Lintang Siltya Utami | Fathorrozi 🖊️
Gedung Cinema XXI di Transmart Jember (Dok.Pribadi/Fathorrozi)
Fathorrozi 🖊️

Sore itu, langit Jember masih menyimpan sisa panas ketika saya dan istri melangkah menuju Transmart Jember. Bangunan megah itu berdiri seperti pusat keramaian yang tak pernah benar-benar sepi.

Tujuan kami sederhana, menikmati waktu bersama di Cinema XXI Transmart Jember, sebuah bioskop yang sejak lama kerap kami kunjungi.

Untuk sampai ke lantai empat, kami memilih menaiki tangga listrik. Setiap lantai terasa seperti membawa kami lebih dekat pada momen yang telah lama kami nantikan.

Eskalator Menuju Lantai 4 Cinema XXI

Eskalator menuju lantai 4 Cinema XXI Transmart Jember (Dok.Pribadi/Fathorrozi)

Alternatif lain sebenarnya tersedia, ada lift yang bergerak naik turun tanpa henti, namun eskalator memberi sensasi perjalanan yang lebih santai, seolah memberi waktu untuk membangun antusiasme sebelum film dimulai.

Sesampainya di lantai empat, suasana langsung berubah. Lobby bioskop terbentang luas, bersih, dan nyaman. Kursi-kursi empuk tersusun rapi, beberapa pengunjung duduk santai sambil berbincang atau sekadar memainkan ponsel.

Tidak ada antrean panjang di loket, karena kami sudah memesan tiket secara online sebelumnya. Rasanya praktis dan efisien, sebuah kemewahan kecil di tengah rutinitas yang seringkali melelahkan.

Harga tiket yang terjangkau, mulai dari Rp 20.000, membuat pengalaman ini terasa semakin ramah di kantong. Namun, yang paling menarik bukan hanya harga atau kemudahan, melainkan atmosfernya, perpaduan antara kenyamanan modern dan kehangatan sederhana.

Menonton Film Panggil Aku Ayah

Kursi empuk dan tertata rapi di dalam bioskop (Dok.Pribadi/Fathorrozi)

Film yang kami pilih adalah Panggil Aku Ayah. Begitu lampu meredup dan layar besar mulai menyala, suasana berubah menjadi hening penuh harap. Layarnya lebar, gambarnya jernih, dan suara yang menggelegar terasa begitu hidup. Setiap dialog, setiap musik latar, seolah menyusup langsung ke dalam perasaan.

Film ini mengisahkan Dedi dan Tatang, dua penagih utang yang hidupnya keras dan jauh dari empati. Kehidupan mereka berubah drastis ketika seorang anak kecil bernama Intan hadir sebagai jaminan utang.

Awalnya dianggap beban, Intan justru perlahan membuka sisi lembut yang selama ini tersembunyi dalam diri mereka. Dari interaksi sederhana hingga momen-momen penuh emosi, hubungan yang awalnya canggung berubah menjadi ikatan yang tulus.

Sebagai adaptasi dari film Korea Pawn, versi Indonesia ini terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Latar lokal, logat khas, serta humor yang membumi membuat ceritanya lebih mengena. Saya bisa merasakan bagaimana emosi itu tumbuh pelan-pelan dengan tidak dipaksakan, tapi justru mengalir alami hingga akhirnya menyentuh bagian terdalam hati.

Di tengah film, saya sempat melirik istri. Matanya berkaca-kaca. Saya sendiri tak jauh berbeda. Ada sesuatu dalam cerita itu yang terasa begitu manusiawi tentang kehilangan, harapan, dan arti keluarga yang tidak selalu ditentukan oleh darah.

Ketika film usai dan lampu kembali menyala, kami tidak langsung berdiri. Ada jeda hening yang kami nikmati, seolah masih ingin tinggal lebih lama dalam cerita yang baru saja kami saksikan. Keluar dari studio, suasana lobby yang terang terasa kontras dengan emosi yang masih menggantung.

Perjalanan pulang terasa berbeda. Kami tidak banyak bicara, namun keheningan itu justru penuh makna. Kadang, pengalaman sederhana seperti menonton film bisa menjadi ruang untuk merasakan kembali apa arti kebersamaan.

Dan di malam itu, di lantai empat sebuah pusat perbelanjaan di Jember, saya menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar. Kadang, ia hadir dari layar lebar, suara yang menggema, dan seseorang yang duduk di samping kita, menyaksikan cerita yang sama, merasakan hal yang sama.