diri sebagai rumah produksi yang berani mengeksplorasi batas-batas genre. Melalui tangan dingin sutradara David Lowery (The Green Knight, A Ghost Story), Mother Mary hadir bukan sekadar sebagai drama musikal biasa, melainkan sebuah penyelaman psikologis yang intens ke dalam gelapnya dunia ketenaran, hubungan toksik, dan pencarian jati diri yang menyakitkan.

Bagi penonton di Indonesia yang telah menantikan kolaborasi akting antara peraih Oscar Anne Hathaway dan talenta brilian Michaela Coel, penantian tersebut telah berakhir. Film Mother Mary resmi tayang di bioskop-bioskop Indonesia mulai 24 April 2026.

Antara Panggung Megah dan Ruang Gelap Masa Lalu

Salah satu adegan di film Mother Mary (IMDb)

Mother Mary mengisahkan tentang Mary (Anne Hathaway), seorang ikon musik pop global yang berada di puncak kariernya namun sekaligus di ambang kehancuran mental. Dikenal dengan persona panggung yang megah dan pengikut setia yang hampir memujanya seperti sosok religius (sesuai dengan nama panggungnya), Mary justru merasa terasing dari identitas aslinya.

Setelah mengalami krisis eksistensial yang nyaris menghancurkan tur dunianya, Mary memutuskan untuk menepi. Ia mencari cara untuk menemukan kembali suaranya melalui kolaborasi dengan Sam Anselm (Michaela Coel), seorang perancang busana avant-garde yang juga merupakan mantan sahabat dan kekasihnya di masa lalu.

Akan tetapi, pertemuan ini bukanlah reuni yang manis. Sam masih membawa luka mendalam dari hubungan mereka yang penuh gejolak bertahun-tahun silam. Di sebuah lokasi terpencil yang menjadi latar utama penciptaan karya-karya terbaru mereka, batas antara profesionalisme, obsesi artistik, dan trauma pribadi mulai kabur. Mary tidak hanya harus menghadapi tekanan industri musik, tetapi juga bayang-bayang masa lalu yang ia coba kubur melalui ketenaran.

Review Film Mother Mary

Salah satu adegan di film Mother Mary (IMDb)

Kekuatan utama film ini terletak pada dinamika antara Hathaway dan Coel. Anne Hathaway memberikan penampilan yang mungkin paling mentah dalam kariernya. Sebagai Mary, ia berhasil menunjukkan dualitas yang kontras: keanggunan seorang diva saat berada di bawah sorotan lampu flash, dan kerapuhan seorang wanita yang hancur berkeping-keping saat pintu kamar tertutup. Hathaway tidak takut terlihat berantakan, baik secara visual maupun emosional. Di sisi lain, Michaela Coel tampil sangat tenang namun mematikan. Perannya sebagai Sam adalah jangkar sekaligus badai bagi Mary. Coel memberikan kedalaman pada karakter yang merasa dimanfaatkan oleh sistem ketenaran Mary, namun tetap tidak bisa melepaskan keterikatan emosionalnya. Chemistry keduanya menciptakan ketegangan yang bisa dirasakan aku dan penonton yang lain, seperti kabel listrik yang siap putus kapan saja.

Kehadiran Hunter Schafer sebagai asisten Mary dan FKA Twigs (yang juga berkontribusi pada musik) menambah tekstur pada dunia Mother Mary, memperlihatkan bagaimana lingkaran di sekitar seorang bintang besar sering kali terdiri dari orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri demi menjaga sang matahari tetap bersinar. David Lowery menggunakan pendekatan yang sangat atmosferik. Kalau kamu mengharapkan film musikal dengan struktur blockbuster yang ceria, Mother Mary akan mengejutkanmu. Film ini lebih dekat dengan genre psychological thriller. Lowery menggunakan rasio aspek yang intim dan sinematografi yang kaya akan kontras antara cahaya panggung yang membutakan dan bayangan hutan atau interior bangunan yang gelap.

Kalau boleh jujur, kurasa setiap adegan dirancang untuk membuat penonton yang lain termasuk aku merasa tidak nyaman, mencerminkan kegelisahan batin Mary. Penggunaan musik dalam film ini juga sangat unik. Lagu-lagu yang ditulis oleh Jack Antonoff dan Charli XCX tidak hanya berfungsi sebagai pengisi soundtrack, tetapi sebagai dialog emosional. Musiknya terasa modern, megah, namun memiliki lirik yang menyayat hati—sebuah metafora sempurna bagi kehidupan seorang bintang pop. Ada pesan kuat yang disematkan Lowery tentang bagaimana publik mengonsumsi penderitaan artis. Mary diperlakukan seperti martir; semakin ia menderita, semakin indah karya yang ia hasilkan, dan semakin besar pemujaan dari penggemarnya. Judul Mother Mary sendiri merupakan sindiran tajam terhadap beban suci yang diletakkan masyarakat di bahu para wanita di industri hiburan.

Mother Mary bukan sekadar film tentang musik, melainkan studi tentang kekuasaan dan kepemilikan. Siapa yang memiliki tubuh seorang artis? Siapa yang memiliki narasi masa lalu mereka? Melalui interaksi Mary dan Sam, kita akan diajak melihat betapa mahalnya harga sebuah kesuksesan jika dibayar dengan kejujuran diri sendiri. Visualnya yang memukau dipadukan dengan performa akting kelas atas menjadikan film ini salah satu rilisan A24 yang paling berkesan tahun ini. Ini adalah jenis film yang akan kamu bicarakan berjam-jam setelah keluar dari bioskop, mencoba membedah setiap metafora dan akhir cerita yang ambigu tetapi memuaskan.

Bagi para penikmat film di tanah air, Mother Mary sudah bisa disaksikan di jaringan bioskop seperti Cinema XXI, CGV, dan Cinepolis mulai Jumat, 24 April 2026. Mengingat gaya penceritaannya yang artistik dan beberapa adegan yang intens secara emosional, film ini sangat aku rekomendasikan untuk ditonton di layar lebar agar kamu bisa merasakan pengalaman audio-visual yang maksimal, terutama pada bagian konser dan momen-momen sunyi yang penuh ketegangan.

Jadi kesimpulannya, Mother Mary adalah sebuah mahakarya modern yang menggabungkan kemegahan industri pop dengan kebusukan di balik layarnya. Anne Hathaway memberikan penampilan kaliber Oscar yang akan sulit dilupakan. Pastikan kamu tidak melewatkan salah satu film terbaik tahun 2026 ini di bioskop terdekat. Persiapkan dirimu untuk sebuah perjalanan emosional yang liar, indah, dan menghantui! Rating pribadiku: 7.5/10.