Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) periode 2025, Tiyo Ardianto, tidak hanya dikenal sebagai aktivis muda yang vokal dan kritis. Ia juga tercatat pernah terjun ke dunia seni peran dengan membintangi film pendek berjudul Mata Jiwa pada tahun 2017 lalu.
Film berdurasi 28 menit yang diproduksi oleh Omah Dongeng Marwah ini bukan sekadar panggung akting bagi anak-anak daerah, melainkan sebuah kritik sosial yang tajam yang dibungkus dengan sangat polos dan menyentuh–mengenai potret getir penggusuran lahan di Jakarta.
Film ini disutradarai oleh Tsaqiva Kinasih Gusti dan dibintangi oleh jajaran aktor berbakat, di antaranya Radian Pasha Bimantara (sebagai Jiwa), Edy Supratno (Bapak Jiwa), Ulin Naufalin Noor (Ibu Jiwa), Tiyo Ardianto (Aiman), serta Katiyono (Bapak Aiman).
Ironi di Balik Ilusi Penglihatan Jiwa
Pada menit pertama hingga keenam, film ini menyoroti kehidupan keluarga Jiwa yang hidup sangat sederhana dan serba terbatas di permukiman kumuh ibu kota. Tujuan mereka tinggal di Jakarta hanya untuk bertahan hidup dan mencari nafkah.
Meskipun begitu, permukiman yang ditinggali itu terletak persis di sebelah bangunan hotel mewah. Apalagi, keluarga Jiwa telah mendapatkan surat pemberitahuan bahwa tempat tinggal mereka akan segera digusur untuk perluasan pembangunan hotel.
Isu penggusuran ini memicu kekhawatiran besar bagi warga setempat karena tidak semua orang memiliki KTP Jakarta untuk mendapatkan kompensasi rumah susun (rusun) dari pemerintah, termasuk keluarga Jiwa yang juga sedang dilanda kecemasan.
Dari berbagai keterbatasan itu, di satu sisi Jiwa bermimpi ingin melihat bintang meski matanya rabun. Dongeng “Bintang Kejora” yang diceritakan oleh bapaknya sebelum tidur membuat dirinya bersikeras di malam hari untuk menemukan bintang melalui lubang paku kecil di lembaran atap seng rumah bedengnya.
Suatu ketika, Jiwa berhasil melihat bintang. Ia sangat senang dan memberitahu orang tuanya. Ketika dilihat oleh bapaknya, ternyata itu bukanlah bintang, melainkan kelap-kelip lampu bangunan hotel megah yang berdiri tepat di sebelah rumah.
Keberadaan lampu hotel tersebut menjadi simbol ironi yang sangat pahit. Sumber cahaya yang dianggap sebagai bintang justru berasal dari bangunan megah yang pada akhirnya menggusur dan menghancurkan ruang hidup keluarganya sendiri.
Simbol Persahabatan yang Terenggut Ekskavator
Jiwa memiliki sahabat dekat bernama Aiman. Mereka memiliki nasib yang sama karena rumahnya terancam digusur. Aiman memberikan gelang manik-manik dan sebuah bibit pohon jati kecil kepada Jiwa sebagai simbol harapan agar persahabatan mereka tetap tumbuh kuat dan berakar kokoh.
Walau nantinya mereka akan terpisahkan oleh keadaan, pemberian Aiman itu diharapkan mampu menjadi pengingat Jiwa bahwa mereka berdua pernah terjun di kehidupan dengan nasib yang sama. Namun, setelah penggusuran itu terjadi, Jiwa kehilangan jejak orang tuanya karena terjatuh saat melarikan diri.
Aiman kemudian menolongnya di saat situasi kian mencekam, lalu membawa Jiwa untuk berlindung sementara bersama keluarganya. Sementara itu, orang tua Jiwa terus mencari keberadaannya hingga akhirnya mereka bertemu di pom bensin. Alhasil, keluarga Jiwa memutuskan kembali ke Kudus, sedangkan keluarga Aiman pulang ke Medan yang di mana persahabatan mereka kini dibatasi oleh jarak dan waktu.
Esensi Seni Peran dalam Jiwa Tiyo Ardianto
Keterlibatan Tiyo Ardianto dalam film Mata Jiwa tidak hanya sebagai rekam jejak masa kecil, melainkan sebuah ruang tumbuh rasa empati yang membentuk nalar kritisnya. Menghidupkan karakter Aiman tampaknya telah menanamkan kepekaan sosial yang mendalam sejak dini dalam diri Tiyo.
Pengalaman ini seolah menjadi kompas moral bagi langkah hidupnya. Tidak mengherankan jika kini emosi dan keresahan sosial yang dulu ia perankan di depan kamera, kini bertransformasi menjadi aksi nyata yang vokal di mimbar perjuangan mahasiswa sebagai Ketua BEM UGM 2025.
Terlebih lagi, karakter yang diperankan olehnya secara tidak langsung menyinggung kebijakan pemerintah yang tidak peduli pada rakyat miskin. Hanya karena mereka tidak memiliki kartu identitas, penggusuran itu dilakukan tanpa adanya bantuan sedikit pun yang digelontorkan, termasuk bantuan untuk menyediakan tempat tinggal.
Baca Juga
-
Anak Krakatau Meletus, Kenapa Bandara Soetta Ditutup tapi Kapal Penyeberangan Tetap Buka?
-
Kuliah Umum FPIPS UPI Gebrak Semangat Mahasiswa: Jangan Jadi Mahasiswa Kupu-Kupu!
-
Solusi Pamungkas Masalah Bangsa: Ganti Pemimpin atau Tukar Tambah Rakyat?
-
Esai 1.000 Kata Wajib 10 Sumber: Ketika Kuantitas Membunuh Analisis Kritis
-
Andai Satwa bisa Bicara: Rumah Kami Berapi Bukan karena Takdir Tuhan
Artikel Terkait
Ulasan
-
Kisah Orang Tua yang Berjuang untuk Pendidikan Anak di Novel Ibuk
-
Review Film Get Out: Saat Rasisme Dikemas Menjadi Teror yang Mencekam
-
Kupas Lagu Teh Hijau Tulus, Sulitnya Mencari Rasa yang Hilang
-
Tak Seindah Ekspektasi: Novel 'Sisi Tergelap Surga' Buka-bukaan Fakta Pahit Kerasnya Jakarta
-
Land Maggie OFarrell: Ketika Tanah Menyimpan Luka dan Sejarah
Terkini
-
Membongkar Ketimpangan Patriarki Tanpa Harus Membenci Laki-Laki, Bisakah?
-
Anti Sumpek dan Lengket, Ini 4 Andalan Moisturizer Lotion untuk Kunci Hidrasi Wajah
-
Jangan Asal Ikut-ikutan Resign! Beda Kasta Antara Privilege Finansial dan Perjudian Ekonomi
-
5 Peptide Sheet Mask untuk Samarkan Garis Halus dan Bikin Kulit Kenyal
-
Di Balik Lucunya Anak Ayam Warna-warni: Nyawa Rentan yang Dijadikan Mainan Murah