Ada cinta yang datang sebentar lalu hilang begitu saja. Namun ada juga cinta yang tinggal terlalu lama, menetap diam-diam di kepala seseorang hingga bertahun-tahun. Novel The Girl Called Feeling membawa pembaca masuk ke jenis cinta kedua.
Cinta pertama yang sederhana, melelahkan, tetapi sulit dilupakan.
Diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Haru pada 2019, novel ini mengangkat kisah romansa remaja dengan nuansa nostalgia era 1990-an. Tokoh utamanya, Xiang Pu, adalah remaja biasa yang kehidupannya berubah ketika bertemu seorang gadis bernama Feeling di tempat bimbingan belajar. Sejak pertemuan itu, hidupnya seolah hanya berputar pada satu nama.
Sinopsis Novel
Secara premis, cerita ini sebenarnya sederhana: seorang laki-laki jatuh cinta pada pandangan pertama dan menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempertahankan perasaannya. Namun justru kesederhanaan itulah yang menjadi kekuatan novel ini.
Neal Wu tidak mencoba menghadirkan drama berlebihan atau konflik spektakuler. Ia memilih menggambarkan cinta remaja sebagaimana adanya. Canggung, penuh harapan, kadang memalukan, tetapi terasa tulus.
Xiang Pu digambarkan sebagai sosok yang sangat setia pada perasaannya. Ia terus mencari cara agar Feeling menyadari keberadaannya. Bahkan ketika jarak, kesibukan, dan waktu mulai memisahkan mereka, Xiang Pu tetap bertahan.
Dalam istilah populer hari ini, ia mungkin bisa disebut “bucin akut”. Namun di balik itu, ada potret seseorang yang terlalu lama hidup dalam kenangan dan kemungkinan.
Hubungan Xiang Pu dan Feeling tidak pernah benar-benar jelas. Feeling sendiri tampil sebagai karakter yang misterius dan sulit ditebak. Ia tidak sepenuhnya menolak, tetapi juga tidak pernah benar-benar membuka hati.
Ketidakjelasan inilah yang menjadi sumber konflik emosional utama novel. Pembaca ikut merasakan frustrasi Xiang Pu. Tentang bagaimana seseorang bisa terus berharap pada hubungan yang bahkan tidak pernah benar-benar dimulai.
Salah satu aspek paling menarik dari novel ini justru datang dari hubungan persahabatan Xiang Pu dengan Zi Yun. Persahabatan mereka terasa hidup dan natural, khas remaja laki-laki dengan obrolan santai, saling mengejek, tetapi tetap solid. Zi Yun menjadi penyeimbang bagi Xiang Pu: lebih realistis, lebih dewasa, dan sering mencoba menyadarkan sahabatnya dari obsesinya pada Feeling.
Di tengah hubungan yang menggantung itu, muncul karakter Zhao Yi, teman perempuan Xiang Pu yang diam-diam menyukainya. Kehadiran Zhao Yi menghadirkan dinamika emosional yang lebih dalam. Berbeda dengan Feeling yang sulit dijangkau, Zhao Yi hadir secara nyata: peduli, perhatian, dan berusaha memahami Xiang Pu apa adanya.
Kelebihan dan Kekurangan
Momen paling menyentuh dalam novel ini adalah kisah bangau kertas. Xiang Pu memiliki kebiasaan membuat origami bangau setiap kali merindukan Feeling dan jumlahnya bahkan mencapai puluhan ribu.
Ketika Zhao Yi memberinya kertas origami sebagai hadiah dan meminta satu atau dua bangau untuk dirinya, pembaca langsung memahami makna tersembunyi di balik permintaan sederhana itu. Ia tidak meminta cinta besar; ia hanya ingin dipikirkan, meski sedikit.
Sayangnya, Xiang Pu tetap terjebak pada masa lalunya. Ia sadar Zhao Yi menyukainya, tetapi hatinya sudah terlalu penuh oleh Feeling. Inilah sisi paling pahit dari novel ini: kadang seseorang begitu sibuk mengejar cinta yang jauh hingga gagal melihat orang yang benar-benar hadir di dekatnya.
Dari segi gaya penulisan, novel ini memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Dialog dan pembahasan tertentu terasa menarik karena disisipkan pengetahuan dan refleksi kehidupan. Namun beberapa pembaca mungkin merasa ritmenya terlalu lambat atau deskripsinya berlebihan.
Selain itu, nuansa terjemahan kadang terasa kaku, terutama bagi pembaca yang sensitif terhadap alur bahasa. Meski begitu, kekuatan emosional ceritanya tetap mampu menjaga keterikatan pembaca.
The Girl Called Feeling adalah cerita tentang kenangan, penantian, dan ketidakmampuan melepaskan seseorang yang sudah terlalu lama hidup di hati. Novel ini memperlihatkan bahwa cinta pertama tidak selalu berakhir bahagia tetapi justru karena itulah ia sulit dilupakan.
Identitas Buku
- Judul: The Girl Called Feeling
- Penulis: Neal Wu
- Penerbit: Penerbit Haru
- Tahun Terbit: 2019
- ISBN: 9786026682598
- Tebal: 226 Halaman
- Genre: Romance
Baca Juga
-
Misteri Berdarah di Istana Joseon: Intrik Politik dalam The Red Palace
-
108 Pendekar Melawan Kekuasaan Korup: Epik Klasik dalam Shin Suikoden I
-
Bukan Minimarket Biasa: Rahasia Mematikan dalam A Shop for Killers
-
Di Balik Thanksgiving Berdarah: Misteri Kelam Keluarga Sam Holland
-
Membaca Realitas dalam 33 Cerpen Habis Terang Terbanglah Kunang-Kunang
Artikel Terkait
Ulasan
-
Misteri Berdarah di Istana Joseon: Intrik Politik dalam The Red Palace
-
Modal Cerita Kosong, Mortal Kombat II Bukti Hollywood Salah Arah
-
108 Pendekar Melawan Kekuasaan Korup: Epik Klasik dalam Shin Suikoden I
-
Tuhan Ada di Hatimu: Menemukan Islam yang Ramah Bersama Habib Ja'far
-
Bukan Minimarket Biasa: Rahasia Mematikan dalam A Shop for Killers
Terkini
-
OnePlus Ace 6 Ultra Resmi Rilis, Usung Dimensity 9500 dan Baterai Raksasa
-
4 Brightening Serum dengan Glycolic Acid Solusi Wajah Lebih Cerah dan Halus
-
Scroll LinkedIn Terus, Kenapa Malah Jadi Insecure?
-
Bukan Sekadar Objek Politik: Saatnya Anak Muda Jadi Mitra Strategis Kawal Isu Daerah
-
Menyoal Urgensi Anggaran Sepatu Sekolah Rakyat, Apa Sebenarnya Prioritas Pendidikan Kita?