Di era digital seperti sekarang, media sosial bukan hanya digunakan untuk hiburan atau berbagi kehidupan sehari-hari. Ada juga platform yang dipenuhi tentang pencapaian, pekerjaan, hingga perjalanan karier seseorang, salah satunya adalah LinkedIn.
Awalnya, LinkedIn dibuat sebagai tempat membangun koneksi profesional, mencari pekerjaan, dan menunjukkan pengalaman kerja. Namun tanpa disadari, platform ini juga sering menjadi tempat munculnya kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
Setiap kali membuka LinkedIn, kita akan melihat banyak orang membagikan pencapaian mereka. Ada yang baru diterima kerja di perusahaan besar, mendapatkan promosi jabatan, lulus program beasiswa, menjadi pembicara seminar, hingga membagikan perjalanan sukses mereka dalam karier. Di satu sisi, hal itu memang bisa menjadi motivasi. Namun di sisi lain, tidak sedikit orang yang justru merasa tertinggal setelah melihat semua pencapaian tersebut.
Perasaan seperti “kok orang lain sudah sejauh itu?” atau “aku kapan bisa seperti mereka?” menjadi semakin umum. Apalagi bagi fresh graduate atau orang yang sedang merasa bingung dengan arah kariernya. LinkedIn yang seharusnya menjadi tempat membangun peluang kadang berubah menjadi tempat yang memicu rasa insecure.
Sebenarnya, kebiasaan membandingkan karier bukan hal baru. Manusia memang cenderung melihat kehidupan orang lain dan mengukur dirinya sendiri dari situ. Bedanya, media sosial membuat semua itu terlihat lebih dekat dan terjadi setiap hari.
Dulu mungkin seseorang hanya membandingkan diri dengan teman dekat atau lingkungan sekitar. Sekarang, lewat LinkedIn, kita bisa membandingkan hidup dengan ribuan orang sekaligus.
Masalahnya, yang terlihat di LinkedIn biasanya hanya bagian terbaik dari kehidupan seseorang. Orang lebih sering membagikan keberhasilan dibanding kegagalan. Jarang ada yang menulis tentang rasa takut saat interview, stres karena ditolak kerja berkali-kali, atau kebingungan menentukan arah hidup. Akibatnya, timeline LinkedIn terlihat seperti kumpulan orang-orang sukses yang hidupnya berjalan sempurna. Padahal kenyataannya tidak selalu begitu.
Di balik postingan tentang pencapaian, setiap orang juga punya perjuangan masing-masing yang mungkin tidak terlihat. Ada yang harus gagal berkali-kali sebelum mendapat pekerjaan impian. Ada yang terlihat sukses tetapi sebenarnya sedang kelelahan secara mental. Ada pula yang tampak terlambat dibanding orang lain, tetapi sebenarnya sedang berjalan sesuai waktunya sendiri.
Sayangnya, kebiasaan membandingkan diri sering membuat seseorang lupa melihat proses hidupnya sendiri. Fokus jadi terlalu tertuju pada pencapaian orang lain sampai lupa bahwa setiap orang punya jalan dan kesempatan yang berbeda.
Tidak semua orang memulai hidup dari titik yang sama. Ada yang punya privilege lebih besar, koneksi lebih luas, atau kondisi finansial yang lebih stabil. Karena itu, membandingkan perjalanan karier secara mentah sebenarnya tidak akan pernah benar-benar adil.
LinkedIn juga kadang membuat orang merasa harus selalu terlihat produktif. Banyak pengguna merasa perlu terus menunjukkan pencapaian agar dianggap berkembang. Akhirnya muncul tekanan untuk terlihat sukses di depan orang lain. Padahal tidak semua proses hidup harus diumumkan atau dibuktikan lewat media sosial.
Menggunakan LinkedIn sebenarnya tidak salah. Platform ini tetap punya banyak manfaat, terutama untuk mencari informasi pekerjaan, memperluas koneksi, dan belajar dari pengalaman profesional orang lain. Namun yang perlu dijaga adalah cara kita memandang isi di dalamnya.
Tidak semua pencapaian orang lain harus dijadikan standar hidup pribadi. Kadang kita hanya perlu melihatnya sebagai inspirasi, bukan alat untuk merendahkan diri sendiri. Tidak apa-apa jika perjalanan karier kita terasa lebih lambat. Tidak semua orang harus sukses di umur yang sama atau memiliki pencapaian yang serupa.
Selain itu, penting juga untuk mengingat bahwa hidup bukan perlombaan. Karier seseorang tidak bisa diukur hanya dari jabatan, perusahaan tempat bekerja, atau seberapa wah pencapaiannya di media sosial. Ada orang yang memilih pekerjaan dengan gaji besar, ada yang lebih mementingkan kesehatan mental, ada yang memilih fleksibilitas waktu, dan semuanya valid.
LinkedIn hanyalah platform, dan yang menentukan bagaimana kita meresponsnya tetap diri kita sendiri. Jika mulai merasa terlalu sering membandingkan diri dan justru kehilangan rasa percaya diri, mungkin itu tanda bahwa kita perlu berhenti sejenak dan fokus kembali pada perjalanan hidup sendiri.
Karena setiap orang punya waktunya masing-masing, dan tidak semua kesuksesan harus terlihat di layar media sosial.
Baca Juga
-
Belajar Mengambil Keputusan Lewat The Decision Book Karya Mikael Krogerus
-
Efek Domino Kenaikan BBM: Dari Ongkos Transportasi hingga Harga Sembako
-
Polemik Modifikasi Kurikulum, Kenapa Lulusan Masih Sulit Siap Kerja?
-
Durasi Musik Modern Semakin Pendek, Apakah Kreativitas Ikut Berubah?
-
Efisiensi Anggaran tapi Gaji Tetap: Apakah Masyarakat Merasakan Manfaatnya?
Artikel Terkait
-
Kenapa Banyak Orang Bertahan di Pekerjaan yang Tidak Disukai?
-
Quiet Quitting atau Self-Respect? Cara Gen Z Memandang Dunia Kerja Modern
-
Aturan Baru, Hanya 6 Jenis Pekerjaan Ini yang Boleh Dikelola Perusahaan Outsourcing
-
Ayah Kandung Syifa Hadju Tidak Hadir di Pernikahan Anaknya, Apa Pekerjaannya?
-
Realita Dunia Orang Dewasa: Bekerja Terasa Jauh Lebih Nyaman, Efek Pimpinan Baru yang Pengertian
Kolom
-
Dilema Orang Tua Cari Sekolah Anak: Negeri Rumit, Swasta Tak Ada Duit
-
Cara Saya Mengubah Kesepian Menjadi Ruang Terbaik untuk Mengenal Diri
-
Pemadaman Listrik Tanpa Pemberitahuan: Masalah Tata Kelola Pelayanan Publik
-
Sisi Lain Piala Dunia 2026: Mengapa Fanwar di Media Sosial Susah Diredam?
-
Gaya Bahasa Jakselan di Kampus yang Bikin Logika Bahasa Baku Jadi Korban
Terkini
-
Menakar Ego, Hak Cipta, dan Harmoni yang Hilang di Film Power Ballad
-
Lenovo TA410: TWS Open Ear Murah dengan Bluetooth 7.0 dan Baterai hingga 48 Jam
-
Super Iconic, 4 OOTD Grungy Hip Hop ala Woojin LNGSHOT yang On Point!
-
Tips Mengoleksi Merchandise Piala Dunia 2026 untuk Penggemar Sepak Bola
-
Pra-Acara Day of Petroleum 2026: Konservasi Penyu, Tanam Pandan, dan Bersih Pantai di Patihan