Kalau dipikir-pikir, cukup jarang bagi saya menemukan kumpulan cerpen dengan pembahasan seperti di buku Malam Terakhir karya Leila S. Chudori.
Dalam sembilan cerpen yang disajikan, mulai dari Paris hingga Malam Terakhir, kita diajak menyelami berbagai lapisan persoalan. Dari relasi personal, kegelisahan remaja, hingga kritik sosial yang tajam terhadap praktik kekuasaan dan moralitas.
Yang membuat buku ini menonjol bukan hanya tema-temanya yang berani, tetapi juga cara Leila meramunya. Ia membuat setiap cerpen terasa seperti potongan puzzle yang mengajak pembaca berpikir, meraba makna, bahkan sesekali mengernyitkan dahi.
Isi Buku
Cerpen pembuka, Paris, Juni 1988, langsung menghadirkan atmosfer yang kontras. Paris, yang selama ini dikenal sebagai kota romantis, justru digambarkan dingin dan tidak ramah. Melalui sudut pandang seorang gadis, kebebasan yang ditawarkan kota itu terasa menakutkan, bukan membebaskan.
Di sini, Leila seolah ingin mengatakan bahwa kebebasan tidak selalu identik dengan kenyamanan. Bagi sebagian orang, kebebasan justru bisa menjadi ruang yang asing dan membingungkan.
Tema kebebasan ini berlanjut dalam Adila, cerpen yang menyoroti masa remaja sebagai fase pencarian identitas. Adila adalah potret remaja yang cerdas, penuh rasa ingin tahu, tetapi juga kesepian. Ia menemukan pelarian dalam buku-buku yang dibacanya, seolah dunia literasi menjadi ruang alternatif untuk memahami hidup.
Namun di balik itu, ada kritik halus terhadap orang tua yang abai. Bahwa pendidikan, termasuk pendidikan emosional dan seksual, tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada dunia luar.
Salah satu cerpen yang paling kuat secara tematik adalah Air Suci Sita. Di sini, Leila menggugat standar ganda yang masih hidup dalam masyarakat. Kesetiaan perempuan selalu diuji, sementara laki-laki sering luput dari pertanyaan yang sama.
Dengan mengambil inspirasi dari kisah klasik Rama dan Sita, cerpen ini menghadirkan perspektif baru yang lebih kritis dan relevan dengan konteks modern. Pertanyaannya sederhana namun mengganggu: mengapa hanya perempuan yang harus membuktikan kesetiaannya?
Sementara itu, Sehelai Pakaian Hitam berbicara tentang kepura-puraan sosial. Tokohnya terjebak dalam tuntutan untuk terlihat “baik” di mata masyarakat, hingga mengabaikan dirinya sendiri.
Cerpen ini terasa muram, tetapi justru di situlah kekuatannya. Ia mengingatkan bahwa hidup dalam topeng sosial yang terus-menerus bisa menjadi bentuk penyiksaan yang perlahan mematikan.
Dimensi emosional yang lebih intim hadir dalam Untuk Bapak. Relasi ayah dan anak digambarkan dengan begitu menyentuh, menghadirkan kesadaran bahwa orang tua pun manusia biasa. Rapuh, terbatas, dan fana. Cerpen ini seperti tamparan halus bagi pembaca yang sering lupa melihat orang tua sebagai individu, bukan sekadar figur yang “selalu kuat”.
Di sisi lain, Ilona dan Sepasang Mata Menatap Rain menghadirkan tokoh-tokoh muda yang kritis dan berani. Ilona mempertanyakan institusi pernikahan, sementara Rain menunjukkan kedewasaan berpikir yang melampaui usianya. Tokoh-tokoh ini menjadi semacam suara alternatif generasi yang tidak lagi menerima nilai-nilai lama tanpa mempertanyakannya.
Puncaknya ada pada cerpen Malam Terakhir, yang mengangkat isu kekuasaan dan ketidakadilan. Di sini, Leila menunjukkan bahwa persoalan sosial tidak pernah berdiri sendiri. Ada relasi kuasa, ada manipulasi, dan ada pertanyaan-pertanyaan yang sering kali tidak pernah dijawab. Cerpen ini mengikat tema-tema sebelumnya dalam satu refleksi besar tentang masyarakat.
Kelebihan dan Kekurangan
Secara keseluruhan, Malam Terakhir adalah kumpulan cerpen yang kaya, kompleks, dan menantang. Bahasa yang digunakan Leila penuh metafora, kadang terasa padat, bahkan tidak selalu mudah dicerna.
Meski demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa pengemasan beberapa cerpen terasa kurang mulus. Ada bagian-bagian yang membuat pembaca harus berhenti sejenak untuk memahami alurnya.
Malam Terakhir memantulkan realitas sosial, kegelisahan personal, dan pertanyaan-pertanyaan yang sering kita hindari. Dan seperti cermin pada umumnya, memang tidak selalu menampilkan hal yang indah.
Identitas Buku
- Judul: Malam Terakhir
- Penulis: Leila S. Chudori
- Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
- Tahun Terbit: 2018
- ISBN: 9786024248239
- Tebal: 177 Halaman
- Kategori: Antologi Cerpen
Baca Juga
-
Belajar Tenang ala Buddhis di Buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3
-
Jadi Guru Gak Boleh Nanggung! Seni Menjadi Guru Keren ala J. Sumardianta
-
Buku Sebelum Aku Tiada: Suara-Suara Kecil dari Tanah yang Terluka
-
Biaya Tak Tertulis Sekolah Gratis: Catatan Sunyi dari Meja Operator
-
Dari Gelanggang Silat ke Beasiswa Juara, Spirit Mimpi Guru Matematika!
Artikel Terkait
Ulasan
-
Masih Adakah Ruang bagi Sasa? Menggugat Stigma Waria dalam Pasung Jiwa
-
Belajar Tenang ala Buddhis di Buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3
-
Jadi Guru Gak Boleh Nanggung! Seni Menjadi Guru Keren ala J. Sumardianta
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Review Film Mother Mary: Balutan Estetika A24 dalam Tragedi Musikal Modern
Terkini
-
Ketika Prestasi Tidak Menjamin Jalan Pendidikan Menjadi Lebih Mudah
-
Selamat! Ningning aespa Terpilih Jadi Global Brand Ambassador Terbaru Gucci
-
Rayakan 10 Tahun Solo, Tiffany Young Rilis Lagu Baru Summer's Not Over
-
Bikin Glowing! 5 Tone Up Cream Vitamin C untuk Mencerahkan Kulit
-
Kang Dong Won Berpeluang Bintangi Film Sejarah Baru The Extermination