Pagi itu, kami berangkat dari Ledokombo dengan perasaan ringan, seolah hari sudah menjanjikan sesuatu yang berbeda. Bersama istri dan anak, perjalanan menuju Pantai Cemara terasa seperti petualangan kecil keluarga. Jalanan berliku khas Jember kami lalui dengan santai, sesekali berhenti untuk sekadar meregangkan kaki atau membeli camilan di pinggir jalan.
Perjalanan sekitar dua setengah jam itu tidak terasa melelahkan. Justru sepanjang perjalanan, pemandangan sawah, perbukitan, dan desa-desa kecil memberi warna tersendiri.
Ketika memasuki jalur lintas selatan, suasana mulai berubah. Angin terasa lebih kencang, dan aroma laut samar-samar mulai tercium. Ada rasa antusias yang tiba-tiba tumbuh, seperti anak kecil yang tak sabar melihat laut untuk pertama kalinya.
Wisata pantai ini berada di pinggir jalur lintas Selatan Jawa. Lokasi ini tepatnya di Jalan Lintas Selatan, Dusun Kalimalang, Desa Mojomulyo, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember Jawa Timur 68164.
Setibanya di lokasi, kami langsung disambut oleh deretan pohon cemara yang berjajar rapi, seolah menjadi gerbang alami menuju pantai. Tidak ada loket tiket, tidak ada antrean panjang. Kami hanya perlu membayar parkir, lalu bebas masuk. Kesederhanaan itu justru menjadi daya tarik tersendiri.
Parkir motor di Pantai Cemara hanya Rp5.000 dan mobil Rp10.000. Harga tiket parkir tidak pernah naik, baik itu hari biasa atau hari libur nasional.
Langkah kami menyusuri area pantai terasa teduh. Pohon-pohon cemara yang tidak terlalu besar, namun cukup rapat, menciptakan suasana sejuk yang jarang ditemukan di pantai lain. Angin berembus lembut, membawa suara deburan ombak yang berpadu dengan desir daun cemara. Anak saya tampak begitu senang berlarian di antara pohon-pohon, sementara istri saya memilih duduk santai menikmati suasana.
Hutan cemara ini sering menjadi spot foto. Foto dengan latar belakang pohon-pohon cemara tentunya menghasilkan sebuah gambar yang ciamik. Memang sesuai dengan namanya Pantai Cemara Puger. Nama cemara berasal dari pohon cemara yang ada di tempat ini, sedangkan nama puger merupakan lokasi pantai ini di Kecamatan Puger.
Di sepanjang pantai, banyak warung sederhana berdiri. Aroma rujak segar, es kelapa muda, dan gorengan menggoda selera. Kami pun berhenti di salah satu warung, menikmati kelapa muda yang dingin sambil memandang laut. Rasanya sederhana, tapi justru di situlah letak kenikmatannya.
Kawasan pantai berada di pesisir selatan Jawa. Tak heran jika karakteristik ombaknya cukup tinggi. Wisatawan dilarang untuk berenang atau mandi di laut. Bahkan, ada papan larangan bahwa pantai ini termasuk zona tsunami.
Naik Perahu di Pantai Cemara Puger
Tak jauh dari situ, saya melihat perahu-perahu kecil yang menawarkan jasa berkeliling. Tanpa pikir panjang, kami mencoba naik perahu. Tarifnya sangat murah, sekitar Rp10.000 sampai Rp15.000, jauh dari bayangan saya sebelumnya.
Kami dibawa mengelilingi genangan air di sisi pantai, bukan ke laut lepas, namun tetap menyenangkan. Anak saya tertawa riang, sementara saya menikmati momen langka itu. Kebersamaan yang sederhana, tapi penuh makna.
Namun, di balik keindahan itu, ada hal yang cukup mengganggu pikiran saya. Di beberapa sudut pantai, terutama di bibirnya, terlihat sampah berserakan. Plastik, bungkus makanan, dan sisa-sisa lainnya tampak kontras dengan keindahan alam yang seharusnya terjaga.
Saya sempat bertanya dalam hati, ini tanggung jawab siapa? Apakah karena tidak ada tiket masuk, sehingga tidak ada pengelolaan kebersihan yang maksimal? Ataukah ini murni karena kurangnya kesadaran pengunjung? Pertanyaan itu terus berputar, tanpa jawaban pasti.
Sore mulai turun, langit perlahan berubah warna menjadi jingga. Kami memutuskan untuk pulang, membawa pulang lebih dari sekadar foto atau cerita. Perjalanan kembali terasa lebih sunyi, mungkin karena masing-masing dari kami tenggelam dalam pikiran.
Pantai Cemara memberi kami dua hal sekaligus, keindahan yang menenangkan dan kenyataan yang mengusik. Ia indah, tapi belum sepenuhnya terjaga.
Baca Juga
-
Review Novel Bek: Kisah Anak Kampung yang Bertahan di Lapangan Kehidupan
-
Review Buku Cerita Buat Para Kekasih: Cinta Tak Selalu Berakhir Bahagia
-
Islam dan Lingkungan Hidup: Bumi Bukan Sekadar Tempat Tinggal
-
iQOO Pad Ultra Segera Rilis 29 September: BawaLayar OLED 8,8 Inci, Snapdragon Generasi Baru
-
Honor MagicOS 11 Resmi Hadir: Usung Liquid Glass, AI Agentik, dan Storage Space 2.0
Artikel Terkait
-
Satu Tiket, Sejuta Rasa: Kisah Nonton Film di Bioskop XXI Transmart Jember
-
5 Hari Pencarian, Pemancing Tenggelam di Payangan Ditemukan Meninggal
-
Menembus Kabut Silosanen Jember: Perjalanan yang Tak Selamanya Mulus
-
Mau Nonton Bioskop di Jember? Cek 4 Lokasi Paling Hits dan Nyaman Ini
-
Malam Seru di Kota Cinema Mall Jember, Nonton dan Kuliner yang Tak Terlupakan
Ulasan
-
Review Neagley: Drama Aksi Khas Reacher dengan Sentuhan Lebih Emosional
-
Review Buku This Book Is Seriously Silly!: Belajar Interaktif Lewat Ubur-Ubur Konyol
-
Diary of a Bee: Mengintip Kehidupan Lebah dari Sudut Pandang Matilda
-
Review Film Brave Citizen: Berani Melawan saat Semua Orang Memilih Diam
-
Ulasan Lie After Lie: Saat Kebohongan Menjadi Satu-satunya Jalan Keluar
Terkini
-
5 Sneakers Empuk yang Cocok untuk Jalan Kaki, Ada Skechers hingga ASICS
-
Dari Viral Culture ke Real-Life Culture: Eranya Gen Z Cari Pengalaman Nyata
-
Seperti Pelukan Hangat! 5 Pilihan Parfum Warm Vanilla yang Lembut di Hidung
-
Bebas Bruntusan! 4 Acne Cleansing Balm Angkat Makeup Waterproof hingga Pori
-
Mengapa Bahasa Pakar Bikin Politisi Meradang? Menjembatani Sains-Populisme